POPULER

IPW Soroti Praktik Mafia Obat dan Alat Kesehatan di Masa Pandemi

IPW Soroti Praktik Mafia Obat dan Alat Kesehatan di Masa Pandemi

WARTAJOGLO, Jakarta - Kebijakan PPKM darurat sangat berdampak menurunkan aktivitas ekonomi secara nasional. Mengakibatkan melemahnya daya beli karena merosotnya penghasilan masyarakat yang bekerja di sektor non esensial, esensial dan kritikal.

Indonesja Police Watch (IPW) mengapresiasi langkah Polri melakukan penindakan pada para pelaku penimbun tabung oksigen dan penjual obat-obat covid-19 diatas harga eceran tertinggi (HET). Karena, akibat perbuatan itu akan menambah kesengsaraan rakyat yang sedang sulit diterpa wabah corona, yang telah direspon pemerintah melalui kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. 

apotik
IPW menyoroti praktik mafia dalam penjualan obat dan alat-alat kesehatan di masa pandemi

"Di tengah kondisi melemahnya keuangan masyarakat itu maka menaikkan harga obat di atas HET dan menimbun oksigen adalah tindakan yang sangat tercela, melanggar hukum bahkan bisa berdampak pada kematian," ujar Sugeng Teguh Santoso, Plt Ketua IPW dalam siaran persnya Jumat (30/7).

Oleh karena itu, selain memberikan apresiasi, IPW juga berharap Polri tegas menjalankan perundang-undangan di masa pandemi dengan memproses pelanggar hukum yang tidak memiliki "sense of crisis". Sebab, wabah covid-19 masih menjadi bencana nasional sesuai Keppres 12 Tahun 2020 tentang Penetapan Bencana Non-alam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (covid-19) Sebagai Bencana Nasional.

Untuk itu, IPW memberikan masukan kepada pimpinan Polri,  pertama, penindakan Direktorat Tipideksus Bareskrim Polri menindak penjual obat diatas HET dan penimbun oksigen ini masih sebatas tindakan responsif karena adanya teriakan masyatakat. Semestinya, sesuai jargon kapolri Presisi - prediktif, responsibilitas, transparansi dan berkeadilan, IPW berpendapat, seharusnya Polri menerapkan tindakan prediktif terhadap fenomena pandemi covid 19 yang sudah hampir 1,5 tahun akan menimbulkan kelangkaan-kelangkaan obat dan oksigen yang berpotensi memunculkan niat jahat pihak-pihak tertentu yang ingin menangguk keuntungan dari masyarakat.

"Dengan mengedepankan prediktif tersebut maka dapat diperkirakan munculnya tindakan jahat dan tercela menjual obat di atas HET dan penimbunan oksigen, dapat dicegah," lanjut Sugeng.

Kedua, sampai saat ini, Polri telah mendapatkan 33 kasus dengan menetapkan 37 tersangka dari penjualan obat covid dan penimbunan oksigen. Padahal dapat diduga para tersangka itu adalah para penjual langsung yakni apotek atau bagian farmasi rumah sakit, konsumen atau masyarakat biasa.

"Kami menduga banyak apotek atau penjual obat langsung yang jumlahnya ribuan tidak tersentuh. Demikian juga penimbun oksigen tersebut, jumlahnya lebih banyak dari pelaku-pelaku yang diungkap sekarang. Apalagi, adanya diskresi pada kepolisian yang telah melakukan penggrebekan pabrik obat karena menjual harga di atas HET, pemiliknya tidak diproses hukum. Hanya disuruh membuat pernyataan untuk memasang harga normal melalui langkah restorative justice," tegas Sugeng.

Dengan adanya penangkapan dan 37 orang dijadikan tersangka tapi pemilik pabrik tidak ditersangkakan, tentu menjadi sangat diskriminatif dan mencederai rasa keadilan masyarakat. Padahal pasal yang dikenakan tidak jauh berbeda dengan penjual obat-obat covid-19 dan penimbun oksigen.

"Karena itu ketiga, Polri perlu membentuk Satgas mafia obat Covid-19 untuk memberantas permainan harga mulai dari produsen obat, distribusi sampai ke apotek dan penjual eceran. Polri sebagai penegak hukum harus netral dan tidak memihak untuk menegakkan  aturan perundang-undangan sehingga rasa keadilan dan kepuasan masyarakat terwujud," pungkasnya.//Ril

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel