![]() |
| People & Culture Director Permata Bank, Dayan Sadikin (kiri) menyerahkan bantuan secara simbolis kepada SLB Negeri Surakarta yang diterima oleh Musowir, selaku PLH Kepala Sekolah (kanan) |
WARTAJOGLO, Solo – Edukasi keuangan digital tak hanya penting bagi orang dewasa, tetapi juga perlu dikenalkan sejak dini kepada anak-anak, termasuk siswa berkebutuhan khusus.
Semangat inilah yang dibawa Permata Bank melalui program Permata CERITA (Cinta dan Edukasi daRI kiTA) bertema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA” di SLB Negeri Surakarta, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan diawali dengan seremoni peluncuran Batik Cilup, karya kreatif siswa SLB Negeri Surakarta yang memadukan teknik ciprat dan celup. Hasil kreasi tersebut kini dikembangkan menjadi seragam bagi siswa dan guru di sekolah itu.
Peluncuran ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Jawa Tengah, Agung Wijayanto.
Acara dilanjutkan dengan penyematan seragam Batik Cilup kepada sejumlah perwakilan siswa.
Penyematan seragam tersebut dilakukan oleh Agung Wijayanto, People & Culture Director Permata Bank, Dayan Sadikin, serta Plh Kepala SLB Negeri Surakarta, Musowir.
Dayan Sadikin mengatakan, Permata CERITA merupakan program tanggung jawab sosial perusahaan yang telah dijalankan selama kurang lebih 10 tahun.
Bertepatan dengan ulang tahun Permata Bank ke-24, kegiatan tahun ini digelar serentak di 24 kota.
“Ini adalah kegiatan tahunan dari Permata Bank yang diberikan nama CERITA, atau Cinta dan Edukasi dari Kita. Ini merupakan program untuk mendukung literasi keuangan,” ujar Dayan saat ditemui di sela-sela acara.
Tahun ini, Permata CERITA menghadirkan pendekatan baru dengan menyasar siswa SMP untuk pertama kalinya sekaligus memperluas jangkauan edukasi ke sekolah luar biasa.
Menurut Dayan, literasi keuangan dibutuhkan semua anak tanpa terkecuali. Siswa SLB pun memiliki tanggung jawab untuk mengelola keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari kegiatan ini, siswa bisa belajar mengelola uang saku, mengenal pembayaran digital melalui QRIS, serta mewaspadai penipuan dengan metode 3A: Amati, Awasi, Adukan.
Materi disampaikan melalui video, simulasi permainan, dan kuis interaktif dengan melibatkan lebih dari 500 Employee Volunteers (EVO) Permata Bank di berbagai kota.
Pentingnya edukasi tersebut sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 dari OJK, LPS, dan BPS. Indeks literasi keuangan kelompok usia 15–17 tahun tercatat 56,04 persen, sedangkan indeks inklusi keuangannya mencapai 89,13 persen.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa akses layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Dayan juga mengapresiasi kreativitas siswa SLB Negeri Surakarta dalam menghasilkan Batik Cilup.
Menurutnya, karya tersebut menunjukkan bahwa siswa mampu menghasilkan produk bernilai guna dan berpotensi memberikan manfaat ekonomi.
“Kita senang melihat anak-anak bisa berdaya guna, menghasilkan sesuatu yang nyata. Hasil karya mereka ini bisa dijual dan memang ada kebermanfaatan yang nyata,” katanya.
Pentingnya Edukasi Keuangan untuk Anak Berkebutuhan Khusus, Permata CERITA Sasar SLB Negeri Surakarta https://t.co/D66VgpftzA
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) October 16, 2026
Selain edukasi keuangan, Permata Bank turut memberikan bantuan sarana bagi sekolah, termasuk untuk mendukung kebutuhan pembangunan kanopi.
Program Permata CERITA 2026 sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) dari OJK, momentum Bulan Inklusi Keuangan 2026, serta program PeKA (Peduli, Kenali, dan Adukan) dari Bank Indonesia. //Her
