Inovasi mahasiswa UMS mengubah limbah kulit jagung menjadi Hydrozea

WARTAJOGLO, Solo - Kelembapan udara yang tinggi di dalam ruangan kerap menjadi masalah sepele namun berdampak besar. 

Bau tidak sedap, tumbuhnya jamur, hingga berkembangnya mikroorganisme berbahaya bisa muncul tanpa disadari dan berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan. 

Berangkat dari persoalan inilah, mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan sebuah inovasi hijau bernama Hydrozea.

Hydrozea merupakan hidrogel penyerap air berbahan dasar kulit jagung (zea mays), limbah pertanian yang selama ini kurang termanfaatkan. 

Inovasi ini dikembangkan oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Shyerly Fauziah Nur Rizki, Siti Nurazilla, Rajiv Tamim Wicaksana, Mia Oktafia, dan Rafeyfa Nadira Zakauha.

Kulit jagung dipilih bukan tanpa alasan. Bahan ini memiliki kandungan selulosa yang tinggi serta ketersediaannya melimpah, khususnya di wilayah pertanian seperti Sukoharjo. 

Selain ramah lingkungan, pemanfaatan limbah pertanian ini juga menjadi solusi berkelanjutan dalam mendukung konsep green technology.

“Kelembapan udara yang tinggi di dalam ruangan sering kali menyebabkan munculnya bau tidak sedap, jamur, dan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya. Kondisi ini menimbulkan ketidaknyamanan serta dapat berdampak pada kesehatan pernapasan manusia,” jelas Shyerly Fauziah Nur Rizki, Kamis 5 Februari 2026.

Ia menambahkan, selama ini masyarakat masih mengandalkan silika gel sintetis sebagai penyerap kelembapan. 

Meski efektif, bahan tersebut tidak dapat terurai secara hayati dan berpotensi meninggalkan residu kimia berbahaya jika digunakan dalam jangka panjang.

“Oleh karena itu, perlu adanya inovasi produk penyerap kelembapan berbahan dasar alami yang aman, biodegradable, dan mendukung prinsip green technology,” tegasnya.

Keunikan Hydrozea tak berhenti pada bahan bakunya. Tim peneliti menambahkan essential oil chamomile ke dalam hidrogel, yang berfungsi sebagai penyerap kelembapan alami sekaligus aromaterapi. 

Minyak esensial ini juga memberikan efek antibakteri dan antiinflamasi tanpa merusak struktur polimer hidrogel.

Penelitian ini dilakukan selama enam minggu di Laboratorium Teknik Kimia UMS. 

Prosesnya diawali dengan isolasi selulosa dari kulit jagung, kemudian dilanjutkan dengan tahap sintesis hidrogel hingga menghasilkan produk akhir yang stabil dan efektif.

Siti Nurazilla, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa Hydrozea memiliki keunggulan tambahan berupa kemampuan reusability. 

Setelah jenuh menyerap air, hidrogel ini dapat dikeringkan kembali menggunakan sinar matahari atau oven bersuhu rendah, sehingga dapat digunakan berulang kali.

“Hydrozea yang dihasilkan memiliki komposisi kimia yang sesuai, kestabilan struktural yang tinggi, dan kemampuan penyerapan kelembapan yang efektif. Hal ini menjadikannya kandidat potensial sebagai material alami penyerap kelembapan ramah lingkungan,” ungkap Siti. 

Lebih jauh, ia menyebut Hydrozea berpotensi dikembangkan sebagai Natural Air Purification (NAP), yakni alternatif alami pengganti bahan penyerap sintetis yang selama ini beredar di pasaran. //Her