TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Pengalaman Spiritual BRM Kusumo Putro, Ditendang Sosok Malaikat hingga Lolos dari Maut

Ilustrasi kaki malaikat menendang tubuh seorang pria

WARTAJOGLO, Solo - Di balik kiprahnya sebagai budayawan sekaligus pengacara, tersimpan pengalaman spiritual yang begitu mengguncang keyakinan BRM. Dr. Kusumo Putro SH, MH tentang kehidupan. 

Yakni sebuah perjumpaan yang ia duga melibatkan sosok malaikat, di ambang antara hidup dan matinya.

Peristiwa itu bermula saat dirinya tiba-tiba sakit hingga tak sadarkan diri di kantornya di kawasan Sriwedari Kota Solo beberapa waktu lalu.

Kondisi itu lantas mendorong teman-temannya membawanya ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. 

Dalam kondisi kritis, ia mengaku mengalami sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika.

“Saat itu saya merasa seperti sedang dalam posisi njingkrung, meringkuk seperti bayi di dalam kandungan,” tuturnya mengingat detail yang masih begitu hidup dalam ingatannya.

Dalam keadaan itu, ia merasa tubuhnya kecil, lemah, dan tak berdaya. Namun matanya justru seperti diarahkan untuk melihat ke atas. 

Di sana, ia menyaksikan sosok yang luar biasa besar, yang mana karena begitu besar hingga bagian tubuhnya tak sepenuhnya terlihat.

“Saya hanya bisa melihat dari mata kaki sampai betis. Selebihnya seperti tertutup kabut. Besarnya luar biasa. Bahkan telapak kakinya saja terasa sebesar tubuh saya,” kata pria yang juga Ketua Umum Forum Budaya Mataram itu.

Belum sempat ia memahami apa yang terjadi, peristiwa mengejutkan terjadi. Ia merasakan tendangan keras dari sosok tersebut.

“Tiba-tiba saya ditendang sambil disuruh bangun, ‘Tangi! Tangi! Tangi!’ sampai empat kali,” ungkapnya.

BRM. Dr. Kusumo Putro, SH, MH (kanan) saat bercerita tentang pengalaman spiritualnya

Sentakan itu seperti menjadi titik balik. Seketika ia tersadar—namun bukan dalam kondisi normal. Tubuhnya kejang hebat di ruang ICU. 

Tangan bergetar, kaki terangkat kaku, dan napas terasa tercekik. Ia bahkan tak mampu berbicara, hanya bisa mengeluarkan suara menggeram penuh kebingungan.

Di sekelilingnya, keluarga dan rekan-rekannya panik melihat kondisi tersebut. Dalam keadaan setengah sadar, ia merasakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. 

Secara refleks, Ketua LSM LAPAAN RI tersebut mencoba menarik selang yang terpasang di tubuhnya.

“Saya tarik selangnya, tapi tidak bisa keluar. Rasanya tersangkut. Saya panik,” ujarnya.

Seorang perawat kemudian sigap membantu, menarik selang tersebut hingga terlepas. 

Namun kejadian belum berhenti. Dalam kondisi belum sepenuhnya pulih, ia justru meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar ruang ICU.

“Saya hanya bisa bilang, ‘Opo iki? Opo iki?’ Saya tidak paham. Saya merasa kesakitan dan bingung,” kenangnya.

Tenaga medis kembali menenangkannya, membopongnya kembali ke ruang perawatan, dan secara perlahan melepas alat-alat medis yang masih terpasang. Setelah itu, barulah kondisinya mulai stabil.

Namun bagi Kusumo Putro, yang tersisa bukan hanya rasa sakit fisik melainkan kesadaran baru yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ia meyakini bahwa pengalaman tersebut bukan sekadar mimpi atau halusinasi. 

Baginya, itu adalah perjumpaan di “ruang antara”, yakni sebuah dimensi yang berada di antara kehidupan dunia dan alam keabadian.

“Saya jadi percaya bahwa ada dunia kedua dan ketiga. Ada fase di mana manusia seperti ditentukan, apakah akan kembali ke dunia atau dibawa oleh Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Tentang sosok besar yang ia lihat, ia tak berani memastikan. Namun satu kemungkinan terus terlintas di benaknya.

“Apakah itu malaikat pencabut nyawa? Saya tidak tahu. Tapi dalam kondisi seperti itu, rasanya tinggal ditarik saja, selesai,” katanya lirih.

Ia pun menyadari bahwa saat itu dirinya berada di titik kritis antara hidup dan mati. 

Menurutnya, hanya ada tiga kemungkinan yakni kembali kepada Tuhan, koma, atau mengalami gangguan berat seperti stroke. Dan ternyata takdir berkata lain, ia selamat.

“Alhamdulillah, saya kembali dalam kondisi baik,” tuturnya penuh syukur.

Pengalaman tersebut kini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. 

Bagi Kusumo kejadian itu bukan sekadar peristiwa medis, melainkan pengingat tentang batas tipis antara dunia yang terlihat dan yang tak kasatmata.

Sehingga bisa jadi sebuah pelajaran tentang kehidupan, kematian, dan kuasa yang tak bisa dijangkau oleh nalar manusia sepenuhnya. //Sik

Type above and press Enter to search.