TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Belajar dari Bangkok, Arsitektur UMS Kupas Strategi Resiliensi Kota Wisata Global

Arsitektur bangunan di Bangkok Thailand

WARTAJOGLO, Solo - Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menempatkan isu resiliensi kota pariwisata sebagai fokus utama dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) internasional yang digelar pada 3–7 Februari 2026. 

Sebanyak 15 mahasiswa angkatan 2023 yang tergabung dalam Kelompok Kapulaga memilih Bangkok, Thailand.

Kota ini ditempatkan sebagai laboratorium hidup untuk memahami bagaimana sebuah kota wisata global mampu bertahan, beradaptasi, dan terus tumbuh di tengah tekanan kepadatan, modernisasi, serta ketergantungan pada sektor pariwisata.

Didampingi Ir. Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., mahasiswa menelaah bagaimana Bangkok membangun sistem kota yang tidak hanya atraktif secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara sosial, budaya, dan ekologis. 

“Bangkok menawarkan kombinasi unik antara warisan budaya dan religi, modernitas metropolitan, serta kehidupan jalanan yang autentik,” ujar Dyah. 

Menurutnya, kekuatan itu bukan sekadar daya tarik wisata, melainkan fondasi resiliensi kota.

Dalam konteks resiliensi, pelestarian warisan budaya menjadi jangkar identitas kota. Kompleks Grand Palace yang dibangun pada 1782 tetap berdiri sebagai simbol kekuasaan dan spiritualitas Thailand. 

Arsitektur beratap bertingkat dengan ornamen emas dan mozaik kaca memperlihatkan bagaimana nilai historis dirawat tanpa kehilangan relevansi di era modern.

Demikian pula Wat Arun di tepi Sungai Chao Phraya dengan prang setinggi sekitar 70–80 meter yang dihiasi pecahan porselen Tiongkok. 

Fungsi religiusnya tetap berjalan bersamaan dengan perannya sebagai destinasi wisata utama. Kota ini tidak memisahkan ruang sakral dari arus ekonomi, melainkan mengintegrasikannya dalam sistem urban.

Di Jim Thompson House, mahasiswa melihat bagaimana rumah tradisional kayu Thailand dipertahankan sebagai museum budaya di tengah tekanan pembangunan vertikal. 

Sementara kawasan Talad Noi menunjukkan model revitalisasi adaptif: ruko kayu dan bangunan Sino-Thai dihidupkan kembali menjadi kafe dan galeri tanpa menghapus karakter historisnya. 

Inilah bentuk resiliensi berbasis identitas—kota tidak kehilangan jati diri meski berubah.

Resiliensi Bangkok juga tercermin dalam kemampuannya mentransformasi ruang ekonomi. 

Asiatique The Riverfront, misalnya, merupakan revitalisasi bekas pelabuhan menjadi lifestyle mall terbuka dengan tetap mempertahankan struktur gudang kolonial-industrial. 

Transformasi ini memperlihatkan bagaimana adaptasi fungsi dapat memperpanjang umur kawasan tanpa menghapus memori kolektifnya.

Di Yaowarat, dominasi ruko Sino-Portuguese tetap dipertahankan sebagai identitas visual kawasan. 

Aktivitas perdagangan dan kuliner yang terus hidup menjadikannya simpul ekonomi yang fleksibel menghadapi fluktuasi wisatawan. 

Sementara Chatuchak Weekend Market dengan lebih dari 15.000 kios menjadi contoh ekosistem ekonomi skala besar yang mampu menyerap interaksi lokal dan global secara bersamaan.

Pendekatan berbeda terlihat pada Dusit Central Park yang mengintegrasikan hunian, hotel, perkantoran, pusat belanja, dan ruang terbuka hijau dalam satu kawasan terpadu. 

Proyek ini, menurut Nopanat Kraiwanit dari Architect 49, “tidak sekadar kawasan retail, tetapi alternatif destinasi wisata urban yang menawarkan pengalaman berbeda.” 

Integrasi fungsi ini menjadi strategi mengurangi tekanan pada kawasan bersejarah sekaligus mendistribusikan arus wisata.

Di tengah kepadatan dan risiko banjir, Bangkok menunjukkan bahwa resiliensi tidak hanya soal ekonomi dan budaya, tetapi juga ekologi. 

Benjakitti Forest Park menjadi contoh nyata transformasi lahan bekas pabrik tembakau menjadi ecological park dengan danau, wetland, jalur pedestrian, dan skywalk. 

Taman ini berfungsi sebagai ruang publik sekaligus sistem retensi air untuk mitigasi banjir.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ruang terbuka hijau diposisikan sebagai infrastruktur kota, bukan sekadar elemen estetika. 

Dalam konteks kota pariwisata, keberadaan ruang hijau meningkatkan kualitas hidup warga sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan.

Mr. Patrick Donbeck dari Chulalongkorn University menilai pariwisata telah menjadi bagian integral dari struktur ekonomi dan perkembangan urban Bangkok. 

Kota ini, katanya, unik karena mampu mengintegrasikan warisan budaya dan modernitas dalam satu sistem, meski tetap menghadapi tantangan kepadatan dan ketergantungan ekonomi pada sektor wisata.

Berdasarkan laporan KKL Arsitektur UMS 2026, Bangkok dinilai berhasil membangun resiliensi melalui tiga pilar utama yakni pelestarian warisan budaya sebagai jangkar identitas, transformasi ruang ekonomi secara adaptif, serta penguatan infrastruktur hijau untuk keberlanjutan ekologis. 

“Secara arsitektural dan urban, Bangkok menunjukkan keseimbangan antara ruang religi-sejarah yang sakral, ruang komersial-kreatif yang dinamis, dan ruang terbuka hijau yang berkelanjutan dalam menjawab tantangan kepadatan serta tuntutan pariwisata modern,” tutup Dyah. //Kls

Type above and press Enter to search.