TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Dressing for Healing, Saat Busana Menjadi Bagian dari Self-Care Perempuan

Psikolog Vina Nugroho, S.Psi., M.Psi. saat menyampaikan materi di acara SIMPLICITY SMART CIRCLE

WARTAJOGLO, Sukoharjo – Memilih pakaian sering kali dianggap sekadar urusan penampilan. Padahal, bagi perempuan yang setiap hari menjalani beragam peran, busana dapat menjadi bagian dari cara membangun rasa percaya diri, menerima tubuh, sekaligus mengekspresikan diri.

Perspektif itulah yang diangkat dalam kegiatan SIMPLICITY SMART CIRCLE: Live Talkshow & Workshop “Dressing for Healing” yang digelar di Pakuwon Mall Solo Baru, Sabtu 26 September 2026 siang.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bincang dan pembelajaran bagi perempuan untuk melihat hubungan antara fashion dengan kesehatan emosional. 

Peserta diajak membicarakan fashion dan self-confidence, positive body image, dressing sebagai bentuk self-care dan self-expression, hingga tips styling agar tetap percaya diri dalam berbagai kesempatan.

Talkshow menghadirkan Vina Nugroho, S.Psi., M.Psi., Psikolog Klinis dan Mental Health Educator, yang membahas sisi psikologis di balik pilihan busana. Acara juga dilengkapi sesi Chit Chat Fashion Styling by Simplicity.

Kegiatan tersebut didukung Born to Inspire, dengan Womanpreneur Community (WPC) Chapter Solo Raya sebagai Community Partner.

Ketua WPC Chapter Solo Raya, Stephany Esty Mulatsasi, yang akrab disapa Pephy, mengatakan kolaborasi tersebut bermula dari pihak Simplicity yang mengajak WPC untuk berpartisipasi sekaligus mengajak para anggotanya hadir dalam kegiatan.

“Kolaborasinya muncul dari Simplicity yang mengajak Womenpreneur Community untuk mendatangkan peserta supaya lebih mengenal brand Simplicity, tapi juga Simplicity sendiri bisa memberikan manfaat bagi para perempuan,” ujar Pephy saat ditemui di sela-sela acara.

Menurutnya, konsep dan tema acara memang berasal dari Simplicity. Namun, Pepi kemudian mengusulkan agar sesi yang semula mengarah pada konsultasi seperti color analysis diperluas dengan menghadirkan perspektif psikologi.

Bagi Pephy, pendekatan tersebut dinilai lebih menyentuh kebutuhan perempuan secara personal.

“Aku merasa sesuatu yang menyentuh secara emosional itu akan lebih memberikan dampak atau manfaat buat teman-teman perempuan,” tuturnya.

Ia kemudian mengusulkan nama Vina Nugroho untuk mengisi sesi tersebut. Vina sebelumnya juga pernah terlibat dalam kegiatan WPC sehingga dinilai memiliki perspektif yang relevan dengan kebutuhan komunitas perempuan.

Pephy menjelaskan, pilihan menghadirkan psikolog juga tidak terlepas dari karakter WPC sebagai komunitas perempuan pengusaha. 

Selama ini, berbagai kegiatan WPC memang banyak berkaitan dengan pengembangan bisnis.

Namun, menurutnya, perempuan yang menjalankan usaha juga membutuhkan ruang untuk belajar mengenai dirinya sendiri.

“Sebagai perempuan yang menjalankan bisnis pasti ada sesuatu yang mana kita memerlukan dukungan secara psikologis atau emosional dalam menjalani peran kita,” katanya.

Karena itu, WPC berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berkutat pada omzet, pemasaran maupun pengembangan usaha. 

Perempuan juga perlu mendapatkan bekal untuk memahami dirinya, merawat diri dan membangun ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Perempuan enggak hanya belajar soal bisnis, tetapi juga mengenai psikologi, bagaimana merawat dirinya, bagaimana menjadi perempuan yang tangguh. Karena kita pengusaha, kita juga harus punya mindset yang tangguh,” lanjutnya.

Pephy menilai kebutuhan tersebut semakin relevan karena perempuan kerap menjalani banyak peran dalam waktu yang bersamaan. 

Seorang perempuan bisa menjadi pengusaha, ibu, pasangan, anggota keluarga maupun bagian dari komunitas.

Situasi itu membuat persoalan berpakaian sebenarnya tidak sesederhana menentukan pakaian yang bagus atau mengikuti tren.

“Setiap hari kita ganti-ganti peran. Tapi bagaimana kita memilih baju supaya fit and proper seharian walaupun kita berganti peran,” ujarnya.

Dari sinilah fashion kemudian ditempatkan bukan hanya sebagai persoalan estetika, tetapi sebagai bagian dari keseharian perempuan dalam membangun kenyamanan dan kepercayaan diri.

Konsep Dressing for Healing mencoba membuka ruang bahwa hubungan seseorang dengan pakaian juga dapat berkaitan dengan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.

Busana yang nyaman dan sesuai dengan karakter personal dapat membantu seseorang merasa lebih siap menjalani aktivitas. 

Sebaliknya, tekanan untuk selalu memenuhi standar penampilan tertentu dapat membuat seseorang justru semakin jauh dari penerimaan terhadap dirinya.

Melalui diskusi bersama psikolog dan sesi styling, peserta diajak melihat pilihan busana dari perspektif yang lebih luas. 

Bukan sekadar apakah pakaian tersebut sedang tren, melainkan apakah pilihan tersebut membuat seseorang merasa nyaman, percaya diri dan mampu mengekspresikan dirinya.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa merawat diri tidak selalu harus diwujudkan dalam aktivitas yang besar. 

Hal sederhana seperti mengenali kebutuhan tubuh, memilih pakaian yang sesuai dan merasa nyaman dengan penampilan juga dapat menjadi bagian dari self-care.

Bagi WPC Solo Raya, perspektif semacam itu penting untuk melengkapi pengembangan kapasitas perempuan pengusaha.

“Supaya ada keragaman acara, bahwasanya kita enggak hanya melulu belajar soal bisnis, maka kita belajar tentang diri kita sendiri,” tandas Pephy. //Kls

Type above and press Enter to search.