![]() |
| UNISRI dan Forum GenRe berkolaborasi untuk cegah pernikahan usia dini |
WARTAJOGLO, Solo - Upaya mencegah pernikahan usia dini tidak cukup hanya dengan imbauan normatif.
Diperlukan ruang edukasi yang mampu membekali remaja dengan pengetahuan, kesadaran, serta keberanian mengambil keputusan atas hidup mereka sendiri.
Inilah yang menjadi semangat kolaborasi Pusat Studi Lingkungan, Kependudukan, dan Pengembangan Wilayah (PSL-KPW) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) bersama Forum Generasi Berencana (GenRe) Surakarta.
Melalui kegiatan bertema “Remaja Cerdas, Masa Depan Berkualitas: Edukasi Pencegahan Pernikahan Usia Dini”, kedua lembaga tersebut melakukan edukasi bagi remaja yang tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Surakarta, pada akhir Desember 2025 lalu di Kelurahan Tipes.
Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai risiko pernikahan usia dini, sekaligus memperkuat kapasitas mereka dalam mengambil keputusan yang aman, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kualitas hidup di masa depan.
Salah satu narasumber, Jacika Pifi Nugraheni, S.Sos., M.A.P., dari Satgas PPKPT, menekankan bahwa pencegahan pernikahan usia dini tidak bisa dilepaskan dari isu perlindungan anak dan kekerasan seksual.
“Remaja perlu memahami hak atas tubuhnya sendiri. Literasi tentang consent, body autonomy, dan relasi yang sehat itu sangat penting, karena banyak kasus pernikahan usia dini beririsan dengan kerentanan terhadap kekerasan,” jelas Jacika dalam pemaparannya.
Ia menambahkan, edukasi semacam ini menjadi fondasi penting agar remaja mampu mengenali batasan diri serta membangun relasi yang aman dan setara.
“Ketika remaja paham bahwa tubuhnya adalah haknya, maka mereka akan lebih berani mengatakan tidak pada relasi yang tidak sehat, termasuk tekanan untuk menikah di usia anak,” tegasnya.
Sementara itu, Farah Aulia dari Forum GenRe Surakarta mengajak peserta melihat pernikahan usia dini dari dampak jangka panjang yang sering kali tidak disadari.
“Pernikahan usia dini sangat berpengaruh pada pendidikan, karier, dan kualitas hidup. Banyak mimpi yang terhenti karena keputusan yang diambil terlalu dini,” ungkap Farah.
Menurutnya, penguatan life skill menjadi kunci agar remaja tidak mudah terjebak dalam tekanan sosial, budaya, maupun ekonomi.
“Remaja harus punya kepercayaan diri, mampu berkomunikasi secara asertif, dan punya rencana masa depan. Dengan begitu, mereka bisa berani menolak ketika ada tekanan untuk menikah dini,” tambahnya.
Tidak hanya bersifat satu arah, kegiatan ini juga dilengkapi dengan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan seluruh peserta.
Melalui FGD, remaja diajak berdialog secara terbuka, berbagi pengalaman, serta menyampaikan pandangan dan tantangan yang mereka hadapi di lingkungan masing-masing.
Diskusi ini menjadi ruang aman bagi remaja untuk bersuara, sekaligus memperlihatkan bahwa isu pernikahan usia dini masih menjadi persoalan nyata di tingkat komunitas.
Melalui kegiatan ini, PSL-KPW UNISRI menegaskan komitmennya untuk mengintegrasikan edukasi remaja dengan kajian akademik dan pengembangan kebijakan.
Hasil diskusi dan temuan lapangan dari para remaja akan menjadi bahan penting dalam penyusunan rekomendasi yang lebih kontekstual.
Kolaborasi antara akademisi dan komunitas ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan saja.
GenRe Surakarta dan UNISRI Kolaborasi untuk Cegah Pernikahan Usia Dini https://t.co/cStAgGDhQ8
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) January 12, 2026
“Kami berharap program edukasi pencegahan pernikahan usia dini ini bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, sekaligus menghasilkan bahan kajian akademik yang bermanfaat bagi pengembangan kebijakan perlindungan dan pemberdayaan remaja,” demikian harapan penyelenggara.
Dengan pendekatan edukatif, dialogis, dan berbasis pengalaman remaja, program ini menjadi langkah nyata dalam menyiapkan generasi muda yang cerdas, berdaya, dan mampu menentukan masa depannya sendiri secara lebih berkualitas. //Sik
