![]() |
| Seorang wisudawati berjalan sambil menyapa teman-temannya usai menjalani prosesi wisuda |
WARTAJOGLO, Solo - Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Gedung Grha Sabha Buana pada Selasa, 5 Mei 2026, saat Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta menggelar prosesi wisuda.
Pada momentum kali ini, UNIBA meluluskan sebanyak 220 wisudawan, terdiri dari 185 lulusan Program Sarjana (S1) dan 35 lulusan Program Magister (S2).
Prosesi ini sekaligus menandai wisuda ke-58 untuk jenjang Sarjana dan wisuda ke-37 untuk jenjang Magister, yang mempertegas konsistensi UNIBA dalam mencetak generasi terdidik dan siap berkontribusi bagi bangsa.
Ketua Panitia Wisuda, Muhammad Fitri Budi Utomo, menegaskan bahwa capaian ini menjadi bukti nyata eksistensi UNIBA di dunia pendidikan Indonesia.
Menurutnya, wisuda bukan sekadar seremoni, melainkan simbol keberlanjutan peran universitas dalam membangun kualitas sumber daya manusia.
“Ini menjadi momen penting karena menandakan bahwa Universitas Islam Batik tetap eksis di dunia pendidikan,” ujarnya.
Ada momen spesial yang mencuri perhatian dalam prosesi kali ini. Di antara para wisudawan, terdapat dua pasang suami-istri yang berhasil menyelesaikan studi dan diwisuda dalam satu kesempatan.
UNIBA juga menunjukkan kiprahnya di level global melalui program magang internasional di Jepang.
Dari sembilan mahasiswa yang mengikuti program tersebut, satu di antaranya, Elma Putri Natasya, telah resmi diwisuda pada periode ini.
Elma mengungkapkan pengalaman berharganya selama delapan bulan di Negeri Sakura. Ia belajar tentang kedisiplinan, kemandirian, hingga memahami budaya kerja dan kehidupan masyarakat Jepang.
"Banyak pelajaran yang saya dapat yaitu tentang kedisiplinan, sikap yang mandiri di negara orang, dan mengenal budaya-budaya Jepang itu sendiri," ujarnya saat ditemui usai pelaksanaan wisuda.
Pengalaman ini tentu menjadi bekal penting bagi Elma dalam menghadapi tantangan dunia kerja global yang semakin kompetitif.
Sementara itu, dalam pidatonya yang penuh makna, Rektor UNIBA, Ipmawan Muhammad Iqbal, S.Ag, M.Ag, mengajak para lulusan untuk tidak hanya berbangga pada gelar akademik, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia mengingatkan bahwa gelar sarjana dan magister bisa menjadi berkah, namun juga dapat menjadi “kutukan” jika membuat seseorang lupa pada akar kemanusiaannya.
Menurutnya, wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan titik awal memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
“Gelar sarjana dan magister bisa membuatmu dihormati, tapi ia juga bisa menjadi kutukan apabila hanya membuat hidungmu mendongak ke atas, lupa pada tanah tempatmu berpijak,” katanya.
Ia juga mengajak para lulusan untuk menjadikan ilmu sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
“Jangan menjadi sarjana yang hanya menjadi tukang; tukang hitung, tukang ketik, tukang suruh. Jadilah intelektual Muslim yang membawa nafas rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.
Rektor menekankan tiga pesan utama bagi para lulusan yakni menjadi pembawa solusi, bukan bagian dari masalah.
Wisuda UNIBA Surakarta, Rektor: Sarjana Jangan Hanya Jadi Tukang https://t.co/A3YHadBgoh
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) May 5, 2026
Lalu mengutamakan sinergi, bukan ego pribadi, dan meningkatkan spiritualitas, sebagai fondasi menghadapi era digital yang penuh disrupsi.
Ia pun menutup dengan pesan yang menguatkan semangat para wisudawan.
“Allah tidak memanggil mereka yang mampu, Allah memampukan mereka yang mau berjuang,” tandasnya. //Bang
