![]() |
| Riri Riza (kiri) mendampingi Wali Kota Surakarta, Respati Ardi dan wakilnya Astrid Widayani, menyaksikan pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar |
WARTAJOGLO, Solo - Dalam rangka merayakan tiga dekade perjalanan kreatifnya, Miles Films meluncurkan pameran istimewa bertajuk "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar", yang digelar di Galeri Lokananta, Surakarta, dari 27 Januari 2025 hingga 30 September 2026.
Dhadiri dan dibuka langsung oleh Wali Kota Surakarta, Respati Ardi bersama sang wakil Astrid Widayani, pameran ini tidak sekadar menampilkan memorabilia.
Namun ia adalah mesin waktu emosional, yang dirancang khusus agar Gen X dan Milenial bernostalgia, sementara Gen Z menemukan konteks dan keindahan dari era yang tidak sempat mereka jalani.
Mira Lesmana, sang produser, dengan sengaja ingin menciptakan ruang dialog antargenerasi ini.
“Generasi baru, terutama Gen Z, punya ketertarikan luar biasa tentang analog, tentang apapun yang sifatnya dari masa lalu. Ada kerinduan yang ingin mereka pelajari,” ujar Mira dalam acara pembukaan pameran pada Senin 26 Januari 2026.
“Pameran ini kami dekatkan kepada mereka untuk melihat perjalanan panjang, agar mereka pun bisa berproses, bertahan, dan terus mengekspresikan diri,” lanjutnya.
Pengunjung diajak menelusuri jejak fisik yang hampir hilang: naskah skor tulisan tangan, pita reel-to-reel musik film Kuldesak, hingga sketsa storyboard dengan catatan tempo musik di pinggirannya.
Bagi Gen Z yang lahir di dunia Spotify dan digital score, benda-benda ini bukan relik usang, melainkan bukti fisik dari proses kreatif yang slow dan intentional—sebuah nilai yang kini banyak dirindukan.
Digarap bersama .this/PLAY dan Lokananta—rumah warisan rekaman legendaris Indonesia—pameran ini menjadi kanvas bunyi yang menelusuri evolusi estetika Miles dari era analog hingga digital.
Bagi Miles Films, musik bukanlah background noise. Ia adalah karakter, narator, dan nafas emosional.
"Musik dalam film memegang peran penting sebagai elemen yang menyatu dengan dialog dan desain suara, membangun emosi dan ritme serta mendukung adegan," tegas Riri Riza, Creative Director Miles Films.
"Nada-nada dalam film-film Miles bukan sekadar pelengkap, melainkan unsur penting yang membentuk pengalaman emosional penonton dan menandai zamannya," lanjutnya.
Pernyataan Riri itu terasa nyata sepanjang perjalanan Miles. Siapa yang bisa melupakan bagaimana lagu Sherina membangkitkan semangat petualangan masa kecil, atau bagaimana skor musik film-film seperti Gie atau Atambua 39° Celcius menghantarkan kesedihan, kerinduan, dan harapan yang mendalam?
Mengapa pameran sebesar ini digelar di Surakarta, bukan di Jakarta? Riri Riza punya jawaban yang visioner.
Pameran "MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar", Jadi Jembatan Penghubung Lintas Generasi https://t.co/FAaN6S57k1
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) January 27, 2026
"Kita punya aset luar biasa dalam bicara tentang budaya pop Indonesia yang tidak harus berada di Jakarta. Solo dan Lokananta khususnya adalah tempat yang sudah direvitalisasi dengan pendekatan yang sangat menarik, dan banyak pengetahuan yang ternyata unik dan khusus," jelasnya.
Pilihan lokasi ini selaras dengan filosofi Miles yang percaya pada kekuatan cerita dari seluruh penjuru Nusantara—dari Belitung hingga Atambua, dari NTT hingga Sulawesi Selatan. //Bang
