![]() |
| KRA Rivo Cahyono mengembangkan layanan kajian kuratorial keris dan Tosan Aji melalui Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi |
WARTAJOGLO, Surabaya - Sebuah keris bukan sekadar benda pusaka. Di balik bilahnya tersimpan cerita tentang bentuk, pamor, ricikan, masa pembuatan hingga perjalanan panjang yang menyertainya.
Namun, ketika pusaka berpindah tangan, satu persoalan kerap muncul: bagaimana memastikan pengetahuan tentang pusaka itu tidak ikut hilang?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang mendorong KRA Rivo Cahyono mengembangkan layanan kajian kuratorial keris dan Tosan Aji melalui Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi.
Berangkat dari pengalamannya sebagai kolektor pusaka sekaligus perjalanan memperoleh kompetensi di bidang kuratorial, Rivo membuka layanan sertifikasi dan kajian kuratorial bagi masyarakat dan kolektor pusaka di Indonesia.
Layanan tersebut tidak hanya ditujukan bagi kolektor senior. Mereka yang baru mulai mengenal dunia keris dan pusaka pun dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan pemahaman lebih terstruktur mengenai benda yang dimilikinya.
Dalam proses kajian, setiap pusaka akan diamati dari berbagai unsur yang dapat didokumentasikan.
Mulai dari dhapur, pamor, ricikan, tangguh atau estimasi periodisasi, perabot, kondisi fisik hingga informasi pendukung lainnya.
Namun, ada satu hal yang membuat konsep Ethnic Indonesia berbeda.
Sertifikat kuratorial yang diterbitkan Ethnic Indonesia ditandatangani oleh tiga kurator keris yang telah memiliki sertifikat kompetensi BNSP, yakni Ilham Triadi, Harjo Herlambang dan KRA Rivo Cahyono.
Konsep tersebut diharapkan memberikan perspektif yang lebih komprehensif terhadap objek yang dikaji.
Meski demikian, Ethnic Indonesia memberikan penegasan penting. Sertifikat tersebut merupakan dokumen hasil kajian kuratorial berdasarkan kondisi objek pada saat diperiksa.
Sertifikasi kompetensi BNSP melekat pada kompetensi kurator yang melakukan kajian, bukan berarti BNSP menerbitkan sertifikat keaslian terhadap sebuah keris.
Dengan kata lain, dokumen tersebut menjadi catatan profesional mengenai hasil pengamatan dan kajian terhadap pusaka, bukan klaim bahwa sebuah keris mendapatkan pengesahan keaslian dari BNSP.
Bagi Rivo, pelestarian pusaka memiliki persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar menjaga benda fisiknya.
Yang tak kalah penting adalah menjaga pengetahuan yang melekat pada pusaka tersebut.
Sebuah keris bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Dari kolektor kepada anak, kemudian kepada cucu, atau bahkan kepada kolektor berikutnya.
Dalam setiap perpindahan itu, ada kemungkinan informasi mengenai pusaka ikut terputus.
Kerisnya tetap ada, tetapi cerita dan pengetahuannya bisa hilang.
Karena itulah Ethnic Indonesia mengembangkan sertifikat yang dilengkapi QR Code. Kode tersebut dapat dipindai untuk mengakses dokumentasi digital mengenai pusaka yang bersangkutan.
Dokumentasi itu dapat memuat identitas pusaka, uraian mengenai dhapur dan pamor, tangguh atau periodisasi, dokumentasi visual serta berbagai informasi lain yang relevan dengan hasil kajian.
“Saya membayangkan suatu hari keris ini berpindah kepada anak, cucu atau kolektor berikutnya. Kerisnya mungkin masih ada, tetapi jangan sampai pengetahuan tentang keris tersebut hilang. Karena itu kami mencoba menghubungkan sertifikat fisik dengan jejak dokumentasi digital,” jelas Rivo.
Gagasan tersebut membuat sertifikasi tidak lagi berhenti sebagai selembar dokumen yang disimpan di dalam kotak atau lemari.
Lebih dari itu, sertifikat menjadi pintu masuk menuju arsip digital sebuah pusaka.
Konsep ini sekaligus menawarkan cara baru dalam melihat pelestarian keris. Bukan hanya melestarikan bilah, warangka, pendok maupun perabotnya, tetapi juga merawat informasi yang menjelaskan identitas dan perjalanan benda tersebut.
Sebab, ketika generasi berganti, benda pusaka mungkin masih dapat diwariskan.
Namun tanpa dokumentasi, pengetahuan mengenai apa yang diwariskan bisa saja perlahan menghilang.
Ethnic Indonesia mencoba mengisi ruang tersebut. Menghubungkan benda fisik dengan dokumentasi digital agar sebuah pusaka tidak hanya tetap ada secara material, tetapi juga tetap memiliki jejak pengetahuan yang dapat ditelusuri oleh generasi berikutnya.
Rivo Cahyono Hadirkan Cara Baru Merawat Keris lewat Ethnic Indonesia https://t.co/HyBvn1HFGf
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) September 10, 2026
Di situlah sertifikasi kuratorial kemudian mendapatkan makna yang lebih luas: bukan sekadar memberi label pada sebuah keris, melainkan menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan tentang pusaka agar tidak ikut terkubur oleh pergantian zaman. //Sik
