TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Efektif Bentuk Karakter Siswa, Program Gizi BerKarsa Diproyeksikan untuk Skala Nasional

Melalui Program Gizi BerKarsa para siswa SDN 01 Pranan diajarkan mencuci alat makan mereka sendiri usai menikmati jatah MBG

WARTAJOGLO, Sukoharjo - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini bukan lagi sekadar soal pemenuhan nutrisi untuk anak-anak di bangku sekolah. 

Sebab, di tangan Yayasan SMART Madani Indonesia (YASMI), program nasional ini bertransformasi menjadi sebuah gerakan pendidikan karakter melalui inisiasi bertajuk Program Gizi BerKarsa.

Dalam pelaksanaan program MBG, selama ini, siswa seringkali dipandang hanya sebagai penerima manfaat atau "objek" dalam program pemerintah tersebut. 

Namun, Ketua YASMI, Sri Kalono, ingin mendobrak paradigma tersebut. Melalui Gizi BerKarsa, siswa didorong untuk menjadi "subjek" yang aktif dan bertanggung jawab.

“Kami mencoba mencari hal yang positif agar program ini mempunyai nilai lebih. Kami ingin mengubah anak-anak dari semula objek menjadi subjek untuk membangun karakter dan kemandirian,” ungkap Sri Kalono, saat ditemui dalam acara penerapan Program Gizi BerKarsa di SDN 01 Pranan Sukoharjo, pada Sabtu 10 Januari 2025.

SDN 01 Pranan menjadi salah satu dari sekian banyak sekolah di wilayah Sukoharjo yang akan dijadikan sebagai laboratorium implementasi program Gizi BerKarsa.

Dan hal itu bisa terlihat pada kebiasaan positif para siswa saat mendapat jatah MBG, yang mana di sini para siswa tidak langsung bermain setelah menghabiskan jatah makan mereka. 

Dengan tertib, mereka melakukan dua hal sederhana namun bermakna yakni memilah sampah dan mencuci alat makan sendiri.

Siswa diajarkan memisahkan sisa makanan (organik) dengan kemasan plastik (anorganik). Langkah kecil ini merupakan bentuk nyata edukasi lingkungan agar sampah tidak berakhir menumpuk di tempat pembuangan dalam kondisi bercampur.

“Ini membangun disiplin sekaligus kepedulian pada bumi yang kita tinggali agar tidak terbebani oleh sampah yang bercampur,” tambah Sri Kalono.

Setelah memilah sampah, para siswa beranjak ke tempat pencucian untuk membersihkan wadah makan (ompreng) mereka masing-masing. 

Langkah ini bukan bertujuan menggantikan tugas petugas kebersihan, melainkan sebagai media belajar tanggung jawab.

Meski siswa diajarkan mencuci wadahnya sendiri, aspek kesehatan tetap menjadi prioritas utama. 

Sutardi, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Godog, menegaskan bahwa prosedur operasional standar (SOP) kesehatan tidak dikurangi sedikit pun.

“Pencucian di sekolah adalah pendidikan tanggung jawab. Namun, setelah kembali ke SPPG, semua wadah tetap diproses ulang, dicuci kembali, dan disterilisasi. Higienis tetap nomor satu,” tegas Sutardi.

Sutardi memuji efektivitas Gizi BerKarsa karena dianggap sangat aplikatif. 

“Program ini sederhana, namun dampaknya luar biasa bagi pembentukan mental anak. Insyaallah, ini sangat bisa dilaksanakan di seluruh sekolah,” pungkasnya. //Kls

Type above and press Enter to search.