TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Berdayakan Para Janda, SPPG Godog Dorong Perputaran Ekonomi Warga di Polokarto

SPPG Godog dorong putaran ekonomi dengan melibatkan warga sekitar

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah tidak hanya membawa dampak pada peningkatan kesehatan dan kecukupan gizi anak-anak. 

Di sejumlah wilayah, SPPG justru menjelma menjadi penggerak ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Salah satu contohnya adalah SPPG Godog yang berada di wilayah Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

SPPG Godog selama ini dikenal sebagai dapur pelayanan yang menyuplai makanan bergizi ke sekolah-sekolah di sekitarnya. 

Namun di balik aktivitas tersebut, terdapat dampak ekonomi yang mulai dirasakan langsung oleh warga, khususnya kelompok masyarakat rentan yang selama ini kesulitan mengakses lapangan pekerjaan.

“Jadi fungsi SPPG itu tidak hanya bicara gizi. Tapi juga fungsi ekonomi masyarakat sekitar,” ungkap Sutardi, pengelola SPPG Godog saat ditemui usai memantau pelaksanaan Program Gizi BerKarsa di SDN 01 Pranan, yang digagas oleh Yayasan SMART Madani Indonesia (YASMI) pada Sabtu 10 Januari 2026.

Menurutnya, sejak awal SPPG Godog memang dirancang tidak hanya sebagai dapur produksi makanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat. 

Salah satu langkah konkret yang telah dilakukan adalah melibatkan warga sekitar, khususnya para janda yang tidak memiliki pekerjaan tetap.

“Di sini ada janda-janda yang tidak punya pekerjaan. Kebetulan sekarang sedang kerja untuk membuat makanan pendamping yang diperlukan SPPG. Kita kumpulkan, ada beberapa janda yang memang sangat membutuhkan pekerjaan dan ini sangat berarti bagi mereka,” jelasnya.

Program pemberdayaan ini telah berjalan hampir satu hingga dua bulan terakhir dan mulai menunjukkan hasil yang nyata.

“Alhamdulillah sudah mulai berjalan hampir satu bulan atau dua bulan ini, dan efeknya luar biasa,” kata Sutardi.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh para pekerja yang terlibat langsung, tetapi juga oleh lingkungan ekonomi di sekitarnya. Sutardi menyebut, keberadaan SPPG memunculkan klaster ekonomi baru di tingkat lokal.

“Jadi ini tidak hanya bicara gizi, tidak hanya bicara ekonomi, tapi klasterisasi ekonomi di daerah itu luar biasa. Putaran uang di daerah ini luar biasa. Dampak positifnya besar,” ujarnya.

Menariknya, SPPG Godog juga membuka ruang kerja bagi kelompok usia lanjut yang di tempat lain sering kali sulit diterima.

“Ini bisa nanti dilihat, ibu-ibu yang memang sudah sepuh, mungkin di tempat lain tidak diterima, tapi di sini kita terima,” tutur Sutardi.

Dalam proses produksi makanan, para ibu-ibu tersebut juga dibekali keterampilan mengolah makanan agar tetap menarik bagi anak-anak tanpa mengurangi nilai gizinya. Sutardi mencontohkan bagaimana bahan pangan sederhana diolah menjadi menu yang lebih disukai siswa.

“Anak-anak itu kalau dikasih tempe atau tahu dipotong kadang tidak dimakan. Nah, kita ajari variasinya. Tempenya dibikin nugget, sayurnya dibikin nugget, tahunya dikasih kembang, dikasih sayur supaya dimakan,” jelasnya.

Menurut Sutardi, kreativitas pengolahan makanan menjadi kunci agar program MBG benar-benar efektif.

“Yang penting faktor gizinya, karbohidratnya, vitaminnya tidak berkurang. Ini luar biasa,” tegasnya.

Keberadaan SPPG Godog pun menunjukkan bahwa program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan ekonomi lokal. 

Dengan melibatkan UMKM dan warga sekitar dalam rantai produksi pangan, SPPG tidak hanya memberi asupan gizi bagi anak sekolah, tetapi juga menghadirkan harapan dan penghidupan bagi masyarakat.

Model seperti ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain, sehingga program MBG benar-benar menjadi gerakan bersama untuk menyehatkan generasi muda, sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan dari tingkat paling dasar. //Kls

Type above and press Enter to search.