TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Limbah Uang Kertas Disulap Jadi Karya Seni, Mahasiswa ISI Solo Diapresiasi BI

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat berbincang dengan salah satu mahasiswa peserta kompetisi di dekat karya kreatifnya yang menggunakan limbah uang kertas

WARTAJOGLO, Solo – Limbah uang kertas yang sudah selesai masa edarnya ternyata masih bisa memiliki nilai. 

Di tangan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, serpihan Rupiah tersebut disulap menjadi karya seni yang sarat kreativitas dan makna.

Kreativitas itu ditampilkan melalui Kompetisi Karya Seni Rupa Mahasiswa 2026 bertema “Dari Serpihan Menjadi Makna”. 

Hasil kompetisi tersebut kemudian dipamerkan di Galeri Seruni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta dan dibuka Dekan FSRD Dr. Handriyotopo, S.Sn., M.Sn., pada Rabu 30 September 2026.

Menggunakan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) dari Bank Indonesia, mahasiswa bebas mengurai, memotong, menyusun hingga meracik material tersebut menjadi karya dua dimensi, objek, instalasi maupun intermedia.

Serpihan uang yang tak lagi memiliki nilai tukar itu pun berubah menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang berbagai hal yang ada di masyarakat.

Handriyotopo mengatakan, kompetisi tersebut bukan sekadar ajang untuk mencari pemenang, tetapi menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mempertemukan gagasan dengan eksplorasi material.

“Melalui material Limbah Racik Uang Kertas, mahasiswa diajak melihat Rupiah bukan hanya sebagai alat tukar, namun sebagai benda yang menyimpan sejarah, identitas, visualitas, dan memori,” ujarnya.

Dari karya-karya yang dipamerkan, Bank Indonesia Solo memberikan penghargaan kepada empat mahasiswa dengan kategori berbeda.

Kategori Best Artwork dimenangkan oleh Yazid Ibrahimovic. Lalu kategori Best Concept diraih oleh Bagus Lintang pamungkas. Berikutnya kategori Best Material Exploration diraih Nirvana Diva Syafa. Dan kategori Best Visual / Aesthetic Achievment diraih oleh Ibnu Abbas.

Kepala Kantor Perwakilan BI Solo menyerahkan penghargaan kepada para pemenang kompetisi

Total hadiah yang disiapkan dalam kompetisi tersebut mencapai Rp10 juta.

Kepala Kantor Perwakilan BI Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat mengatakan, kolaborasi dengan ISI Surakarta menunjukkan bahwa limbah uang kertas masih dapat dimanfaatkan melalui kreativitas.

“Dari pameran ini kita bisa tahu dari yang awalnya hanya sebagai sampah, ternyata limbah racik uang kertas bisa menjadi media seni yang luar biasa,” katanya.

Menurut Dwiyanto, peluang pemanfaatannya bahkan bisa dikembangkan lebih jauh, termasuk menjadi suvenir atau produk kreatif dalam berbagai kegiatan BI.

Ia mencontohkan pemanfaatan limbah racik uang kertas sebagai bagian dari material medali pada sejumlah event maraton di daerah lain.

Terkait bahan baku yang digunakan, Dwiyanto menjelaskan bahwa yang punya limbah racik uang kertas saat ini hanya Bank Indonesia, sehingga untuk pemanfaatannya memang harus bekerja sama dengan BI.

"Tentu yang punya limbah racik cuma dari BI aja. Sehingga kalau ada dari pihak lain, tentu kita perlu jajaki lagi, kemungkinannya seperti apa gitu," tegas Dwiyanto.

Dwiyanto juga mengatakan bahwa kolaborasi yang dijalin dengan ISI Surakarta juga menjadi sarana mendekatkan mahasiswa dengan Rupiah melalui semangat Cinta, Bangga, Paham Rupiah.

Mahasiswa diajak memahami perjalanan Rupiah, mengenali karakter dan ciri keasliannya, hingga melihat bagaimana uang yang telah lusuh dan selesai masa edarnya masih bisa dimanfaatkan.

“Dengan mendekatkan teman-teman mahasiswa dengan limbah racik uang kertas, kita juga mendekatkan mahasiswa untuk bisa Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah,” ujar Dwiyanto.

Ke depan, BI Solo membuka peluang untuk memperluas kolaborasi kreatif yang lain dengan ISI Surakarta. //Sik

Type above and press Enter to search.