![]() |
| Arbain Rambey salah satu juri, memaparkan materi tentang fotografi satwa |
WARTAJOGLO, Solo – Kamera mahal, format RAW, maupun teknik fotografi yang rumit bukan jaminan sebuah foto satwa bisa memenangkan kompetisi. Ada dua hal yang jauh lebih penting: ekspresi dan momen yang istimewa.
Pesan itu disampaikan fotografer senior sekaligus juri International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026, Arbain Rambey, saat menjadi pembicara dalam roadshow IAPVC 2026 di Solo Safari, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Arbain, definisi foto satwa yang bagus sangat beragam. Foto yang dianggap bagus oleh media seperti majalah atau surat kabar belum tentu sama dengan foto yang diinginkan dalam kompetisi Taman Safari.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika masih menjadi wartawan. Foto keramaian satwa atau bahkan bangkai ikan langka bisa menjadi foto yang bernilai bagi sebuah media karena memiliki nilai berita.
Demikian pula foto badak Jawa yang hanya memperlihatkan seekor badak berdiri bisa sangat berharga karena mendapatkan momen tersebut bukan perkara mudah.
“Foto satwa yang bagus itu definisinya banyak. Yang menang adalah yang tahu bahwa foto satwa maunya Taman Safari itu digimana-kan,” ujarnya.
Arbain juga menyinggung perdebatan mengenai penggunaan JPEG atau RAW. Menurutnya, RAW memang memberikan keuntungan dalam pengolahan teknis, seperti akurasi warna. Namun, hal itu bukan faktor utama dalam menentukan kemenangan.
Untuk IAPVC, justru ekspresi satwa yang menjadi kunci.
“RAW itu hanya berpengaruh untuk teknis. Kita adalah mementingkan ekspresi. Yang penting ekspresi satwa,” tegasnya.
Ekspresi, menurut Arbain, merupakan sesuatu yang tidak bisa diatur maupun direkayasa dengan mudah.
Karena satwa tidak bisa diarahkan seperti manusia, fotografer harus mampu membaca perilaku dan menunggu momen yang tepat.
Ia menunjukkan sejumlah contoh foto pemenang yang secara teknis terlihat sederhana. Namun, ekspresi satwa membuat foto tersebut memiliki daya tarik.
Karena itu, Arbain berpesan agar fotografer membuat satwanya terlihat istimewa, misalnya melalui ekspresi yang lucu, unik, atau tidak biasa.
Selain ekspresi, objek yang dipotret juga memiliki pengaruh besar. Menurut Arbain, sisi menarik dari satwa yang menjadi objek foto dapat membuat sebuah karya memiliki nilai lebih.
Ia juga menunjukkan contoh foto burung yang mungkin bukan merupakan satwa luar biasa, tetapi memiliki adegan yang sangat sulit diperoleh. Kelangkaan momen tersebut justru menjadi kekuatan utama foto.
Hal serupa terlihat dalam foto dua komodo yang tengah berebut betina. Meski dalam foto masih terlihat unsur beton yang menunjukkan keberadaan manusia, momen tersebut dinilai sangat langka.
Foto itu bahkan pernah menjadi juara pertama setelah sekitar 28.000 foto diseleksi. Pada babak awal, para juri langsung sepakat menjadikannya pemenang.
Menurut Arbain, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sebuah foto tidak harus sempurna secara teknis atau bebas dari seluruh unsur yang dianggap mengganggu. Jika momennya kuat dan sulit didapatkan, foto tersebut tetap bisa memiliki nilai luar biasa.
Arbain juga mengingatkan peserta mengenai satu kondisi yang sering terjadi dalam lomba foto satwa: banyak fotografer mengabadikan objek dan adegan yang sama.
Dalam kondisi tersebut, mendapatkan foto bagus saja tidak cukup. Foto harus lebih kuat dibandingkan karya lain yang memiliki adegan serupa.
“Kalau dipotret dari yang bagus ambilnya ramai-ramai, ya Anda harus lebih bagus dari kelompok itu. Karena satu menang, yang lain dibuang,” jelasnya.
Karena itu, fotografer harus mencari pembeda. Jangan sampai foto nomor satu, dua, dan tiga memiliki adegan yang nyaris sama karena akan membuat karya sulit menonjol.
Bagi Arbain, intinya sederhana yKNI buat foto menjadi istimewa. Jika satwa tidak bisa diarahkan, maka fotografer harus menunggu dan menangkap ekspresi terbaiknya.
Jika objeknya sama dengan fotografer lain, carilah momen, sudut, atau cerita yang membuat karya menjadi berbeda.
“Buat foto Anda istimewa. Satwanya karena enggak bisa diatur, bikin lah satwanya ekspresinya luar biasa. Entah bikin lucu, entah bikin unik,” katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari rangkaian roadshow IAPVC 2026 yang mengusung tema “From Lens to Legacy”.
Setelah berkembang selama 35 tahun, IAPVC kini tidak sekadar menjadi kompetisi fotografi satwa, tetapi juga ruang untuk menghadirkan cerita tentang satwa, alam, dan konservasi.
Roadshow Solo Safari berlangsung 29-30 Agustus 2026 dan menjadi bagian dari rangkaian IAPVC di tiga destinasi Taman Safari Indonesia, yakni Taman Safari Bogor, Solo Safari, dan Taman Safari Prigen.
Selain Arbain Rambey, roadshow di Solo juga menghadirkan Martha Suherman sebagai juri. Kegiatan ini sekaligus mempertemukan fotografer, videografer, kreator, dan komunitas untuk berbagi pengalaman serta memperluas jejaring.
Bongkar Rahasia Jadi Pemenang IAPVC 2026, Arbain Rambey: Yang Utama Ekspresi Satwa https://t.co/vkw36W3Zhm
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 29, 2026
Board Member Taman Safari Indonesia Agus Susanto mengatakan IAPVC diharapkan membuat masyarakat tidak sekadar melihat satwa sebagai objek foto, tetapi memahami cerita dan pentingnya menjaga keberadaan mereka.
“Kami ingin melalui IAPVC, masyarakat tidak hanya melihat satwa sebagai objek foto, tetapi juga memahami cerita dan pentingnya menjaga keberadaan mereka,” ujarnya.
IAPVC 2026 menghadirkan sejumlah kategori, antara lain Wildlife Photo Story, Wildlife Young Creator, Wildlife Short Video Story, Wildlife Roadshow Story Challenge, Wildlife Journalist Story, serta kategori baru People’s Choice Awards. //Bang
