TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Breaking News

Dorong Aglomerasi Solo Raya, Ketua Kadin Surakarta Ingatkan Sejarah Mataram Islam, Kenapa..?

WARTAJOGLO, Karanganyar - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surakarta telah mengambil langkah strategis dalam mendukung inisiatif aglomerasi Solo Raya.

Hal ini bertujuan untuk mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi melalui kerja sama kolaboratif dan sinergitas kegiatan ekonomi di wilayah Solo Raya, yang mencakup Kota Surakarta dan kabupaten di sekitarnya seperti Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

Ketua Kadin Surakarta, Ferry Septha Indrianto, menyatakan bahwa Kota Solo memiliki potensi luar biasa yang dapat tumbuh lebih maksimal, jika kolaborasi dan sinergi antar daerah di wilayah Solo Raya dapat dioptimalkan melalui inisiatif aglomerasi ini.

Ketua Kadin Surakarta (tiga dari kanan) dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo (dua dari kanan) berfoto bersama usai menggelar press confference

"Untuk tetap bisa berkembang, Kota Solo membutuhkan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Dan hal itu bisa diwujudkan melalui aglomerasi," jelas Ferry dalam pertemuan dengan awak media pada Sabtu 8 Juni 2024, di RM Royal Pringsewu, Karanganyar.

Bahkan Ferry juga memaparkan bahwa konsep aglomerasi dalam sejarah sebenarnya sudah pernah diwujudkan di jaman kerajaan Mataram Islam, dalam hal ini Keraton Surakarta Hadiningrat. 

Di mana saat itu keraton sebagai pusat pemerintahan benar-benar bisa menjalin kolaborasi yang baik dengan wilayah-wilayah di sekitarnya, sehingga bisa berkembang menjadi sebuah kerajaan yang besar.

"Orang tua saya selalu menekankan agar selalu belajar sejarah. Jas Merah. Dan dalam sejarahnya, aglomerasi sudah diterapkan di jaman kerajaan Mataram Islam, yakni Keraton Surakarta Hadiningrat. Bagaimana saat itu keraton menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan daerah-daerah di sekitarnya, hingga keraton benar-benar bisa maju dan berkembang. Hal itu pula yang akan terjadi saat aglomerasi bisa kita wujudkan," ungkap Ferry.

Aglomerasi juga sangat didukung oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat yang disebut bisa berperan dalam pengendalian inflasi. 

Menurut Dwiyanto, di masyarakat seringkali terjadi asimetri informasi, yang menyebabkan ketidaktahuan sebagian masyarakat di suatu wilayah terkait potensi dari wilayah daerah lain. 

"Salah satu penyebab inflasi adalah asimetri informasi. Di mana kadang-kadang, misalnya kita tidak tahu bahwa di Boyolali ada pasokan daging banyak, sementara di sini terbatas. Sehingga daging di sini harganya sangat tinggi, sementara di Boyolali sangat rendah. Nah, hal ini tidak akan terjadi bila terjadi saling kerja sama, seperti yang digambarkan dalam aglomerasi tadi. Sebab saat stok barang di sini sedikit, maka bisa menggandeng wilayah lain untuk memenuhi. Dengan begitu harga bisa stabil," urai Dwiyanto.

Karena itulah Dwiyanto berharap bahwa aglomerasi ini benar-benar bisa diwujudkan untuk kemajuan bersama.

"Mudah-mudahan ini tidak berhenti hanya di level wacana, tapi benar-benar bisa diwujudkan," tandasnya.

Kadin Surakarta sendiri dalam upaya menggerakkan ekonomi di Kota Solo adalah melalui kegiatan Solo Great Sale. 

Acara ini berhasil menarik partisipasi 23.196 pelaku usaha dan 201.375 pengguna aplikasi, serta menarik 170.399 penumpang kereta api yang memanfaatkan diskon 10% sekaligus mendapatkan poin undian. 

Data ini menunjukkan dampak signifikan Solo Great Sale terhadap perekonomian kota, baik dari sisi investasi, ekonomi kreatif, maupun pariwisata.

Selepas Solo Great Sale 2024 yang selesai pada awal Juni ini, Kadin Surakarta akan terus melanjutkan kegiatan unggulan lainnya seperti Solo Berlari (sport tourism), Peken to Peken (perdagangan), dan Helitour (pariwisata). 

Melalui berbagai kegiatan yang digelar, Kadin Surakarta tidak hanya berkomitmen untuk memberikan dampak positif terhadap perekonomian Kota Solo, tetapi juga berupaya membawa misi besar aglomerasi Solo Raya. Caranya dengan mengoptimalkan potensi setiap daerah di Solo Raya, khususnya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. //Sik

Type above and press Enter to search.

close