TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Pakai Sarung dan Peci, Para Santri Sidogiri Belajar Meracik di Akademi Kopi Santri

Para santri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan belajar meracik kopi dalam program Akademi Kopi Santri yang digagas Lumbung Kopi Nusantara Pekalongan

WARTAJOGLO, Pekalongan — Dunia pesantren selama ini identik dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter. 

Namun, perkembangan zaman membuat banyak pesantren mulai memperluas peran, salah satunya melalui penguatan kewirausahaan bagi para santri.

Semangat itulah yang kemudian melahirkan program Akademi Kopi Santri yang digagas oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Lumbung Kopi Nusantara Pekalongan. 

Melalui program ini, para santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga dibekali keterampilan profesional untuk menjadi seorang barista.

Salah satu pesantren yang menjadi mitra program tersebut adalah Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur. 

Dalam program ini, Lumbung Kopi Nusantara memberikan pelatihan kepada para santri untuk menguasai dunia kopi, khususnya pada sektor hilir seperti pengolahan minuman dan pelayanan kedai kopi.

Ketua KUB Lumbung Kopi Nusantara Pekalongan, Erwan Ardiansyah, mengatakan kerja sama tersebut bermula dari pengembangan unit usaha kopi yang dimiliki oleh Ponpes Sidogiri melalui jaringan bisnisnya.

Di lingkungan pesantren tersebut terdapat unit usaha bernama Toko Basmalah, sebuah jaringan toko modern yang dikelola dengan semangat pemberdayaan santri. 

Di dalamnya kemudian dikembangkan unit kedai kopi bernama Kopi B.

“Di Toko Basmalah itu ada satu unit bisnis pengembangan, yaitu kedai kopi. Namanya Kopi B. Kami yang membantu mengembangkan dari nol, mulai mencetak barista sampai pengembangan menu,” ujar Erwan pada Jumat 31 Juli 2026.

Menurutnya, pengembangan kedai kopi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena para pengelola pesantren sebelumnya belum banyak mengenal industri kopi secara mendalam.

“Beliau-beliau para kyai dan ustaz belum terlalu memahami kopi. Jadi kami yang mengembangkan dari nol, termasuk bagaimana mencetak barista dan melakukan riset pengembangan menu,” kata pria yang akrab disapa Didit ini.

Saat ini, program tersebut terus berjalan. Bahkan, Lumbung Kopi Nusantara kembali memberikan pelatihan kepada lima santri tambahan untuk dipersiapkan menjadi barista profesional. 

Pelatihan tersebut berlangsung selama 28 hari dengan materi yang disesuaikan kebutuhan industri kopi.

Program Santri Kopi tidak sekadar mengajarkan cara membuat secangkir kopi. Lebih dari itu, para santri diberikan pemahaman mengenai standar pelayanan kedai modern, teknik penyajian, hingga pengelolaan produk.

Yang menarik, dalam pelatihan itu para santri mengikutinya sambil mengenakan pakaian khas mereka, yakni bersarung dan berpeci.

Didit menjelaskan, pelatihan untuk santri Sidogiri lebih banyak berfokus pada sektor hilir kopi, berbeda dengan pelatihan yang diberikan kepada kelompok tani.

“Kalau dengan petani fokusnya di hulu, seperti proses pascapanen dan pengolahan kopi. Tapi untuk santri Sidogiri materinya lebih ke hilir, karena mereka berhubungan langsung dengan penjualan dan penyajian,” jelasnya.

Hingga kini, Kopi B telah memiliki sekitar enam outlet yang konsepnya menyerupai kedai kopi modern seperti yang banyak ditemui di jaringan minimarket.

“Konsepnya hampir sama dengan Point Coffee. Di dalam Toko Basmalah ada Kopi B. Dari desain maupun peralatannya juga dibuat modern,” ungkap Didit.

Kerja sama dengan Sidogiri sendiri telah berlangsung sekitar dua tahun. Pelatihan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kebutuhan tenaga barista baru di setiap outlet.

“Kalau ada pembukaan outlet baru dan membutuhkan barista, dari Sidogiri ingin memprioritaskan santri sendiri. Jadi nanti dibuatkan kelas pelatihan,” katanya.

Selain mencetak barista, Lumbung Kopi Nusantara juga membawa misi memperkenalkan kopi lokal Indonesia melalui brand Nusabae.

Nama tersebut memiliki filosofi sederhana, yakni mengangkat kopi dari tanah Nusantara. 

Berbeda dengan banyak kedai kopi yang menggunakan biji impor dari berbagai negara, Nusabae berkomitmen menggunakan kopi dari dalam negeri.

“Kami hanya menyediakan bean Nusantara. Tidak menggunakan kopi luar seperti Ethiopia, Panama, atau Brasil. Kami fokus pada kopi Indonesia,” ujar Didit.

Produk kopi yang dikembangkan sebagian besar berasal dari jenis Arabika. Namun, untuk Robusta, pihaknya menggandeng para petani kopi mitra dengan standar kualitas tertentu.

Menurut Erwan, kualitas menjadi perhatian utama dalam memilih kopi dari petani. Setiap biji kopi harus memenuhi standar yang telah ditentukan, mulai dari kualitas hingga tingkat cacat biji (defect point).

“Kalau tidak sesuai spesifikasi tetap diterima, tetapi harganya tentu berbeda. Kami ingin petani juga memahami pentingnya menjaga kualitas,” katanya.

Dalam pengembangan usaha, KUB Lumbung Kopi Nusantara juga mendapat dukungan dari Bank Indonesia sebagai mitra binaan.

Didit menyebut, berbagai fasilitas dan pendampingan diberikan untuk membantu pelaku usaha kopi berkembang, mulai dari pelatihan, kegiatan promosi, hingga penguatan kapasitas usaha.

“Bank Indonesia sangat membantu kami. Banyak fasilitas yang diberikan, termasuk pelatihan. Di dunia kopi ini banyak levelnya, jadi kami juga terus belajar dan mengikuti pelatihan,” ujarnya.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Lumbung Kopi Nusantara untuk meningkatkan kualitas industri kopi lokal Pekalongan.

Program Akademi Kopi Santri direncanakan terus berlanjut. Selain mencetak tenaga profesional di sektor kedai kopi, Lumbung Kopi Nusantara juga aktif melakukan edukasi kepada masyarakat dan petani kopi di Pekalongan.

Menurut Didit, masih banyak pengolahan kopi di tingkat petani yang dilakukan secara sederhana tanpa standar yang jelas.

“Daerah Pekalongan masih banyak yang mengolah kopi secara angger-angger atau asal-asalan. Jadi kami harus banyak mengedukasi, tidak selalu lewat kelas formal, kadang lewat ngobrol santai,” tandasnya. //Bang

Type above and press Enter to search.