![]() |
| Ilustrasi penangkapan Pangeran Diponegoro |
WARTAJOGLO - Hari itu, 28 Maret 1830. Bulan Syawal 1245 H baru memasuki hari ketiga. Idul Fitri baru saja berlalu, tapi aroma kemenangan tak tercium di udara Magelang.
Langit tampak mendung, menggantung rendah seolah tak kuasa menyaksikan sebuah pengkhianatan yang sedang dirajut dengan rapi di rumah Residen Kedu Fransiscus Gerardus Valck.
Pangeran Diponegoro melangkah masuk dengan tenang. Sorban putihnya masih melilit rapi, mencerminkan kejernihan niatnya.
Ia datang untuk memenuhi undangan perundingan dari Belanda. Ia datang mencari solusi damai bagi rakyatnya yang telah letih berperang selama lima tahun.
Perundingan itu tak membuahkan hasil. Belanda menginginkan penyerahan total dan menolak semua persyaratan sang Pangeran.
“Pangeran,” suara Jendral De Kock terdengar dingin dan menusuk, “perjalanan Anda berakhir di sini. Anda tidak akan kembali ke rumah, tapi ke pengasingan.”
Udara di ruangan itu mendadak sesak. Pangeran Diponegoro tertegun. Dadanya bergemuruh oleh api yang tertahan.
“Jadi, inikah cara bangsa kalian memperlakukan tamunya?” suara Pangeran rendah, namun setiap katanya berdentum seperti guntur di telinga De Kock, “kalian bicara tentang perdamaian, tapi tangan kalian menyembunyikan rantai.”
Wajah sang Pangeran memerah. Tangannya bergerak menuju keris Kiai Ageng Bondoyudo yang terselip di pinggang.
Tapi tiba-tiba ia teringat wajah para pengikutnya yang kelaparan dan rakyat yang rumahnya habis terbakar.
Jika ia menghunus keris sekarang, darah akan kembali tumpah dan rakyat yang akan membayar harganya.
Di halaman wisma Residen Magelang, ratusan pasang mata menatap lekat ke pintu besar yang tertutup rapat.
Mereka para pengikut setia sang Pangeran. Tubuh mereka penuh bekas luka perang, tapi tetap berdiri dengan takzim.
Di tangan mereka tak ada pedang atau tombak terhunus. Mereka datang dengan pakaian putih, membawa sisa-sisa doa dari sujud Idul Fitri yang baru saja berlalu. Mereka berharap hari itu adalah fajar baru bagi perdamaian, tepat di saat merayakan Idul Fitri.
Namun, ketenangan itu pecah saat derap laras sepatu serdadu Belanda tiba-tiba mengepung halaman dengan bayonet terhunus.
Suasana berubah mencekam. Ketika pintu wisma akhirnya terbuka, sang Pangeran keluar bukan membawa kabar damai, tapi berjalan pelan dengan pengawalan ketat menuju kereta kuda yang telah disiapkan sebagai jeruji berjalan.
Seketika, gumam doa berubah menjadi isak tangis yang tertahan, lalu meledak menjadi histeria yang memilukan.
"Kanjeng Pangeran…!” seorang pengikut tua jatuh bersimpuh di atas tanah.
Beberapa prajurit muda mencoba merangsek maju, tapi isyarat tangan sang Pangeran menghentikan niat mereka. Mereka tahu, sang Pangeran tak ingin ada pertumpahan darah yang sia-sia.
Kereta kuda mulai bergerak. Rodanya menggilas kerikil dengan bunyi memilukan, seolah tanah Jawa ikut merintih menyaksikan sang Pangeran dibawa pergi oleh sebuah pengkhianatan.
Pangeran Diponegoro berdiri di atas kapal Pollux yang membawanya pergi meninggalkan pulau Jawa.
Laut utara itu tampak begitu luas dan asing bagi mata yang terbiasa melihat perbukitan Menoreh.
Sejauh mata memandang hanya laut tak bertepi. Angin laut yang asin menerpa wajahnya, tapi ia tak sedikit pun menunduk.
Bagi seorang ksatria, pengasingan hanyalah perpindahan medan juang – dari pertarungan fisik menuju pergulatan batin yang jauh lebih sunyi.
Di Manado, kemudian di benteng Fort Rotterdam Makassar, Belanda mengurung Pangeran Diponegoro dalam tembok tebal, menjauhkannya dari rakyat yang memujanya.
Tapi mereka melupakan satu hal: hati yang merdeka tak bisa dikurung oleh batu dan mortar.
Di dalam kamar pengasingannya yang sempit, sang Pangeran mengganti kerisnya dengan pena. Di bawah pendar lampu minyak yang temaram, ia menumpahkan seluruh kegelisahan, sejarah, dan nilai-nilai luhur negerinya dalam sebuah memoar: Babad Diponegoro.
Belanda melihatnya sebagai pahlawan yang kesepian, tapi sejarah mencatatnya sebagai pejuang yang sedang menuliskan nasehatnya untuk generasi masa depan.
Ia menuntaskan misinya di pengasingan dan mengakhiri perjalanan hidupnya pada tahun 1855.
Cahaya yang dulu ditebar di negeri sekeping surga, kini telah melewati badai prahara yang paling hebat. Meskipun sang pembawa cahaya telah beristirahat dalam damai di tanah Makassar, pendar cahayanya tidak pernah benar-benar padam.
Pengkhianatan di Hari Raya https://t.co/VQvjkwsNEo
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) March 24, 2026
Ia tetap menyala di setiap hati yang menolak kezaliman, di setiap tangan yang menjaga amanah umat, dan di setiap doa yang dipanjatkan untuk kedaulatan bangsa.
Karena pada akhirnya, sejarah bukan tentang siapa yang memenangkan pertempuran, tapi tentang cahaya siapa yang tetap menuntun jalan dalam kegelapan. //
Penulis: Fatchuri Rosidin (Direktur PT Inspirasi Melintasi Zaman)
