TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dualisme Raja di Keraton Surakarta, Ketua KADIN Surakarta: Ancaman Iklim Investasi di Solo Raya

Konflik perebutan takhta di Keraton Surakarta disebut bisa mempengaruhi kondisi ekonomi di wilayah Solo raya

WARTAJOGLO, Solo - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menghadapi kenyataan pahit dilanda konflik internal karena perebutan takhta pasca wafatnya Sinuhun Pakubuwono XIII. 

Masalah yang kerap dianggap sebatas urusan internal keluarga ini, ternyata memiliki dampak yang jauh lebih besar dan mengancam sendi-sendi iklim ekonomi dan investasi di Kota Solo.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Surakarta, Ferry S Indrianto, secara tegas menyoroti korelasi langsung antara stabilitas Keraton dengan denyut nadi perekonomian daerah. 

Bagi dunia usaha, ketidakpastian adalah musuh utama, dan konflik di pusat marwah kota telah menciptakan "ruang abu-abu" yang kontraproduktif.

“Stabilitas Keraton memang bermula dari harmoni internal keluarga besar Keraton. Namun manfaat dari stabilitas itu dirasakan oleh seluruh masyarakat Surakarta, dunia usaha, pelaku pariwisata, hingga kawasan Soloraya,” ujar Ferry S Indrianto dalam keterangan tertulis.

Pernyataan KADIN Solo ini mencerminkan prinsip dasar investasi yakni kepastian. Investor dapat mengukur dan mengelola risiko bisnis, tetapi mereka akan menjauhi ketidakpastian sosial atau politik yang tidak terduga.

Keraton Surakarta, menurut Ferry, adalah pilar strategis yang menjadi penentu marwah dan citra kota. 

Ketika Keraton dilanda dualisme kepemimpinan dan ketegangan, reputasi Kota Solo sebagai tujuan investasi yang aman dan stabil ikut terganggu.

Ferry menyebut bahwa konflik Keraton menciptakan narasi ketidakstabilan di tingkat sosial-budaya. Bagi calon investor, hal ini diterjemahkan menjadi risiko politik dan hukum di masa depan.

Maka dari itu stabilitas Keraton yang solid perlu diwujudkan untuk menumbuhkan kepercayaan publik dan memperjelas kerangka hukum serta adat istiadat yang berlaku, yang sangat penting bagi perlindungan aset dan kelancaran investasi.

“Mengapa Stabilitas Keraton Penting? Karena stabilitas melahirkan kepastian, dan kepastian adalah modal utama pembangunan. Ketika internal Keraton solid, kepastian itu tercipta. Ketika kepastian hadir, kepercayaan publik tumbuh, hukum menjadi jelas, investasi mengalir, dan ekonomi bergerak,” ungkapnya.

Ferry menyimpulkan bahwa Solo hari ini memerlukan kerangka kepastian, bukan sekadar semangat pembangunan.

Dampak ekonomi yang paling cepat terlihat adalah pada sektor pariwisata, yang selama ini mengandalkan Keraton sebagai daya tarik budaya utama Solo Raya. 

Sebab konflik internal Keraton seringkali memicu penutupan akses, di mana ketegangan di lingkungan Keraton, bahkan hingga melibatkan aparat keamanan, sering kali memaksa Museum Keraton ditutup untuk wisatawan. 

Hal ini secara langsung menghilangkan potensi pemasukan dari tiket dan mengecewakan pengunjung yang sudah datang.

Berita konflik dan kerusuhan di Keraton juga bisa merusak citra Solo sebagai kota budaya yang damai dan tertib. 

Padahal, Keraton adalah pusat atraksi yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) besar terhadap perdagangan, perhotelan, dan UMKM di kawasan sekitar (seperti Pasar Klewer dan Kampung Batik).

Kondisi ini pada akhinya menyebabkan hambatan dalam upaya pengembangan Keraton.

Sebab konflik membuat pihak-pihak terkait, baik masyarakat Baluwarti, pelaku pariwisata, maupun pemerintah akan dibuat bingung untuk bersinergi dan menentukan siapa pemangku kepentingan yang sah untuk pengembangan aset budaya Keraton.

“Keraton yang kuat bukan hanya menggerakkan budaya, Keraton yang kuat menggerakkan ekonomi. Keraton yang tertata menguatkan perekonomian, pariwisata, dan marwah kota. Dan dari sanalah Surakarta dapat menapaki kembali kejayaannya,” terangnya.

Ferry S Indrianto menegaskan bahwa penyelesaian konflik Keraton harus merujuk pada paugeran (aturan adat) dan bukan dilempar kembali kepada masyarakat umum. Pemerintah diharapkan dapat mengambil peran untuk menjaga paugeran tersebut.

Sebab soliditas internal dan tata kelola yang profesional dan akuntabel di Keraton adalah satu-satunya jalan untuk mengembalikan kepercayaan, membuka kembali pintu pariwisata, dan menarik investasi. 

Dengan Keraton yang kuat dan stabil, Kota Surakarta akan mampu menapaki kembali masa keemasan ekonomi yang didasarkan pada perannya sebagai pusat peradaban. //Bang

Type above and press Enter to search.