TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Kuliah ke Luar Negeri Bukan Cuma Soal Kampus, Heri Darsono: Butuh Pendampingan sampai Lulus

Praktisi pendidikan Heri Darsono (kiri) menyebut, diperlukan pendampingan khusus bagi mereka yang ingin kuliah ke luar negeri agar lulus dengan lancar

WARTAJOGLO, Solo – Kuliah di luar negeri kini semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia. Namun, bagi sebagian orang tua, keberangkatan anak ke negara lain bukan sekadar persoalan memilih kampus dan mengurus dokumen. 

Ada kekhawatiran tentang kemampuan beradaptasi, tempat tinggal, kondisi finansial hingga bagaimana memastikan anak tetap mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan selama menempuh pendidikan.

Kekhawatiran itulah yang coba dijawab Heri Darsono, praktisi pemetaan bakat sekaligus konsultan pendidikan luar negeri asal Solo. 

Berbekal pengalaman lebih dari 18 tahun di dunia pendidikan internasional, Heri membangun konsep pendampingan yang tidak berhenti ketika mahasiswa diterima di perguruan tinggi.

Baginya, proses justru baru dimulai ketika seorang anak memutuskan untuk melangkah ke dunia pendidikan global.

“Prinsip utama kami adalah memastikan rasa terjaga dan terpenuhi bagi setiap siswa. Kami tidak sekadar mendaftarkan anak ke universitas lalu lepas tangan,” tegas Heri.

Pendampingan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kesiapan psikologis, pemetaan kemampuan, kondisi finansial, kebutuhan tempat tinggal, hingga pengawalan proses belajar mahasiswa sampai menyelesaikan pendidikan di negara tujuan.

Menurut Heri, keputusan kuliah di luar negeri idealnya tidak dimulai dari pertanyaan negara mana yang paling populer atau kampus mana yang paling bergengsi. Langkah pertama justru memahami potensi dan arah masa depan siswa.

Karena itu, calon mahasiswa sejak jenjang SMP hingga SMA dapat menjalani pemetaan bakat dan potensi diri. 

Proses tersebut menggunakan analisis bakat genetik melalui tes sidik jari serta asesmen potensi terlisensi seperti Career Direct.

Pemetaan itu menjadi dasar untuk mempertemukan talent dan passion siswa sebelum menentukan jurusan maupun negara tujuan.

“Jangan sampai anak masuk jurusan hanya karena ikut teman atau karena jurusan itu sedang dianggap bagus. Ketika pilihan tidak sesuai dengan potensi dan minat, tekanan akademik bisa menjadi jauh lebih berat,” jelasnya.

Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mencegah persoalan salah jurusan yang kerap baru disadari setelah mahasiswa menjalani perkuliahan.

Setelah arah studi ditentukan, kesiapan akademik dan bahasa menjadi perhatian berikutnya. Terutama bagi siswa yang memilih negara dengan bahasa pengantar selain Inggris, seperti Jerman, Belanda, Korea, Jepang, Swiss maupun China.

Jerman, misalnya, membutuhkan persiapan bahasa yang cukup panjang. Calon mahasiswa perlu mengalokasikan waktu sekitar satu tahun untuk memantapkan kemampuan bahasa Jerman sebelum mengikuti proses seleksi Studienkolleg.

Selain bahasa, kesesuaian kurikulum juga tidak bisa diabaikan. Tim konsultan melakukan evaluasi terhadap kurikulum sekolah asal dan akreditasi perguruan tinggi untuk memastikan calon mahasiswa memenuhi persyaratan akademik di negara tujuan.

Dengan demikian, keberangkatan tidak sekadar berdasarkan keinginan, tetapi melalui persiapan yang memperhitungkan persyaratan pendidikan di masing-masing negara.

Salah satu persoalan yang sering menjadi kekhawatiran orang tua adalah kehidupan anak setelah tiba di negara tujuan.

Heri mencoba menjawab persoalan tersebut melalui layanan yang bersifat holistik. Sejak awal, kondisi finansial keluarga dianalisis agar rencana pendidikan dapat disusun secara realistis.

Pendampingan kemudian dapat berlanjut pada kebutuhan tempat tinggal, termasuk pengurusan kontrak dan pembayaran akomodasi. 

Setibanya di negara tujuan, mahasiswa juga dapat memperoleh bantuan penjemputan serta asistensi ketika menghadapi kendala selama menjalani studi.

Konsep tersebut menjadi pembeda utama yang ditawarkan Heri. Bukan hanya membantu seorang siswa berangkat, tetapi memastikan mereka mampu menjalani dan menyelesaikan perjalanan pendidikan di negeri orang.

Pengalaman Heri selama lebih dari 18 tahun juga didukung jaringan kerja sama dengan lebih dari 550 institusi pendidikan di 50 negara.

Menurutnya, pendidikan luar negeri dapat menjadi modal kompetitif bagi lulusan ketika masuk ke dunia kerja, terutama jika sejak awal mahasiswa mengambil bidang yang spesifik dan memperkuatnya dengan sertifikasi maupun keterampilan tambahan.

“Lulusan dari kampus luar negeri yang dibekali keahlian spesifik memiliki daya saing yang sangat kuat,” ujarnya.

Ia mencontohkan, fresh graduate lulusan universitas di Malaysia yang bekerja di Jakarta rata-rata dapat memperoleh standar gaji sekitar dua hingga tiga kali UMK Jakarta. 

Menurutnya, potensi tersebut masih dapat berkembang seiring bertambahnya sertifikasi dan keterampilan khusus yang dimiliki lulusan.

Bagi Heri, pendidikan internasional pada akhirnya bukan sekadar tentang mendapatkan gelar dari negara lain. 

Yang lebih penting adalah bagaimana proses tersebut benar-benar menjadi jalan bagi anak muda untuk menemukan potensi, membangun kompetensi dan memiliki daya saing di tingkat global.

Sebagai putra asli Solo dan alumni angkatan pertama SMA Christian Kalam Kudus Surakarta, Heri berharap semakin banyak generasi muda dari Solo dan sekitarnya yang berani keluar dari zona nyaman dan mengambil kesempatan di panggung internasional.

Dengan persiapan yang matang dan pendampingan yang utuh, menurutnya, kuliah di luar negeri tidak harus menjadi perjalanan yang penuh kecemasan bagi anak maupun orang tua.

Sebab, yang dibutuhkan bukan hanya tiket untuk berangkat, tetapi juga pendampingan hingga benar-benar siap pulang membawa gelar dan kompetensi untuk masa depan. //Sik

Type above and press Enter to search.