TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Bongkar Akar Masalah Pendidikan di Indonesia, Prof. Eko Indrajit: Kuncinya Perubahan Mindset

Prof. Eko Indrajit saat menyampaikan orasi ilmiah di acara puncak Dies Natalis Politeknik Indonusa ke-24

WARTAJOGLO, Solo — Menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas tidak cukup hanya dengan memperbaiki kurikulum dan menambah fasilitas pendidikan. 

Perubahan justru harus dimulai dari cara pandang terhadap pendidikan itu sendiri.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A., saat memberikan orasi ilmiah dalam puncak Dies Natalis ke-24 Politeknik Indonusa Surakarta, Rabu 19 Agustus 2026.

Digelar di Ballroom Sabha Kencana, Gedung C Kampus 1 Politeknik Indonusa Surakarta, kegiatan tersebut mengusung tema “Bertransformasi Menjadi Universitas Unggul dan Berdampak.”

Di hadapan sivitas akademika dan sejumlah stakeholder, Prof. Eko mengajak perguruan tinggi melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana pendidikan seharusnya diberikan kepada generasi yang akan menjadi SDM masa depan.

Menurutnya, perubahan zaman yang berlangsung cepat menuntut perguruan tinggi tidak sekadar menghasilkan lulusan dengan ijazah, tetapi manusia yang mampu belajar, beradaptasi, berpikir mandiri dan memberikan solusi.

“Kunci dari inovasi adalah perubahan mindset. Jadi sudah saatnya kita mengubah mindset tentang sistem pendidikan, agar bisa tercipta SDM yang berkualitas,” tegas Prof. Eko.

Salah satu hal yang menjadi sorotan Prof. Eko adalah cara perguruan tinggi memperlakukan mahasiswa.

Ia mempertanyakan masih digunakannya pola-pola pendidikan yang sama seperti pada jenjang sekolah, termasuk persoalan absensi.

“Yang di perguruan tinggi ada absensi. Pertanyaannya, why? Aneh kan?” ujarnya.

Persoalan tersebut, menurut dia, seharusnya tidak hanya dilihat sebagai masalah kedisiplinan mahasiswa. 

Lebih jauh, perguruan tinggi perlu bertanya mengapa seseorang yang telah membayar untuk mendapatkan pendidikan justru tidak tertarik mengikuti proses pembelajaran.

“Silakan direfleksikan baik-baik apa penyebabnya. Dan itulah akar dari masalah pendidikan di Indonesia,” katanya.

Ia mengingatkan, mahasiswa merupakan individu yang telah memasuki usia dewasa. Dengan demikian, pendekatan pendidikan pun seharusnya disesuaikan dengan karakter orang dewasa.

“Pendidikan tinggi sebenarnya adalah pendidikan untuk orang dewasa,” tegasnya.

Karena itu, perguruan tinggi perlu mulai mengembangkan pendekatan andragogi, heutagogi, cybergogi dan berbagai pendekatan lain yang menempatkan mahasiswa sebagai individu yang lebih mandiri dalam proses belajar.

Bagi Prof. Eko, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab lebih besar daripada sekadar memastikan mahasiswa hadir di ruang kelas dan menyelesaikan studi.

Perguruan tinggi harus mampu membentuk manusia yang memiliki kemampuan untuk terus berkembang setelah meninggalkan kampus.

Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang berlangsung sangat cepat.

Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali pengetahuan yang relevan dengan kondisi hari ini. Mereka harus memiliki kemampuan untuk menghadapi perubahan yang belum tentu bisa diprediksi ketika mereka masih berada di bangku kuliah.

Karena itu, perubahan mindset menjadi fondasi penting dalam membangun SDM berkualitas.

Pesan Prof. Eko tersebut sejalan dengan arah pengembangan Politeknik Indonusa Surakarta.

Direktur Politeknik Indonusa Surakarta, Ir. Suci Purwandari, MM, Ph.D., mengatakan pembangunan SDM menjadi salah satu prioritas utama kampus pada tahun ini.

“Program kerja tahun ini prioritas adalah membangun SDM,” kata Suci.

Penguatan tersebut mencakup peningkatan kinerja dosen, inovasi, kreativitas serta peningkatan kualitas layanan tenaga kependidikan.

Menurut Suci, pemikiran Prof. Eko mengenai dosen yang dirindukan dan dicintai mahasiswa menjadi salah satu alasan pihaknya menghadirkan tokoh pendidikan tersebut dalam Dies Natalis ke-24.

Ia berharap dosen tidak hanya menyampaikan ilmu dan keterampilan, tetapi mampu membangun hubungan pembelajaran yang dilakukan dengan hati.

“Artinya kita itu harus dengan mahasiswa benar-benar menyampaikan ilmu, skill, itu dengan hati, dengan hati,” ujarnya.

Suasana perayaan terasa semakin hangat dan meriah ketika Prof. Eko Indrajit secara spontan berduet bernyanyi bersama penyanyi legendaris Indonesia, Lisa A. Riyanto, yang tak lain adalah istrinya. //Bang

Type above and press Enter to search.