![]() |
| Ketua Umum HIMBARSI (kiri) mendampingi perwakilan dari Pemkot Surakarta melakukan penabuhan gong untuk menandai pembukaan Rakornas HIMBARSI 2026 |
WARTAJOGLO, Solo - Industri Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) terus didorong untuk semakin kuat, modern, dan kompetitif dalam menghadapi dinamika ekonomi serta perkembangan teknologi keuangan.
Upaya memperkuat ekosistem tersebut menjadi semangat utama dalam Event Nasional RAKORNAS HIMBARSI 2026 yang digelar pada 20-22 Agustus 2026 di Mercure Hotel Solo.
Mengusung tema “Bersinergi, Berprestasi, dan Menginspirasi untuk Memperkuat Industri BPR Syariah di Indonesia”, kegiatan nasional ini menjadi momentum berkumpulnya pelaku industri BPRS dari berbagai daerah.
Yang mana tujuannya untuk memperkuat kolaborasi, mengevaluasi perkembangan industri, sekaligus merumuskan strategi menghadapi tantangan ke depan.
Ketua Umum HIMBARSI, Alfi Wijaya, menjelaskan bahwa Rakornas HIMBARSI bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan wadah untuk menghasilkan langkah konkret bagi kemajuan industri BPRS.
“Jadi Rakornas ini agenda tahunan. BPRS seluruh Indonesia kumpul, tapi kita tidak ingin hanya sekadar kumpul. Di sini kita membangun sinergi,” ujar Alfi saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Konsep yang diusung dalam kegiatan kali ini adalah “One Event, Three National Programs”, yakni mengintegrasikan tiga agenda strategis dalam satu rangkaian kegiatan nasional.
Tiga agenda tersebut meliputi Pengundian Hadiah Tabungan Ukhuwah, Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) HIMBARSI, serta BPRS Award 2026.
Menurut Alfi, Program Tabungan Ukhuwah menjadi salah satu wujud nyata sinergi antar-BPRS dalam meningkatkan penghimpunan dana masyarakat. Melalui program tersebut, BPRS yang memiliki keterbatasan skala dapat bersatu menghadirkan program bersama yang lebih menarik bagi nasabah.
“Kalau sendiri-sendiri bikin hadiah tidak bisa. BPRS itu kan banyak yang kecil-kecil. Sehingga kita ukhuwah bareng-bareng. Ini sudah periode ketiga,” katanya.
Tidak berhenti pada program tabungan bersama, HIMBARSI juga tengah menyiapkan langkah lanjutan berupa pengembangan layanan digital bersama.
“Ke depan kita ingin punya mobile banking bersama. Jadi BPRS tidak perlu membuat sendiri-sendiri. Kita berjemaah membangun, infrastrukturnya kita bantu, izinnya kita bantu, mereka tinggal pakai sepanjang menjadi peserta Tabungan Ukhuwah,” jelasnya.
Selain memperkuat sinergi, Rakornas HIMBARSI 2026 juga menjadi ajang memberikan apresiasi melalui BPRS Award 2026.
Penghargaan tersebut diberikan kepada BPRS yang memiliki kinerja terbaik, baik dari sisi keuangan, inovasi, tata kelola, pelayanan, maupun kontribusi sosial.
Penilaian dilakukan secara independen oleh tim dari Karim Consulting Indonesia, sehingga penghargaan diberikan berdasarkan proses yang objektif dan profesional.
“Kita tidak yang menilai sendiri. Ada tim independen yang melakukan penilaian supaya kredibilitasnya terjaga,” ujar Alfi.
Kategori penghargaan dibagi berdasarkan kelompok aset, mulai dari BPRS dengan aset di bawah Rp100 miliar, Rp100-250 miliar, hingga di atas Rp250 miliar.
Selain kinerja keuangan, penilaian juga mencakup inovasi penghimpunan dana, inovasi pembiayaan, serta inovasi sosial finansial.
Dalam Rakornas kali ini, HIMBARSI juga membahas berbagai isu strategis yang tengah dihadapi industri BPRS nasional.
Alfi menyebut terdapat sembilan isu strategis yang menjadi pembahasan dalam sidang komisi dan sidang pleno. Dari berbagai isu tersebut, terdapat tiga tantangan utama yang menjadi perhatian.
Pertama adalah persoalan kualitas pembiayaan. Yang mana menurutnya, kondisi ekonomi yang penuh tantangan berdampak terhadap daya beli masyarakat dan keberlangsungan usaha, sehingga berpengaruh terhadap kemampuan pembayaran pembiayaan.
“Ketika usaha menurun, kemampuan bayar masyarakat juga menurun. Ini membuat kualitas pembiayaan menjadi tantangan yang harus kita pecahkan bersama,” katanya.
Tantangan kedua adalah likuiditas. Di mana kondisi ekonomi saat ini membuat penghimpunan dana masyarakat menjadi lebih kompetitif.
Apalagi dengan adanya berbagai instrumen investasi pemerintah yang menawarkan imbal hasil menarik bagi masyarakat.
“Bagi orang yang punya dana, mereka tentu memilih instrumen yang memberikan keuntungan lebih baik. Ini menjadi tantangan bagi BPRS dalam menjaga likuiditas,” jelas Alfi.
Sementara tantangan ketiga adalah permodalan. Yang mana saat ini masih terdapat sejumlah BPRS yang perlu memperkuat modal agar memenuhi ketentuan regulator.
“Modal ini penting, tapi jangan kemudian serampangan. Yang belum memenuhi harus kita dampingi, kita cari solusi bersama,” katanya.
Terkait jumlah anggota HIMBARSI yang saat ini mencapai 172 BPRS di seluruh Indonesia, Alfi menjelaskan adanya perubahan jumlah bukan semata-mata karena penutupan lembaga.
Menurutnya, terdapat dua faktor yang menyebabkan perubahan jumlah BPRS. Pertama, adanya beberapa BPRS yang menghadapi kendala pemenuhan modal.
Kedua, adanya kebijakan merger atau konsolidasi bagi BPRS yang berada dalam kepemilikan pemegang saham pengendali yang sama.
Gelar Rakornas 2026, HIMBARSI Dorong Penguatan Industri BPRS Nasional https://t.co/zmfRChGpSs
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) August 21, 2026
“Kalau merger, misalnya ada tiga BPRS bergabung menjadi satu, tentu jumlahnya secara administratif berkurang. Jadi ada dua faktor, karena ketentuan dan karena konsolidasi,” paparnya.
Alfi pun menegaskan bahwa meski menghadapi berbagai tantangan, HIMBARSI optimistis industri BPRS tetap memiliki peluang besar untuk berkembang, karena memiliki kedekatan dengan masyarakat, terutama sektor UMKM dan ekonomi daerah. //Kls
