TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Tumbuhkan Ekonomi Lokal, SPPG Milik Wong Solo Group Berdayakan Warga Sekitar

Salah satu SPPG yang dikelola oleh Wong Solo Group di wilayah Gagaksipat Boyolali

WARTAJOGLO, Solo - Di tengah persiapan menyambut libur sekolah akhir tahun, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Penumping di Laweyan, Solo, tetap menjadi pusat aktivitas penting. 

Staf SPPG Penumping, Alfian Damayanti, mengakui bahwa keputusan tentang kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) selama liburan masih menggantung. 

“Kalau untuk akhir tahun keputusan terpusat di BGN,” katanya saat ditemui pada Senin 1 Desember 2025. 

Namun, Alfian memastikan distribusi makan bergizi untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, yang menjadi sasaran penerima MBG sebesar 10 persen di setiap SPPG akan terus berlangsung.

Jauh melampaui sekadar pemenuhan nutrisi, program yang dijalankan oleh Yayasan Bangun Gizi Nusantara (YABGN) adalah sebuah mesin ekonomi lokal. 

Puspo Wardoyo selaku pengelola YABGN menegaskan bahwa implementasi MBG di delapan SPPG Solo Raya, termasuk di Boyolali, Sukoharjo, dan Solo dirancang untuk menghidupkan ekonomi sekitar.

Komitmen ini tidak terlepas dari imbauan tegas Wali Kota Solo, Respati Ardi, yang meminta SPPG mengambil kebutuhan pokok dari pasar tradisional. 

YABGN menindaklanjuti arahan tersebut dengan mengoptimalkan potensi lokal. 

“Iya, kami juga belanja di pasar tradisional. Selain itu biasanya supplier mengirimkan langsung ke kami. Tentu kami mengutamakan supplier dari wilayah sekitar,” jelas Puspo Wardoyo.

H Puspo Wardoyo pengelola YABGN yang membawahi beberapa SPPG di wilayah Solo Raya

Strategi ini bukan tanpa alasan. Owner Wong Solo Group itu mengakui bahwa mengambil dari luar wilayah cukup berisiko, terutama dari aspek pengantarannya.

Oleh karena itu, untuk kebutuhan buah-buahan, daging, ikan, dan bahan pokok lainnya, pasokan diandalkan dari pasar tradisional dan supplier lokal. 

Bahkan untuk kebutuhan non-pangan seperti plastik, YABGN membelinya dari toko-toko di sekitar SPPG.

Dampak positif MBG juga terasa pada penyerapan tenaga kerja. Hampir 100 persen karyawan di dapur-dapur SPPG direkrut dari warga di wilayah sekitar. 

Puspo Wardoyo meyakinkan bahwa kesejahteraan mereka terjamin. Meskipun sebagian petugas akan libur sekolah, mereka tetap menerima haknya. 

“Kalau gaji kami berikan tetap sesuai UMR, dengan jam kerja delapan jam/hari,” katanya.

Puspo Wardoyo menyimpulkan bahwa model SPPG ini adalah cara terbaik untuk membantu perekonomian. 

"Kita lihat perekonomian kan lebih bagus sekarang. Saya saja juga melibatkan koperasi, suplier lokal. Daripada dikasih bantuan uang, lebih baik seperti ini. Jadi perekonomian tumbuh positif,” pungkasnya. //Bang

Type above and press Enter to search.