TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Tradisi Boga Sambrama Warnai Event Mangkunegaran Makan-Makan 2026, Gusti Sura: Untuk Berbagi Kebahagiaan

Ritual Umbul Donga dalam pembukaan event Mangkunegaran Makan-Makan 2026

WARTAJOGLO, Solo - Pura Mangkunegaran kembali menghadirkan perpaduan unik antara tradisi dan gaya hidup modern melalui gelaran Mangkunegaran Makan-Makan yang dibuka pada Jumat 1 Mei 2026, di Pamedan Mangkunegaran. 

Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269. 

Yang mana selain Mangkunegaran Makan-Makan, juga digelar Mangkunegaran Run 2026 pada Minggu 3 Mei 2026.

Event Mangkunegaran Makan-Makan sendiri dibuka dengan prosesi ritual umbul donga, di mana beberapa abdi dalem Pura Mangkunegaran mengarak ribuan kue apem dari dalam pura menuju lapangan Pamedan.

Sesampai di lapangan Pamedan, dilakukan ritual doa dengan pembacaan mantra yang diiringi tarian sakral oleh lima orang penari dari putri keraton.

Usai berdoa, acara dilanjut dengan prosesi Boga Sambrama, yakni tradisi khas Mangkunegaran yang diwujudkan melalui pembagian apem kepada masyarakat. 

Prosesi ini dipimpin langsung oleh GRAj Ancilasura Marina Sudjiwo, atau yang akrab disapa Gusti Sura, selaku Pengageng Kawedanan Panti Budaya di Kemantren Langenprojo, Pura Mangkunegaran.

Menurut Gusti Sura, Boga Sambrama bukan sekadar seremoni, melainkan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu Pon maupun dalam momen-momen besar. 

“Maknanya adalah berbagi untuk sesama atau berbagi berkah,” ujarnya.

Menariknya, dalam gelaran kali ini, apem yang dibagikan merupakan hasil kreasi untuk menyesuaikan perkembangan zaman, yang hadir dalam 10 varian rasa. 

Abdi dalem Pura Mangkunegaran mengarak ribuan kue apem berbagai rasa untuk dibagikan dalam prosesi tradisi Boga Sambrama

Mulai dari rasa tradisional hingga sentuhan modern seperti cokelat, pandan, dan teh. Inovasi ini menjadi bagian dari konsep “culture future”, yakni upaya menghadirkan kembali tradisi masa lampau agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Tradisi apem masa lampau ini kami bawa untuk lebih berkembang seperti sekarang dan relevan dengan zaman sekarang melalui berbagai rasa,” jelas Gusti Sura.

Lebih dari sekadar kuliner, Mangkunegaran Makan-Makan juga diharapkan menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk merayakan nilai-nilai budaya Mangkunegaran. 

Gusti Sura menekankan pentingnya menghadirkan suasana yang inklusif, di mana masyarakat dapat berkumpul, menikmati hiburan, sekaligus merasakan kekayaan tradisi.

“Harapannya masyarakat bisa ikut merayakan, berkumpul, dan menikmati hiburan yang ada. Semoga acara ini terus ada dan semakin lestari,” tambahnya.

Tak hanya itu, rangkaian acara ini juga menjadi pengantar menuju Mangkunegaran Run 2026, sebuah event lari yang mengusung konsep berbeda. 

Tidak sekadar olahraga, kegiatan ini menggabungkan unsur budaya sehingga dikenal sebagai cultural run.

Mangkunegaran Run dinilai berhasil bertahan dan berkembang karena mampu menjawab tren gaya hidup masa kini tanpa meninggalkan akar budaya. 

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari sebagai bagian dari wellness dan kesehatan mental, Mangkunegaran menghadirkan pengalaman yang lebih bermakna.

“Peserta bisa merasakan olahraga lari sekaligus berbudaya. Karena wellness juga bagian dari kebudayaan, jadi bisa berjalan bersamaan,” terang Gusti Sura.

Pada tahun ini, konsep Mangkunegaran Run juga mengalami pembaruan, terutama pada rute yang dipilih. 

Jika sebelumnya berbeda, tahun ini rute dimulai dari kawasan Stadion Manahan dan berakhir di kawasan Ngarsopuro, tepatnya di depan Pasar Triwindu.

Pemilihan rute ini bukan tanpa makna. Kawasan Manahan memiliki nilai historis sebagai tempat olahraga pada era Mangkunegara IV, khususnya untuk aktivitas memanah dan pacuan kuda. 

Sementara Pasar Triwindu di Ngarsopuro dibangun oleh Mangkunegara IV sebagai penanda tiga windu masa pemerintahannya.

"Ini juga bagian dari upaya kita mengenang sejarah Mangkunegaran di masa lalu," pungkas Gusti Sura. //Her

Type above and press Enter to search.