![]() |
| Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memimpin Misa Syukur di Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran dalam rangka Perayaan HUT ke-60 Kevikepan Surakarta |
WARTAJOGLO, Solo – Merawat kebudayaan bukan sekadar menjaga warisan masa lalu, tetapi juga membuka ruang perjumpaan bagi masyarakat dengan beragam latar belakang.
Semangat itulah yang mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Kevikepan Surakarta di Pura Mangkunegaran, Rabu 7 Oktober 2026.
Di lingkungan istana yang lekat dengan tradisi Jawa tersebut, keluarga besar umat Katolik Kevikepan Surakarta merayakan enam dekade perjalanan pelayanan melalui misa syukur dan konser teatrikal.
Perayaan ini sekaligus menjadi gambaran bahwa kebudayaan dan kehidupan beragama dapat berjalan beriringan untuk memperkuat kerukunan di tengah masyarakat.
Sebagai tuan rumah, K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X atau yang akrab disapa Gusti Bhre, menyambut kehadiran umat Katolik dengan hangat.
Mangkunegaran memberikan ruang bagi perayaan tersebut dengan tetap menjaga kekhidmatan ibadah serta menghormati tata krama dan tradisi yang berlaku di lingkungan pura.
Gusti Bhre menegaskan, keterbukaan terhadap masyarakat merupakan bagian dari peran Mangkunegaran sebagai institusi kebudayaan yang hidup bersama masyarakat.
"Merawat kebudayaan juga berarti merawat persaudaraan dalam keberagaman. Kami menyambut keluarga besar Kevikepan Surakarta dengan hangat dan ingin agar masyarakat dari beragam latar belakang merasa diterima serta dihargai di Mangkunegaran," ujarnya.
Menurut Gusti Bhre, kerukunan tidak tumbuh dengan sendirinya. Diperlukan kesediaan untuk memberikan ruang bagi sesama, menghormati keyakinan masing-masing, serta menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari.
"Kerukunan tumbuh ketika kita memberi ruang bagi sesama, menghormati keyakinannya, dan menjaga hubungan baik dalam kehidupan sehari-hari," imbuhnya.
Perayaan HUT ke-60 Kevikepan Surakarta diawali dengan Misa Syukur di Pendhapa Ageng Pura Mangkunegaran yang dipimpin Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan konser teatrikal bertajuk Kawula Satuhu di Pamedan Mangkunegaran.
Kehadiran pertunjukan seni menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut, sekaligus memberikan ruang bagi umat untuk membagikan talenta dan mengekspresikan sukacita melalui kebudayaan.
Perjumpaan antara kehidupan religius dan tradisi Jawa ini memperlihatkan bahwa ruang kebudayaan dapat menjadi tempat bertemunya berbagai identitas.
Bukan untuk menghilangkan perbedaan, melainkan membangun kedekatan dengan tetap menghormati keyakinan dan tradisi masing-masing.
Semangat itu selaras dengan tema HUT ke-60 Kevikepan Surakarta, yakni "Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah", yang mengandung makna bersatu, saling melengkapi, dan berbagi berkat bagi sesama.
Tema tersebut tidak berhenti sebagai ungkapan dalam perayaan. Lebih dari itu, nilai-nilainya menjadi ajakan untuk menghadirkan kehidupan bersama yang saling menguatkan, ketika setiap orang memiliki ruang untuk berkontribusi bagi masyarakat.
Vikaris Episkopal Kevikepan Surakarta, Romo Herman Yoseph Singgih Sutoro, Pr., sebelumnya menekankan pentingnya kehadiran umat Katolik yang menyatu dengan masyarakat serta mampu berpadu dengan kebudayaan dan tradisi Jawa.
"Bersama masyarakat Surakarta, Gereja menghadirkan berkat bagi siapa saja," ungkapnya.
Pesan tersebut menegaskan bahwa perjalanan Gereja tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pelayanan bukan hanya diwujudkan melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui keterlibatan dalam kehidupan sosial, penghormatan terhadap budaya lokal, dan upaya membangun persaudaraan lintas latar belakang.
Dalam konteks Surakarta yang memiliki kekayaan tradisi dan kehidupan masyarakat yang beragam, perjumpaan di Mangkunegaran menjadi simbol penting tentang bagaimana perbedaan dapat dirawat dalam semangat kebersamaan.
Gereja hadir dengan identitas dan keyakinannya, sementara Mangkunegaran membuka ruang melalui tradisi kebudayaan yang dijaganya.
Keduanya bertemu dalam semangat saling menghormati dan keinginan untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat.
Kevikepan Surakarta berdiri pada 7 Oktober 1966 sebagai wilayah pelayanan Gereja Katolik di bawah Keuskupan Agung Semarang.
Wilayah pelayanannya mencakup Kota Surakarta serta Kabupaten Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, dan Sragen.
Memasuki usia enam dekade, perayaan ini menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan pelayanan sekaligus memperbarui komitmen agar Gereja semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Jadi Tuan Rumah Perayaan HUT ke-60 Kevikepan Surakarta, Gusti Bhre: Pura Mangkunegaran Terbuka untuk Semua https://t.co/PWKpxbdzLg
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) October 9, 2026
Peringatan ulang tahun tidak semata menjadi penanda bertambahnya usia organisasi, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kontribusi yang telah diberikan dan merumuskan langkah pelayanan ke depan.
Semangat Nyawiji, Mawutuh, Andum Berkah mengajak umat untuk terus berjalan bersama masyarakat, saling melengkapi, dan membagikan berkat tanpa dibatasi perbedaan latar belakang. //SIk
