TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Digelar dengan Konsep Berbeda, "Solo Photo Festival 2025" Jadi Ajang Unjuk Gigi Karya Foto Terbaik

Pameran foto SPF 2025 resmi dibuka di Kampus II ISI Surakarta

WARTAJOGLO, Solo - Kota Solo kembali membuktikan diri sebagai salah satu pusat kebudayaan dan ruang kreatif paling dinamis di Indonesia. 

Pada 10–15 November 2025, kota ini menjadi tuan rumah Solo Photo Festival (SPF) 2025, sebuah perhelatan fotografi berskala nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta. 

Mengusung tema “Cahaya Negeri: Jejak Visual dalam Proses Transformasi”, festival ini bukan hanya menjadi ajang pamer karya, tetapi juga ruang refleksi tentang makna cahaya baik secara estetika maupun simbolik dalam kehidupan bangsa.

SPF 2025 diadakan di Kampus II ISI Surakarta, dan melibatkan fotografer profesional, akademisi, komunitas kreatif, hingga masyarakat umum. 

Menggabungkan nilai akademis, partisipatif, dan kolaboratif, festival ini dirancang sebagai wadah pertemuan lintas disiplin di mana fotografi berperan sebagai jembatan antara seni, ilmu pengetahuan, dan realitas sosial.

Momentum pembukaan SPF 2025 bertepatan dengan Hari Pahlawan, Senin, 10 November 2025, yang menambah makna simbolis dari keseluruhan acara. 

Di halaman Pagoda Kampus II ISI Surakarta, dilangsungkan upacara bendera yang khidmat. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Dekan FSRD ISI Surakarta, Dr. Ana Rosmiati, S.Pd., M.Hum, sementara Johan Ies Wahyudi, S.Sn., M.Sn., selaku Koordinator SPF 2025, memimpin jalannya upacara.

Dalam amanatnya, Dr. Ana Rosmiati menegaskan bahwa semangat kepahlawanan tidak hanya dimaknai dalam konteks perjuangan fisik, tetapi juga melalui dedikasi intelektual dan kreativitas.

“Melalui fotografi, kita dapat meneladani para pahlawan dengan cara merekam, menafsirkan, dan meneruskan semangat perjuangan ke dalam karya visual yang menggugah kesadaran publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, tema “Cahaya Negeri” mengandung pesan filosofis tentang pentingnya cahaya baik sebagai sumber pengetahuan, simbol harapan, maupun pancaran kebenaran, yang perlu terus dijaga oleh generasi muda, terutama para seniman dan akademisi.

Usai upacara, seluruh peserta mengikuti arak-arakan menuju lokasi pameran di halaman depan Gedung 3 Kampus II ISI Surakarta. 

Dengan semangat kebersamaan, para dosen, mahasiswa, dan tamu undangan berjalan bersama menuju area pameran. 

Suasana meriah itu mencapai puncaknya ketika Dr. Ana Rosmiati secara simbolis memotong pita sebagai tanda resmi dimulainya rangkaian kegiatan SPF 2025.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pameran SPF 2025 disajikan dalam format luar ruangan (outdoor), menghadirkan karya-karya fotografi yang menampilkan keberagaman gaya, teknik, dan cara pandang. 

Setiap foto yang terpajang memantulkan kepekaan visual dan kedalaman refleksi para senimannya.

Ada karya yang mengabadikan kehangatan kehidupan pedesaan, ada pula yang menangkap hiruk-pikuk urban dengan narasi modernitasnya. 

Beberapa fotografer bereksperimen dengan bentuk-bentuk abstrak, menafsirkan cahaya sebagai simbol spiritualitas, identitas, dan kebebasan ekspresi. 

Permainan warna, tekstur, dan intensitas cahaya menjadikan pameran ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan juga ruang kontemplatif bagi pengunjung untuk menafsirkan kembali makna kehidupan di negeri ini.

Lebih dari itu, banyak karya yang membawa pesan sosial dan ekologis, menyoroti isu kesetaraan, keberlanjutan, serta dinamika masyarakat pasca-pandemi. 

Melalui fotografi, para peserta berupaya menunjukkan bahwa cahaya bukan hanya fenomena optik, melainkan metafora tentang pengetahuan, kesadaran, dan harapan.

SPF 2025 tidak berhenti pada pameran semata. Selama enam hari penyelenggaraan, festival ini juga menghadirkan lokakarya (workshop), diskusi akademis, dan forum publik yang melibatkan pakar fotografi, seniman, jurnalis visual, serta pegiat industri kreatif. 

Seluruh kegiatan dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga peserta aktif dalam proses belajar dan berbagi gagasan.

Anin Astiti, S.Sn., M.Sn., selaku pembina SPF 2025, menuturkan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi wadah bagi lahirnya kolaborasi lintas bidang di lingkungan ISI Surakarta dan masyarakat luas.

“SPF bukan sekadar ajang pameran foto, tetapi ruang untuk menumbuhkan semangat kreatif, memperkuat jejaring antarpraktisi, dan memperluas wawasan publik terhadap fotografi sebagai bahasa universal,” ujarnya. //Sik

Type above and press Enter to search.