Dalam sembilan bulan pertama tahun 2026, total angkutan barang KAI Daop 6 mencapai 320.582 ton

WARTAJOGLO, Yogyakarta – Angkutan barang berbasis kereta api kian menunjukkan perannya dalam menopang distribusi logistik. 

Di tengah kebutuhan pengiriman barang yang terus bergerak, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta mencatat pertumbuhan tonase angkutan barang sebesar 12 persen sepanjang Januari–September 2026.

Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, total angkutan barang KAI Daop 6 mencapai 320.582 ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang tercatat sebesar 286.058 ton.

Peningkatan ini menegaskan bahwa kereta api semakin diperhitungkan sebagai salah satu moda transportasi untuk mendukung kelancaran distribusi barang, baik bagi masyarakat maupun dunia usaha.

Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengatakan pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan layanan angkutan barang sekaligus memperkuat kontribusi kereta api dalam mendukung aktivitas perekonomian.

“Peningkatan tonase angkutan barang hingga September 2026 menjadi sinyal positif bagi peran kereta api dalam mendukung kebutuhan logistik masyarakat dan dunia usaha,” ujar Feni.

Angkutan BBM Mendominasi

Di balik pertumbuhan tersebut, angkutan bahan bakar minyak (BBM) menjadi penopang utama kinerja logistik KAI Daop 6 Yogyakarta.

Sepanjang Januari–September 2026, volume angkutan BBM mencapai 286.405 ton. Jumlah ini meningkat 19,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 239.629 ton.

Sementara itu, angkutan barang hantaran paketan (BHP) juga mengalami pertumbuhan. Dari 12.751 ton pada Januari–September 2025, volumenya meningkat menjadi 14.689 ton pada periode yang sama tahun ini, atau naik 15,2 persen.

Kenaikan pada kedua kelompok angkutan tersebut menjadi bagian penting dari pertumbuhan total angkutan barang. Adapun kelompok angkutan lainnya tetap menjadi bagian dari layanan logistik KAI untuk mendukung kebutuhan distribusi berbagai sektor.

Menurut Feni, perkembangan komposisi angkutan barang tersebut terus dievaluasi sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan layanan berbasis kereta api.

Pertumbuhan volume angkutan barang tidak hanya menjadi catatan positif dari sisi bisnis, tetapi juga menunjukkan peluang yang semakin terbuka bagi kereta api dalam mendukung rantai pasok dan konektivitas distribusi antardaerah.

Moda transportasi ini memiliki keunggulan untuk mengangkut barang dalam volume besar dengan jadwal yang terencana. 

Karakteristik tersebut dapat membantu pelanggan menjaga kelancaran pengiriman sekaligus mendukung efisiensi proses distribusi.

Namun, peningkatan volume juga perlu diimbangi dengan keandalan operasional dan penguatan aspek keselamatan. Karena itu, KAI Daop 6 Yogyakarta terus berupaya menjaga kualitas layanan agar mampu memenuhi kebutuhan pelanggan secara optimal.

Feni mengatakan, pihaknya akan terus mendorong pengembangan layanan angkutan barang agar semakin kompetitif dan menjadi pilihan bagi pelaku usaha.

“Ke depan, kami berharap angkutan barang dengan kereta api semakin menjadi pilihan bagi pelaku usaha karena menawarkan layanan yang terencana, andal, dan mengutamakan keselamatan,” katanya.

KAI Daop 6 juga akan mengoptimalkan layanan melalui peningkatan keandalan operasional, penguatan koordinasi dengan pelanggan, serta penerapan aspek keselamatan dalam setiap proses pengangkutan.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga tren pertumbuhan positif sekaligus memperluas kontribusi kereta api dalam mendukung distribusi logistik dan aktivitas ekonomi. //Kls