TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Mendiktisaintek Dorong ISI Surakarta Jadi Kampus Seni Beridentitas Kuat

Rektor ISI Surakarta memberikan tokoh wayang Raden Setyaki kepada Mendiktisaintek

WARTAJOGLO, Solo – Menjadi perguruan tinggi seni tidak berarti harus mengejar bentuk universitas umum. 

Justru kekuatan ISI Surakarta terletak pada sesuatu yang tidak mudah dimiliki kampus lain: kekayaan seni, budaya, tradisi, pengetahuan lokal, hingga ekosistem kreatif yang telah tumbuh selama puluhan tahun.

Karena itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk semakin memperkuat identitasnya sebagai kampus seni.

Pesan tersebut disampaikan Brian saat melakukan kunjungan kerja ke ISI Surakarta, Jumat 18 September 2026. 

Kunjungan ini menjadi momentum untuk menggali perspektif mengenai pengembangan pendidikan seni sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi seni terhadap pembangunan sumber daya manusia dan kebudayaan Indonesia.

“Jangan menjadi universitas umum versi kecil. Jadilah kampus seni yang sangat kuat identitasnya,” tegas Brian.

Menurut Brian, universitas umum memang memiliki keunggulan pada keluasan disiplin ilmu, laboratorium sains, teknologi, kedokteran, dan berbagai bidang lainnya.

Namun, ISI Surakarta memiliki kekuatan yang berbeda, karena punya modal budaya atau cultural capital yang terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang. 

Di dalamnya terdapat tradisi artistik, pengetahuan lokal, maestro seni, repertoar karya, arsip budaya, komunitas seni, serta ekosistem penciptaan yang tumbuh beriringan dengan kehidupan budaya masyarakat.

Seluruh kekayaan tersebut, menurut Brian, harus menjadi fondasi untuk membangun keunggulan ISI Surakarta.

Karena itu, ia mendorong kampus untuk menjawab satu pertanyaan strategis.

“Apa yang hanya dapat dilakukan oleh ISI Surakarta, tetapi sulit dilakukan oleh universitas lain?” ujarnya.

Pertanyaan tersebut sekaligus menjadi tantangan agar ISI Surakarta tidak sekadar mengikuti pola pengembangan perguruan tinggi umum, tetapi menemukan model kemajuan yang sesuai dengan karakter dan kekuatan yang dimilikinya.

Dalam kunjungan tersebut, Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala memaparkan sejarah, capaian, serta arah pengembangan institusi.

Sejarah ISI Surakarta tidak dapat dilepaskan dari perkembangan seni dan kebudayaan di Kota Solo. 

Institusi ini berakar dari Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang berdiri pada 1965 atas prakarsa Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Djojokusumo, putra Sri Susuhunan Pakubuwana X.

Pada masa awal perkembangannya, aktivitas institusi berlangsung di Sasonomulyo, kawasan Keraton Kasunanan Surakarta.

Perjalanan waktu kemudian membawa kampus berpindah ke Kampus Kentingan, Jebres. Perpindahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang institusi hingga berkembang menjadi ISI Surakarta seperti sekarang.

Akar sejarah tersebut menjadi modal penting bagi ISI Surakarta dalam menjalankan perannya sebagai pusat pendidikan, penciptaan, penelitian, dan pengembangan seni.

Bondet menegaskan komitmen institusinya untuk terus melestarikan seni dan budaya sekaligus menghasilkan lulusan profesional yang mampu menjawab tantangan zaman.

Penguatan penelitian, penciptaan karya, inovasi, serta kolaborasi nasional dan internasional juga terus dilakukan.

Arah tersebut sejalan dengan visi ISI Surakarta untuk menjadi pusat pengetahuan, penciptaan, inovasi, dan diplomasi seni-budaya Nusantara yang berakar di Surakarta serta memiliki jejaring global.

Brian menegaskan, seni tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek pelestarian.

Kekayaan seni dan budaya Indonesia harus dikelola secara serius sehingga mampu berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Untuk itu, penguatan pendidikan seni perlu berjalan melalui tata kelola akademik yang baik, pengembangan talenta, penelitian, inovasi, dan kolaborasi.

ISI Surakarta memiliki modal besar untuk menjalankan agenda tersebut karena ekosistem seni telah menjadi bagian dari perjalanan institusi selama puluhan tahun.

Tantangannya adalah bagaimana kekayaan itu dapat diterjemahkan menjadi karya dan pengetahuan baru yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Pengembangan fasilitas pembelajaran menjadi salah satu bagian dari agenda tersebut. ISI Surakarta juga tengah merencanakan penguatan institusi melalui digitalisasi dan sentralisasi layanan guna meningkatkan efektivitas pelayanan akademik dan administrasi.

Modernisasi tersebut diharapkan bukan untuk mengubah karakter kampus, melainkan menjadi instrumen untuk memperkuat fungsi ISI Surakarta sebagai perguruan tinggi seni. //Bang

Type above and press Enter to search.