TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Gandeng JCI Solo, Pura Mangkunegaran Beri Ruang Inklusif untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Gusti Bhre menyapa salah satu anak berkebutuhan khusus yang hadir di Pura Mangkunegaran

WARTAJOGLO, Solo - Suasana Pura Mangkunegaran pada Minggu pagi, 29 Maret 2026, terasa berbeda dari biasanya. 

Hari itu menjadi momen istimewa ketika KGPAA Mangkunagoro X meluncurkan program bertajuk “Sumunar Mangkunegaran”, sebuah inisiatif untuk membuat Pura Mangkunegaran senantiasa memberi manfaat bagi masyarakat.

Yang mana salah satu programnya adalah pemberdayaan dengan memberikan ruang inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Peluncuran program ini sekaligus menjadi pembuka rangkaian peringatan Walk For Autism 2026 yang digagas oleh Junior Chamber International (JCI) Solo. 

Mengusung tema “Tour Pariwisata & Kunjungan Budaya Siswa-siswi SLB di Solo”, acara ini mengundang puluhan siswa dari berbagai Sekolah Luar Biasa (SLB) di Kota Solo. 

Didampingi orang tua dan guru, mereka diajak menjelajahi sudut-sudut Pura yang biasanya sarat protokol, kini terbuka hangat menyambut mereka.

Nama “Sumunar” dipilih bukan tanpa makna. Dalam bahasa Jawa, kata tersebut berarti “bersinar”. 

Bagi Mangkunagoro X, program ini diharapkan menjadi cahaya yang menghadirkan kehangatan, kecerahan, dan kebahagiaan, khususnya bagi mereka yang kerap terpinggirkan dari ruang publik.

“Harapannya, sinar itu bisa membawa kehangatan, kecerahan, dan kebahagiaan di hidup kita semua. Kami ingin ruang Pura ini membawa kegembiraan dan kebersamaan untuk masyarakat,” ujar Mangkunagoro X atau yang akrab disapa Gusti Bhre di sela-sela acara.

Lebih dari sekadar seremoni, kehadiran Gusti Bhre terasa begitu personal. 

Dalam balutan batik khas, ia menyapa satu per satu anak-anak, termasuk mereka yang menggunakan kursi roda. 

Interaksi hangat itu menghadirkan pesan kuat bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak diterima dan dihargai.

Baginya, kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus berangkat dari nilai kemanusiaan yang mendalam.

“Kita tidak bisa hidup sendiri. Adik-adik berkebutuhan khusus memiliki tantangan yang tidak mudah. Apa yang kita lakukan hari ini adalah upaya agar di antara kesulitan itu, ada sedikit kebahagiaan dari pengalaman di Mangkunegaran. Kita harus saling memanusiakan manusia,” ungkapnya tulus.

Para peserta pun diajak menikmati keindahan Taman Pracima hingga kemegahan Pendopo Ageng. 

Bagi banyak orang tua, momen ini menjadi pengalaman langka, di mana melihat anak-anak mereka diterima dengan tangan terbuka di lingkungan budaya sebesar Mangkunegaran.

Menariknya, peluncuran program ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke-29 Mangkunagoro X. 

Namun, ia menegaskan bahwa fokus utama tetap pada keberlanjutan program, bukan sekadar perayaan pribadi. 

Ke depan, “Sumunar Mangkunegaran” direncanakan menjadi agenda rutin dua mingguan, dengan jangkauan peserta yang terus diperluas.

“Ke depannya, siapa pun yang ingin merasakan momen-momen di Mangkunegaran, kami menerima dengan sangat terbuka. Bisa mendaftar, bisa diundang, dua-duanya kami senang,” tambahnya.

Sementara itu, Pulung Priyo Utomo selaku Local President JCI Solo 2026 menegaskan bahwa pemilihan Mangkunegaran sebagai lokasi pembukaan memiliki makna yang mendalam.

“Hari ini sangat spesial karena bertepatan dengan hari ulang tahun Kanjeng Gusti Bhre yang ke-29. Anak-anak dari ABK ini kami undang ke Mangkunegaran untuk merayakan ambal warsanipun beliau sekaligus memulai rangkaian panjang kepedulian terhadap autisme,” ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan penuh dari pihak Mangkunegaran memberi dampak emosional yang besar bagi anak-anak.

“Kami ingin anak-anak ini merasakan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat. Kehadiran Kanjeng Gusti Bhre yang menyapa langsung memberi semangat luar biasa bagi mereka,” lanjut Pulung.

Pembukaan ini menjadi awal dari rangkaian panjang kegiatan WAA 2026. Pada Hari Autis Sedunia, kegiatan akan berlanjut di SLB Negeri Solo dengan melibatkan sekitar 200 anak dalam berbagai aktivitas kreatif seperti merangkai bunga, wrapping salad, hingga ecoprinting.

“Kami tidak hanya mengadakan acara, tapi menciptakan ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kreativitas dan potensi mereka,” jelas Pulung.

Rangkaian acara kemudian berlanjut pada 11 April, saat anak-anak akan tampil di panggung Mangkunegaran Night Market. 

Puncaknya akan digelar pada 12 April melalui Walk For Autism (WFA) 2026 di Pamedan Mangkunegaran, yang diperkirakan melibatkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai kalangan.

“Puncaknya nanti akan dihadiri kurang lebih 1.000 anak di Pamedan Pura Mangkunegaran bersama masyarakat umum. Kita akan jalan sehat bersama Kanjeng Gusti Bhre, ada pentas seni, hingga promosi sekolah-sekolah SLB,” paparnya.

Tak berhenti pada kegiatan seremonial, JCI Solo juga memastikan dampak jangka panjang melalui program post-event, mulai dari pendampingan gizi, kelas psikologi, hingga pelatihan bagi guru SLB. Bahkan, karya anak-anak akan dimonetisasi agar memiliki nilai ekonomi.

Melalui rangkaian World Autism Awareness 2026, JCI Solo bersama Mangkunegaran ingin mengubah cara pandang masyarakat, dari sekadar melihat keterbatasan, menjadi menghargai potensi.

“Harapan kami, masyarakat tidak lagi fokus pada hambatan yang dimiliki anak-anak autis, tetapi melihat bakat luar biasa mereka agar kelak bisa hidup mandiri dan berdaya,” pungkas Pulung. //Bang

Type above and press Enter to search.