![]() |
| Ketua Jurusan Pedalangan ISI Surakarta, Tafsir Huda, M.Sn menjelaskan terkait perayaan Hari Wayang Dunia 2026 |
WARTAJOGLO, Solo – Kekayaan cerita wayang Nusantara tak hanya berkutat pada kisah Ramayana dan Mahabharata.
Beragam cerita lokal dari berbagai daerah menyimpan nilai budaya dan ajaran kehidupan yang tak kalah menarik, tetapi belum banyak dikenal masyarakat luas.
Potensi inilah yang ingin diangkat Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dalam perayaan Hari Wayang Dunia (HWD) ke-12 yang akan digelar Minggu, 1 November 2026.
Mengusung tema “Urubing Blencong: Menjaga Nyala Wayang dari Jagat Lokal ke Panggung Global”, perayaan tahun ini menjadi momentum untuk menggali kembali cerita-cerita asli Indonesia sekaligus memperkenalkan keragaman gaya pedalangan kepada masyarakat yang lebih luas.
Ketua Jurusan Pedalangan ISI Surakarta, Tafsir Huda, M.Sn., mengatakan, selama ini kisah Ramayana dan Mahabharata telah begitu populer dalam dunia pewayangan.
Karena itu, HWD 2026 ingin memberi ruang lebih besar bagi cerita lokal yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Ini memang kita akan menggali mutiara-mutiara kita, mengangkat cerita-cerita asli lokal untuk kemudian kita publikasikan agar masyarakat mengenal dan memahami ajaran-ajaran yang begitu dalam di dalam cerita kita sendiri,” ujarnya dalam konferensi pers di ISI Surakarta, Senin, 26 Oktober 2026.
Menurut Tafsir, cerita-cerita lokal tersebut memiliki kekhasan tersendiri yang perlu terus digali dan diperkenalkan.
Selain memperkaya khazanah pewayangan, upaya ini juga menjadi cara untuk menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ketua panitia HWD 2026, Dr. Tatik Harpawati, M.Sn., menegaskan, pengenalan wayang lokal menjadi salah satu fokus penting dalam penyelenggaraan tahun ini.
Sejak pertama kali digelar pada 2015, Hari Wayang Dunia memang diarahkan untuk memperluas apresiasi terhadap wayang Indonesia hingga ke mancanegara.
Namun, untuk bisa melangkah ke panggung global, kekayaan cerita dan gaya wayang dari berbagai daerah perlu lebih dahulu dikenali dan diapresiasi.
“Pada tahun 2026 ini, HWD ke-12 ingin mempergelarkan wayang-wayang dengan cerita asli Indonesia. Tidak lagi hanya Ramayana dan Mahabharata yang sudah sangat populer di seluruh dunia, tetapi juga cerita-cerita lokal,” jelasnya.
Dari Wayang Beber hingga Wayang Duporo
Upaya mengangkat kekayaan lokal tersebut diwujudkan melalui penampilan berbagai jenis wayang, mulai dari wayang klitik, wayang gedog, wayang duporo, wayang madya, wayang beber, dan wayang golek, hingga wayang garap padat dan wayang sandosa.
Ragam pertunjukan tersebut menggambarkan perjalanan panjang tradisi pedalangan, sekaligus menunjukkan bahwa wayang Indonesia memiliki bentuk, gaya, dan cerita yang beragam.
Direktur Acara dan Kreatif HWD 2026, Halintar Cokro Padnobo, M.Sn., menjelaskan, sejumlah lakon yang disiapkan secara khusus akan membawa penonton menyelami cerita dari tradisi lokal yang berbeda.
Di antaranya yang akan tampil adalah Wayang Gedog dengan lakon Kewayon Mas, Wayang Madya dengan lakon Bedah Perambanan, Wayang Duporo dengan lakon Alap-Alap Sambernyowo, serta Wayang Golek Kebumen dengan lakon Kamandaka Cipta Rasa.
"Lakon Alap-Alap Sambernyowo mengangkat kisah yang berkaitan dengan Raden Mas Said. Sementara itu, Kamandaka Cipta Rasa menjadi representasi cerita lokal dari wilayah Kebumen yang akan diperkenalkan melalui pertunjukan wayang golek," jelas Halilintar yang juga Sekretaris Jurusan Seni Pedalangan ISI Surakarta.
Melalui pilihan lakon tersebut, HWD 2026 tidak sekadar menyuguhkan hiburan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal kembali cerita-cerita daerah yang memiliki kekhasan dan nilai budaya tersendiri.
Selain pertunjukan, rangkaian HWD 2026 juga akan diisi sarasehan, ruwatan massal serta pertunjukan kolaboratif yang melibatkan sejumlah sanggar, seniman, serta lembaga pendidikan, termasuk SMA Negeri 8 Surakarta.
Gali Mutiara Terpendam Cerita Nusantara, HWD 2026 Angkat Potensi Wayang Lokal https://t.co/AEWicI5ziC
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) October 26, 2026
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan generasi muda dalam pelestarian wayang, sekaligus memastikan tradisi pedalangan memiliki ruang untuk terus berkembang.
"Mengangkat wayang lokal bukan berarti membatasi wayang dalam lingkup daerah. Sebaliknya, kekayaan lokal justru menjadi modal penting untuk memperkenalkan identitas budaya Indonesia kepada dunia," tandas Halilintar. //Sik
