TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Kembali Dorong Pembangunan Patung Pakubuwono X, Ketua Umum FBM Tegaskan Manfaatnya bagi Kota Solo

Ketua Umum FBM, Dr. BRM. Kusumo Putro kembali mendorong dibangunnya patung Sinuhun Pakubuwono X di Kota Solo

WARTAJOGLO, Solo - Upaya memperkuat identitas budaya dan sejarah Kota Surakarta kembali digaungkan oleh Ketua Umum Forum Budaya Mataram (FBM), BRM Dr. Kusumo Putro, S.H., M.H. 

Ia secara tegas mendorong Pemerintah Kota hingga Pemerintah Pusat untuk segera merealisasikan pembangunan patung Pahlawan Nasional Pakoe Boewono X (PB X), sosok raja visioner yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan dan modernisasi kota.

Menurut Kusumo, pembangunan patung tersebut bukan sekadar proyek fisik, melainkan langkah strategis dalam menghadirkan simbol kepahlawanan yang hidup di tengah masyarakat. 

Ia menyebut sejumlah titik strategis yang dinilai tepat untuk lokasi pembangunan, di antaranya kawasan flyover Purwosari sebagai pintu masuk Kota Solo dari arah barat, depan Balaikota, hingga kawasan Gapura Gladak yang berdekatan dengan patung pahlawan nasional Slamet Riyadi.

Dengan penempatan yang tepat, ia berharap kehadiran patung PB X dapat berdampingan secara simbolis dengan patung Slamet Riyadi. 

Hal ini sebagai representasi dua era perjuangan yang berbeda, namun memiliki semangat yang sama dalam melawan kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

“Pembangunan patung PB X juga bisa dilakukan di tempat lain yang dinilai strategis, tidak hanya dari sisi historis dan kepahlawanan, tetapi juga berdasarkan kajian tata kota, filosofi, budaya, dan daya tarik. Sehingga akan memperkuat simbol budaya di Kota Solo,” ujar Kusumo pada Senin 30 Maret 2026.

Dorongan ini juga dilandasi oleh status Keraton Kasunanan Surakarta yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. 

Kusumo menilai, pelestarian tidak seharusnya hanya terfokus pada bangunan inti, tetapi juga mencakup kawasan pendukung yang menjadi bagian dari lanskap sejarah kota secara utuh.

Ia menegaskan bahwa usulan pembangunan patung PB X bukan tanpa alasan. 

Selain merupakan aspirasi masyarakat, langkah ini dinilai penting sebagai sarana edukasi bagi generasi muda agar lebih mengenal sosok pahlawan dari kotanya sendiri.

Bagi Kusumo, PB X bukan hanya tokoh yang berperan dalam perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga pelopor kemajuan peradaban di masanya. 

Di bawah kepemimpinannya, Surakarta mengalami percepatan modernisasi yang signifikan.

Sejarah mencatat, PB X mendirikan Solosche Electrische Maatschappij (SEM) pada 12 Maret 1901, sebuah pusat pembangkit listrik yang memasok energi ke kota, kantor pemerintahan, hingga keraton. 

Kehadiran listrik ini tidak hanya menerangi jalanan, tetapi juga mendukung operasional trem listrik sejak tahun 1912, menjadikan Solo sebagai salah satu kota paling maju setelah Batavia pada masa itu.

Di sektor ekonomi, PB X membangun Pasar Gede Harjonagoro serta mendirikan Bank Bandha Lumaksa untuk menggerakkan roda perekonomian rakyat. 

Sementara di bidang pendidikan, ia mendirikan berbagai institusi seperti Sekolah Pamardi Putri, HIS Ksatriyan, hingga Madrasah Mambaul Ulum dan menghidupkan kembali Pesantren Jamsaren.

Tak hanya itu, berbagai infrastruktur penting yang masih berdiri hingga kini juga merupakan warisan kepemimpinannya. 

Bangunan itu antara lain Stasiun Solo Jebres, Stasiun Solo Kota, Taman Sriwedari, Stadion Sriwedari, Kebun Binatang Jurug, hingga Jembatan Jurug.

Melihat kontribusi besar tersebut, Kusumo menilai pembangunan patung PB X akan menjadi bagian penting dari penguatan identitas kota, sekaligus pelengkap lanskap budaya Keraton Kasunanan Surakarta.

“Pembangunan patung PB X jelas akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan cagar budaya Keraton Kasunanan Surakarta. Manfaatnya tidak hanya memperkuat identitas dan kebanggaan nasional, tetapi juga memperkuat jati diri bangsa dalam menanamkan rasa bangga terhadap warisan leluhur,” tegasnya.

Lebih jauh, ia juga menekankan bahwa pembangunan ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan. 

"Keberadaan patung sebagai destinasi baru berpotensi menggerakkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif masyarakat lokal, hingga menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan seni budaya," tandasnya. 

Selain itu, nilai penting lain yang diharapkan muncul adalah meningkatnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman budaya sebagai fondasi persatuan bangsa. //Sik


Type above and press Enter to search.