![]() |
| Puspo Wardoyo menunjukkan produk-produk PT HaTI |
WARTAJOGLO, Solo - Di balik hangatnya semangkuk opor atau gurihnya rendang yang disantap jemaah haji Indonesia di Tanah Suci, ada proses panjang yang dikerjakan serius dari dalam negeri.
Tahun 2026 ini, PT Halalan Thoyyiban Indonesia (HaTI) di bawah naungan Wong Solo Group kembali menjadi tulang punggung penyedia makanan siap saji untuk konsumsi haji, khususnya pada fase Armuzna.
Hal itu disampaikan pemilik Wong Solo Group, H. Puspo Wardoyo, saat ditemui di Hotel Capsule Kalipepe Land, Jumat 16 Mei 2026.
“Ini tahun keempat kami berkontribusi untuk haji. Mulai sejak 2023,” ujar Puspo Wardoyo.
Menu yang dikirim pun bukan sembarang makanan. Seluruhnya dirancang agar tetap menghadirkan cita rasa khas Indonesia meski disantap ribuan kilometer dari tanah air. Ada rendang daging, rendang ayam, opor daging, opor ayam, semur daging, semur ayam hingga gulai ikan.
Tak hanya makanan siap santap atau ready to eat (RTE), PT HaTI juga mengirimkan ratusan ton bumbu paste khas Nusantara untuk dapur-dapur haji di Arab Saudi.
“Sekitar 87,5 persen konsumsi haji itu makanan fresh, sedangkan 12,5 persen berupa ready to eat. Nah yang diekspor dari Indonesia itu RTE-nya. Kemudian kita juga kirim bumbu sekitar 150 ton untuk dapur fresh di sana. Jadi meski dimasak di Arab Saudi, rasanya tetap rasa Indonesia,” katanya.
Produksi makanan haji tahun ini mulai dilakukan sejak November 2025. Dalam prosesnya, PT HaTI melibatkan sekitar 400 tenaga kerja yang seluruhnya berasal dari warga sekitar.
“Kurang lebih 400 tenaga kerja, semuanya lokal,” ungkapnya.
Bukan hanya menyerap tenaga kerja, bahan baku yang digunakan pun berasal dari petani lokal Indonesia. Mulai rempah-rempah hingga bahan pangan utama dipasok dari dalam negeri.
“Iya, semua lokal,” tegas Puspo.
Salah satu hal yang menarik perhatian adalah kemampuan makanan tersebut bertahan hingga 18 bulan tanpa bahan pengawet. Menurut Puspo, rahasianya terletak pada teknologi sterilisasi modern yang diterapkan.
Makanan dikemas secara vakum, lalu diproses menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan 2 bar sehingga hampir seluruh mikroba patogen mati sempurna.
“Ketika makanan diproduksi secara higienis, dikemas vakum, lalu dipanasi setelah dikemas, maka bagian dalamnya steril. Mikroba dari luar juga tidak bisa masuk karena kemasannya rapat,” jelasnya.
Dengan teknologi itu, makanan tetap aman dikonsumsi dalam waktu panjang. Bahkan, PT HaTI telah mendapatkan izin shelf life selama 18 bulan dari otoritas Arab Saudi.
“Dari SFDA mendapatkan shelf life 18 bulan,” katanya.
Namun, setelah kemasan dibuka, makanan akan berlaku layaknya makanan biasa.
“Kalau sudah dibuka ya maksimal sekitar delapan jam seperti makanan fresh biasa,” imbuhnya.
Puspo menjelaskan, keberadaan makanan siap saji menjadi sangat penting terutama saat fase Armuzna, yakni puncak ibadah haji pada 8–13 Zulhijah.
Pada masa itu, jutaan jemaah berkumpul di kawasan Arafah dan Mina yang memiliki ruang sangat terbatas.
“Bayangkan dua juta orang berkumpul di satu kawasan. Setiap jemaah hanya mendapatkan sekitar 0,7 meter di tenda. Sangat crowded,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat distribusi logistik menjadi tantangan besar. Di masa lalu, makanan fresh kerap terlambat datang akibat kemacetan dan akhirnya basi sebelum sampai ke tangan jemaah.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pengiriman tahun ini seluruhnya menggunakan jalur udara demi memastikan ketepatan waktu distribusi.
“Semua pakai pesawat dari Soekarno-Hatta langsung ke Jeddah. Dari Jeddah dikirim ke Makkah dan masuk gudang di sana,” kata Puspo.
Keputusan itu diambil karena jalur laut dinilai berisiko akibat situasi geopolitik dan gangguan distribusi internasional.
Menariknya lagi, makanan produksi PT HaTI disebut dapat langsung disantap tanpa perlu dipanaskan terlebih dahulu.
Menurut Puspo, inovasi ini menjadi keunggulan tersendiri dan diklaim baru dimiliki PT HaTI untuk kebutuhan haji dunia.
“Kami menciptakan resep sehingga makanan ini bisa dinikmati tanpa treatment apa pun. Tidak perlu dipanasi, direbus atau microwave, langsung bisa dimakan,” ungkapnya.
Ia bahkan menyebut teknologi dan formulasi tersebut belum dimiliki produsen lain.
“Untuk haji ini baru PT HaTI atau Wong Solo Group yang bisa memproduksi itu sampai saat ini,” tegasnya.
Untuk menjamin kualitas dan higienitas, PT HaTI telah mengantongi empat sertifikasi penting, mulai dari BPOM, sertifikat halal BPJPH, ISO 22000 hingga approval dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA).
Menurut Puspo, seluruh proses produksi diaudit secara ketat, mulai dari bangunan, layout produksi, peralatan, tenaga kerja hingga sistem keamanan pangan.
“Kalau sudah menerapkan PMR dan BPOM, otomatis semua SOP wajib dijalankan. Mulai hairnet, masker, sarung tangan, ganti sepatu sampai cuci tangan itu mutlak,” katanya.
Ia menegaskan bahwa standar tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan kebutuhan mutlak untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Pada musim haji tahun ini, PT HaTI disebut menguasai hampir seluruh pasokan makanan siap saji dan bumbu paste untuk jemaah Indonesia. Hal itu sempat memunculkan anggapan monopoli.
Namun Puspo menilai kondisi itu terjadi karena perusahaannya dinilai paling siap dari sisi fasilitas, kualitas dan sertifikasi.
“Kalau dianggap monopoli ya memang monopoli tahun ini. Karena yang paling siap ya cuma kita. Ini profesional, bukan main-main,” ujarnya.
PT HaTI Dominasi Konsumsi Haji 2026, Puspo Wardoyo: Karena Kami Paling Siap https://t.co/vDQiFwBHHC
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) May 16, 2026
Tak hanya makanan siap saji, PT HaTI juga memasok sekitar 300 ton pasta bumbu Indonesia untuk dapur-dapur haji di Arab Saudi.
“Dapur di sana wajib mendapatkan pasta rasa Indonesia. Ada rendang, opor, semur, gulai, balado sampai 28 jenis bumbu. Dan semuanya tanpa pengawet,” pungkasnya. //Sik
