POPULER

Prihatin Kondisi Prasasti Pasyarungga, FBM Desak BPCB Segera Lakukan Pengamanan

Prihatin Kondisi Prasasti Pasyarungga, FBM Desak BPCB Segera Lakukan Pengamanan

WARTAJOGLO, Boyolali - Ditemukan oleh seorang petani di lahan kebun tembakau miliknya beberapa waktu lalu, sebuah prasasti yang tertulis di atas sebongkah batu di tengah lahan tersebut, sedang jadi sorotan publik. Ini setelah tim pelestari cagar budaya dari Forum Budaya Mataram (FBM) meninjau keberadaan benda tersebut di wilayah Dusun Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Penelusuran lebih mendalam pun coba dilakukan oleh FBM pada Minggu (30/5) siang. Dipimpin langsung oleh sang Ketua Umum, para anggota lembaga inipun harus bersusah payah menyusuri medan yang cukup berat, untuk bisa sampai di lokasi. Hal ini lantaran keberadaan batu besar itu terletak di lereng pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah yang cukup tinggi. 

Prasasti Pasyarungga
Ketua Umum FBM, BRM Kusumo Putro menunjukkan wujud Prasasti Pasyarungga

Sesampai di lokasi, tampak batu berdiameter sekitar 1 meter persegi itu ditutupi dengan plastik hitam. Sementara di sekelilingnya tumbuh dengan subur tanaman tembakau, yang menaungi keberadaan batu itu.

Saat plastik dibuka, keberadaan guratan tulisan di atas batu itu sepintas tidak tampak. Apalagi beberapa sisi batu tersebut juga tampak terkikis. Sehingga ada beberapa huruf yang tidak jelas atau bahkan bisa dibilang hilang.

Satu persatu huruf yang tergurat di atas batu itu mulai terlihat setelah sebotol air disiramkan di atas batu. Tampak barisan huruf yang teridentifikasi sebagai huruf Jawa Kuno tergurat rapi di sisi barat batu itu. 

"Dari keterangan Mas Wahyudi (ahli Sastra Kuno) bunyi prasasti itu adalah  'swasti çāka warṣātīta 823 jyaṣṭa māsa, pañcami çukla ha wa so. kāla niki paçarūṅga'. Yang artinya  kurang lebih 'Selamat tahun 832 bulan jiasta tanggal 5 hariang wage soma tempat ini bernama Pasyarungga'. Namun tulisan berikutnya yang menunjukkan pembuat prasasti ini hilang terkikis," ujar penggiat sejarah Boyolali yang juga wakil ketua FBM, RM. Surojo.

Dari keterangan dalam prasasti itu disebutkan kata Pasyarungga sebagai nama dari tempat di mana benda itu berada. Itu artinya bahwa prasasti itu bisa juga disebut dengan nama Prasasti Pasyarungga.
Kata Pasyarungga sendiri juga disebut dalam catatan Prabu Jaya Pakuan atau Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari kerajaan Sunda, sebagai sebuah tempat untuk mengkaji agama Hindu yang berada di kaki Gunung Damalung (Merbabu). 

Upaya Pelestarian

Melihat hal ini Ketua Umum FBM BRM. Kusumo Putro, SH, MH, pun mengaku khawatir kalau akan terjadi pengikisan yang lebih banyak pada batu prasasti itu. Karenanya dia mendesak pihak terkait untuk segera melakukan penyelamatan, dengan mengevakuasi batu tersebut ke tempat yang lebih aman.

Tim FBM berusaha mengungkap keberadaan situs lain di sekitar Prasasti Pasyarungga

"Kalau kita lihat, kondisi di sekitar prasasti ini rawan longsor. Apalagi ini di tengah perkebunan warga. Yang tentu saja akan sangat rentan mengalami kerusakan akibat kelalaian manusia saat menggarap lahan. Karena itu kami meminta pihak terkait dalam hal ini BPCB segera melakukan upaya penyelamatan. Karena jangan sampai prasasti ini nantinya benar-benar rusak dan kita kehilangan informasi penting, terkait sejarah bangsa kita," ujarnya di sela-sela kesibukannya mengamati batu prasasti itu.

Hal ini ditekankan oleh Kusumo karena dari pengamatannya tampak ada coretan nomor registrasi yakni 044, yang tertera di atas batu itu. Yang berarti bahwa pihak BPCB telah mendata keberadaan batu prasasti ini. Sehingga dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi, pihak BPCB hendaknya segera memindahkan batu itu.

"Upaya penyelamatan menjadi prioritas yang harus segera dilakukan. Kalaupun misalnya ada kesulitan untuk memindahkan batu itu, karena terkendala medan yang berat. Mungkin bisa saja dengan membangun pagar pengaman yang disertai atap. Tujuannya agar melindungi batu ini dari pengikisan oleh alam ataupun perusakan oleh tangan-tangan jahil," lanjutnya.

Bagi Kusumo hal ini penting. Sebab selain nilai sejarah dari prasasti itu sangat tinggi, karena bagian dari sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Bukan tidak mungkin ada rangkaian prasasti lain di sekitar keberadaan batu itu, yang belum terungkap. Sebab sebuah guratan-guratan yang seperti membentuk pola tertentu, juga terlihat di batu yang berada di sebelah prasasti. Sehingga bukan tidak mungkin itu merupakan sebuah relief, yang melengkapi keterangan dalam prasasti.

"Tentunya kita tidak ingin sejarah peradaban nenek moyang kita dulu hilang begitu saja akibat kelalaian kita semua, terutama pihak terkait. Karena itu hendaknya pihak BPCB segera bertindak. Bukan hanya melakukan pengamanan. Tetapi juga melakukan eksplorasi lebih jauh, untuk mendalami arti keberadaan prasasti itu serta kemunkinan adanya temuan situs-situs pendukung lain di sekitarnya," pungkas pria yang juga ketua Dewan Pemerhati dan Pelestari Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) ini. //Sik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel