TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Media Jangan Sekadar Memberitakan Perempuan, Tapi Beri Ruang untuk Bersuara

Dr. Likha Sari Anggreni menyampaikan pentingnya pemberitaan yang berperspektif gender

WARTAJOGLO, Solo – Pemberitaan tentang perempuan belum tentu otomatis menjadi pemberitaan yang responsif gender. 

Yang lebih penting bukan sekadar seberapa sering perempuan muncul dalam berita, tetapi bagaimana mereka direpresentasikan, diberi ruang bicara dan ditempatkan dalam konteks persoalan yang lebih luas.

Hal itu menjadi salah satu sorotan dalam Rapat Koordinasi Jejaring Forum Media Responsif Gender Kota Surakarta yang digelar di Gedung Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Rabu 23 September 2026.

Ketua DP3AP2KB Kota Surakarta, Kristiana Hariyanti, mengatakan media memiliki posisi strategis dalam mendorong pengarusutamaan gender (PUG). 

Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga instrumen edukasi, pembentuk opini publik sekaligus agen perubahan sosial.

Karena itu, ia mengajak insan media menghindari eksploitasi dan viktimisasi, khususnya dalam pemberitaan perempuan dan anak. 

Sebaliknya, media didorong lebih banyak mengangkat praktik baik, keberhasilan serta edukasi mengenai kesetaraan gender.

“Media bukan sekadar penyampai informasi, melainkan juga instrumen edukasi, pembentuk opini publik sekaligus agen perubahan sosial,” ujarnya.

Pesan tersebut mendapat penguatan dari praktisi komunikasi dan media dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Likha Sari Anggreni, yang memaparkan materi “Beyond the Headline: Membangun Pemberitaan Media yang Responsif Gender.”

Menurut Likha, keberadaan perempuan dalam sebuah berita belum menjadi ukuran bahwa berita tersebut sudah memiliki perspektif gender. 

Sebab, sebuah berita tetap bisa menggunakan sudut pandang stereotip, menyalahkan korban, mengabaikan relasi kuasa atau menjadikan perempuan sekadar objek pemberitaan.

Likha mengajak jurnalis melihat kembali sedikitnya lima titik yang berpotensi menghadirkan bias gender dalam pemberitaan: angle, source, language, visual dan context.

Pertanyaan sederhananya, dari sudut pandang siapa cerita dibuat? Siapa yang mendapatkan ruang bicara? Apakah pilihan kata justru melahirkan stereotip? Apakah foto mengeksploitasi korban? Dan apakah berita berhenti pada peristiwa tanpa menjelaskan konteks di baliknya?

Dalam materi analisis terhadap 17 berita, Likha menunjukkan bahwa perempuan sebenarnya sudah cukup banyak tampil sebagai subjek pemberitaan. 

Namun, visibility tersebut belum otomatis berarti perspektif gender sudah hadir. Masih terdapat ruang untuk memperkuat agency dan konteks struktural.

"Representasi perempuan perlu bergerak dari sekadar “perempuan hadir” menjadi “perempuan bersuara”, lalu berkembang menjadi perempuan sebagai aktor yang memiliki pilihan, kapasitas dan kemampuan mengambil keputusan," katanya.

Dalam pemberitaan kasus sensitif, khususnya kekerasan terhadap perempuan dan anak, pendekatan tersebut menjadi semakin penting.

Likha menekankan perlunya menjelaskan relasi kuasa, melindungi identitas korban, menghindari victim blaming serta memastikan informasi yang disajikan tidak justru memperbesar penderitaan korban.

"Media juga perlu bergerak dari sekadar memotret peristiwa menuju pemahaman terhadap struktur yang melatarbelakanginya. Artinya, berita tidak berhenti pada siapa melakukan apa, tetapi menggali kondisi sosial, ekonomi, budaya, kebijakan dan relasi kuasa yang ikut membentuk sebuah persoalan," lanjutnya.

Bahkan data gender, menurut Likha, bukan sekadar angka. Data bisa menjadi pintu masuk untuk menemukan kesenjangan yang tidak terlihat di permukaan. 

Pertanyaannya bukan hanya “berapa jumlahnya”, tetapi juga siapa yang berada di balik angka tersebut, siapa yang tertinggal dan mengapa kesenjangan itu terjadi.

"Jurnalisme responsif gender bukan berarti media harus “pro-perempuan”. Perspektif ini justru mendorong proses jurnalistik yang lebih lengkap dengan menghadirkan fakta secara utuh, memberikan ruang suara yang proporsional, menghindari stereotip, menghadirkan konteks dan tetap menghormati martabat manusia," tandasnya. //Bang

Type above and press Enter to search.