![]() |
| Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon melakukan pengguntingan pita untuk menandai peresmian kantor Dalem Panembahan Agung Tedjowulan di komplek Keraton Surakarta Hadiningrat |
WARTAJOGLO, Solo – Upaya menata kembali pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memasuki babak baru.
Sebuah kantor untuk Kanjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan di dalam kompleks keraton resmi digunakan, pada Rabu 23 September 2026.
Peresmian kantor tersebut dilakukan langsung Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
Ini menjadi penanda dimulainya kerja bersama untuk menata kawasan sekaligus merajut kembali hubungan antar elemen keluarga besar Keraton Surakarta.
Suasana peresmian berlangsung khidmat. Hadir Sinuhun Pakubuwono XIV Hangabehi, Fadli Zon beserta sejumlah staf khususnya, Wali Kota Surakarta, Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat GKR Wandansari atau Gusti Moeng, serta para putra-putri mendiang Sinuhun Pakubuwono XII dan Pakubuwono XIII.
Tedjowulan sendiri ditunjuk pemerintah sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan/atau Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Dalam sambutannya, Tedjowulan menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih atas perhatian pemerintah terhadap Keraton Surakarta.
Ia menegaskan, salah satu tugas yang diembannya adalah mengajak berbagai pihak di lingkungan keraton untuk kembali berjalan bersama.
“Yang mana saya ditugasi untuk mengajak bersama-sama untuk rukun kembali,” kata Tedjowulan.
Ia menyebut selama ini GKR Wandansari menjadi salah satu pihak yang aktif mengikuti perkembangan keraton. Bahkan, menurutnya, Gusti Moeng hampir setiap hari berada di lingkungan keraton untuk memantau berbagai perkembangan.
Tedjowulan juga mengungkapkan dirinya telah beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Sinuhun PB XIV Hangabehi.
Kini, dengan kantor yang berada di lingkungan keraton, ia berharap komunikasi dan koordinasi dapat dilakukan lebih intensif.
“Berarti 14 + 14 ada 28,” ujarnya, merujuk pada posisi kantor yang akan membuatnya bertetangga dengan pihak Sinuhun PB XIV.
Bagi Tedjowulan, keberadaan kantor tersebut bukan semata tempat bekerja. Ruang itu akan menjadi tempat menyusun langkah konkret mengenai tugas, tanggung jawab, hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Ia bahkan menargetkan dalam kurun sekitar delapan tahun ke depan, Keraton Surakarta sudah mampu mewujudkan berbagai hal yang diharapkan pemerintah dalam pengelolaan kawasan cagar budaya tersebut.
“Saya akan mencoba untuk mengajak program-program kerja atau anggaran jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang itu seperti apa,” katanya.
Tedjowulan juga menekankan pentingnya memiliki patokan yang jelas dalam menjalankan tugas. Koordinasi, terutama dengan Sinuhun PB XIV dan GKR Wandansari, menurut dia, diperlukan agar berbagai pihak tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Sehingga kita itu tidak diadu-adu. Jadi kita bergerak berjalan itu memang ada patokannya,” tegasnya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menempatkan peresmian kantor tersebut sebagai bagian dari agenda yang lebih besar, yakni revitalisasi Keraton Surakarta.
Menurutnya, revitalisasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan keluarga besar keraton.
Fadli menegaskan bahwa kebudayaan tidak semestinya dipandang sebagai beban pembiayaan.
“Budaya ini bukan cost center, bukan beban biaya. Ini adalah investasi. Ini adalah investasi budaya,” ujarnya.
Karena itu, aset-aset budaya, termasuk kawasan Keraton Surakarta, menurut Fadli perlu dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi dan industri budaya.
Revitalisasi, kata dia, bukan sekadar memperbaiki bangunan yang rusak. Lebih jauh, kawasan keraton harus mampu dimanfaatkan sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Fadli membayangkan Keraton Surakarta ke depan tidak hanya menjadi kawasan yang dilindungi, tetapi juga memiliki ekosistem budaya yang hidup dan berkelanjutan.
“Jadi ada konservasinya, ada perlindungannya, tapi tetap harus menghasilkan,” katanya.
Untuk mencapai hal tersebut, ia menekankan pentingnya manajemen yang profesional, terukur, transparan dan akuntabel.
Dengan manajemen yang baik, pemerintah berharap Keraton Surakarta mampu bertahan bukan hanya puluhan tahun, tetapi hingga ratusan tahun mendatang.
Fadli juga melihat potensi besar Keraton Surakarta untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan sejarah.
Tidak hanya wisata budaya dan sejarah, kawasan tersebut menurutnya juga berpotensi menjadi destinasi wisata religi, literasi, kuliner hingga wastra.
Namun yang tidak kalah penting, revitalisasi harus menghidupkan kembali nilai-nilai yang menjadi ruh keraton.
“Yang kita pulihkan bukan hanya bangunan-bangunannya, tapi juga nilai-nilai, tradisi-tradisi, keteladanan yang ada di sini,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, keberadaan Panembahan Agung Tedjowulan menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah membangun tata kelola kawasan.
Fadli menyebut pekerjaan rumah berikutnya adalah bagaimana berbagai pihak yang selama ini memiliki posisi dan pandangan berbeda dapat duduk bersama.
"Yang penting jangan ada lagi yang 28 itu. Jadi harus kembali jadi 14," ucap Fadli yang disambut tawa para hadirin.
Fadli meyakini persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah dan mufakat.
Ia bahkan mengingatkan kembali sejarah ketika Sinuhun Pakubuwono XII mengambil sikap besar dengan mengakui kemerdekaan Republik Indonesia dan bergabung dengan NKRI.
Menurutnya, keputusan besar tersebut menunjukkan adanya jiwa besar yang bisa menjadi teladan dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan keraton.
“Kalau untuk manajemen kawasan ini ibaratnya relatif lebih mudah lah ketimbang mengambil keputusan besar PB XII bergabung dengan NKRI itu,” kata Fadli.
Setelah memberikan sambutan, Fadli Zon bersama Panembahan Agung Tedjowulan dan Sinuhun PB XIV Hangabehi melakukan pengguntingan pita sebagai tanda peresmian kantor baru tersebut.
Fadli kemudian meninjau bagian dalam kantor yang tampak begitu indah lengkap dengan furniture baru yang cukup mewah.
Resmikan Kantor Dalem Panembahan Agung Tedjowulan, Fadli Zon: PR Berikutnya Semua Harus Rukun https://t.co/gC9lSGWaOs
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) September 24, 2026
Di salah satu bagian ruangan tampak sebuah lukisan berukuran besar yang menampilkan sosok mendiang Sinuhun Pakubuwono XII.
Usai meresmikan kantorPanembahan Agung, Fadli Zon lantas meninjau beberapa tempat yang menjadi cakupan dari proyek revitalisasi, salah satunya Ndalem Prabuwinatan. //Sik
