TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Pernah Jadi Ikon Wisata, Kini Umbul Tlatar Makin Ditinggalkan, Apa yang Salah..?

Wahana Wisata Kedhaton Nusantara yang ada di dalam kawasan Umbul Tlatar Boyolali

WARTAJOGLO, Boyolali - Kawasan wisata Umbul Tlatar pernah menjadi kebanggaan sekaligus ikon pariwisata Kabupaten Boyolali. 

Kejernihan air alami, suasana asri, serta deretan kuliner khas menjadikannya magnet wisatawan dari berbagai daerah. 

Namun kini, wajah kejayaan itu perlahan memudar. Umbul Tlatar tengah berada di titik nadir, menghadapi penurunan drastis jumlah pengunjung yang berdampak langsung pada keberlangsungan para pelaku usaha di dalamnya.

Kondisi memprihatinkan ini diungkapkan oleh Jhoni Putra Apriando, pengelola Wahana Wisata dan Rumah Makan Kedhaton Nusantara, yang ada di dalam kawasan Umbul Tlatar. 

Sebagai putra daerah yang tumbuh dan besar di Tlatar, ia menyaksikan langsung perubahan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, penurunan aktivitas wisata di kawasan ini tidak bisa dianggap sepele.

“Penurunannya signifikan sekali, hampir 80 persen lebih. Kalau dibilang mati sih belum ya, ini ibaratnya sedang disuntik tegangan saja, masih kejet-kejet (meronta-ronta),” ungkapnya saat ditemui pada Minggu 5 April 2026.

Penurunan tersebut membuat para pelaku usaha berada di posisi sulit, yakni bertahan dengan segala keterbatasan, di tengah menurunnya daya beli pengunjung.

Salah satu faktor yang dinilai menjadi penyebab utama merosotnya kunjungan adalah penerapan Harga Tiket Masuk (HTM) di gerbang utama kawasan. 

Di tengah persaingan destinasi wisata air yang semakin ketat, karena banyak destinasi wisata gratis, kebijakan HTM dinilai mengurangi daya tarik Tlatar.

Jhoni mencontohkan fenomena di Umbul Ngrancah yang justru ramai pengunjung meski akses jalannya terbatas.

“Wisatawan itu cari kenyamanan, nyaman di kantong dan nyaman di hati. Di Umbul Ngrancah tidak ada HTM, itu yang membuat orang berdatangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan tiket masuk membuat wisatawan harus berpikir dua kali sebelum masuk ke Tlatar.

“Harusnya uang Rp5.000 bisa buat beli siomay di dalam, tapi di sini habis buat bayar tiket di depan. Itu kalau satu orang. Kalau misal rombongan sudah berapa yang harus dikeluarkan. Akhirnya orang pilih tempat lain,” imbuhnya sambil menunjukkan kondisi Wahana Wisata yang dikelolanya, yang begitu sepi pengunjung.

Ironisnya, di saat jumlah pengunjung menurun, para pelaku usaha justru menghadapi beban biaya yang terus meningkat. 

Nilai sewa lahan kepada pemerintah daerah disebut naik sekitar 10 persen setiap tahun, dan kini telah mencapai kisaran Rp150 juta per tahun.

“Sewa naik terus, tapi kondisi lapangan seperti ini. Semangat itu ada, tapi kadang juga nglokro,” aku Jhoni.

Di sisi lain, target pendapatan dari loket masuk pun kerap tidak tercapai, menandakan adanya ketidakseimbangan dalam sistem pengelolaan kawasan.

Meski situasi sulit, harapan belum sepenuhnya padam. Jhoni berencana mengajak para pelaku usaha besar di kawasan Tlatar untuk duduk bersama, menyatukan suara, dan mendorong perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Ia juga menyampaikan gagasan yang cukup berani yakni menggratiskan HTM untuk sementara waktu sebagai langkah pemulihan.

“Saya ingin menantang, bagaimana kalau HTM di depan itu digratiskan selama satu atau dua tahun? Kita lihat progresnya. Jadikan ini ‘New Tlatar’,” ujarnya.

Harapan tersebut juga ia sandarkan pada kepemimpinan Bupati Boyolali, Agus Irawan, yang dinilai memiliki latar belakang kuat di bidang pariwisata dan diyakini mampu menghadirkan terobosan.

Bagi Jhoni, Umbul Tlatar bukan sekadar destinasi wisata, melainkan identitas daerah yang harus dijaga. 

Ia meyakini bahwa jika akses masuk dipermudah, maka roda ekonomi di dalam kawasan akan kembali berputar.

“Kalau depan digratiskan, kami para pengusaha di dalam akan berkomitmen memberikan pelayanan terbaik. Saya optimis Tlatar bisa bangkit lagi,” tandasnya. //Sik

Type above and press Enter to search.