![]() |
| Panitia REI EXPO 4 menggelar technical meeting dengan para peserta pameran |
WARTAJOGLO, Solo – Asosiasi Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Solo Raya akan kembali menggelar pameran properti akbar, REI Expo 4 tahun 2025, di Solo Paragon Mall pada tanggal 5 hingga 14 Desember 2025.
Pameran ini diadakan sebagai upaya keras untuk mendongkrak penjualan properti di penghujung tahun, di tengah kondisi pasar yang menantang sekaligus beratnya masalah perizinan lahan.
Ketua REI Komisariat Solo Raya, Oma Nuryanto, menyampaikan bahwa pameran ini melibatkan lebih dari 30 pengembang, mulai dari perumahan komersial, subsidi, perbankan, hingga pemasok bahan bangunan.
“Tahun ini kami REI Solo Raya, dengan kondisi situasi yang sangat menantang ini, kami mengadakan REI Expo dengan harapan nanti akan banyak transaksi, banyak closing, banyak booking, banyak akad yang akan terjadi,” ujarnya kepada awak media di sela-sela acara technical meeting dengan peserta pameran di Mon Kopi pada Jumat 28 November 2025.
Demi menarik minat pembeli, REI Solo Raya memanfaatkan momentum insentif dari pemerintah dan menawarkan berbagai promo yang menggiurkan. Oma pun menyoroti rendahnya suku bunga yang kini berkisar antara 5 hingga 7 persen, yang bisa memberi keuntungan untuk calon pembeli.
Selain itu, program PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 11 persen untuk properti komersial menjadi daya tarik utama, yang diyakini mampu merangsang daya beli masyarakat sebelum program berakhir di akhir tahun.
“Silahkan manfaatkan momen masih free PPN DTP 11% yang ditanggung pemerintah. Ini bagus untuk merangsang masyarakat membeli rumah karena potongannya juga banyak,” tegasnya.
Untuk perumahan subsidi, yang harga jualnya saat ini dipatok Rp 166 juta, juga masih memiliki peminat yang sangat tinggi, terutama dari kalangan pembeli rumah pertama.
Tak hanya itu, pengembang menjanjikan diskon besar-besaran, potongan harga bervariasi, serta hadiah langsung seperti elektronik, TV, hingga AC.
Di balik optimisme pameran, Oma Nuryanto secara terbuka mengakui adanya masalah besar yang kini membelit pengembang di Solo Raya, yakni isu perizinan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan birokrasi di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Menurutnya, perubahan aturan yang tiba-tiba mengenai LSD telah menghambat proses perizinan yang sudah berjalan, bahkan pada lahan yang secara tata ruang (zonasi) sudah diizinkan untuk perumahan (zona kuning).
“Permasalahan perizinan LSD. Yang di mana zonasi sudah kuning, tapi di atasnya ada LSD ini juga kendala, sangat menghambat sekali teman-teman pengembang. Padahal dulu boleh. Lah ini juga sangat menghambat sekali bagi teman-teman pengembang yang kena aturan itu.” keluhnya.
Dampak dari penghentian izin ini sangat serius. Banyak lahan yang sudah dibeli dan dibiayai bank (pinjaman/angunan) kini tidak bisa dibangun dan disertifikasi.
“Perubahan aturan yang tiba-tiba. Dulu boleh, sekarang enggak boleh, itu lho, Pak. Ini jadi permasalahan, jadi akhirnya nanti jadi kredit macet dan jadi masalah semua,” ungkapnya, menjelaskan risiko yang kini dihadapi pengembang dan perbankan.
Genjot Transaksi di Penghujung Tahun, REI Expo 4 Tahun 2025 Tawarkan Berbagai Keuntungan https://t.co/UdmsMFwVHn
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) November 28, 2025
Selain LSD, kendala lain adalah tingginya biaya dan lamanya waktu pemrosesan izin di BPN, yang dinilai tidak sejalan dengan program pemerintah untuk membangun 3 juta rumah.
“Kami kemarin juga baru sinergi dengan kejaksaan se-Solo Raya untuk permasalahan izin karena ini program dari pemerintah 3 juta rumah, kalau terhambat dengan perizinan yang mahal dan lama,” pungkasnya.
REI kini telah berkoordinasi dan bersurat kepada Kementerian ATR/BPN, namun hingga kini kepastian solusi masih belum didapatkan. //Sik
