TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Puluhan Ribu Jamaah Bakal Padati Haul Solo, Begini Persiapan Pemkot dan Keraton Surakarta

Wali Kota Surakarta Respati Ardi (kiri) saat meninjau persiapan penyambutan jamaah Haul Solo di kawasan Alun-alun Utara Keraton Surakarta Hadiningrat

WARTAJOGLO, Solo – Kota Solo bersiap menyambut gelombang besar jamaah dari berbagai daerah yang akan menghadiri puncak Haul Habib Ali (Haul Solo) ke-115 di Masjid Riyadh, Pasar Kliwon, Sabtu 3 Oktober 2026. 

Dari Kabupaten Pasuruan saja, diperkirakan sekitar 10.000 jamaah akan memadati Kota Solo.

Besarnya jumlah jamaah yang datang dalam waktu relatif bersamaan menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta dan Keraton Surakarta Hadiningrat. Berbagai persiapan pun dimatangkan, mulai dari pengelolaan kawasan, transportasi, fasilitas umum hingga pengamanan.

Sehari menjelang puncak haul, Jumat (2/10/2026), Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto atau Respati Ardi meninjau kesiapan kawasan Alun-Alun Utara Keraton Surakarta Hadiningrat.

Dalam peninjauan tersebut, Respati didampingi KPH Eddy Wirabhumi selaku Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat dan BRAj. Lung Ayu, cucu Pakubuwono XII (PB XII), serta jajaran terkait dari Kecamatan Pasar Kliwon, kepolisian dan Dinas Perhubungan.

KPH Eddy Wirabhumi mengatakan, menghadapi kedatangan jamaah dalam jumlah besar bukan semata-mata persoalan penyediaan fasilitas fisik. 

Diperlukan manajemen kawasan dan transportasi yang terintegrasi agar arus kedatangan jamaah dapat dikelola dengan baik.

“Ini bukan hanya masalah fisik, tetapi masalah manajemen pengelolaan kawasan dan transportasi. Mau tidak mau kita harus menghadapi kedatangan mereka agar tidak jadi masalah, tetapi bisa diberdayakan,” ujarnya.

Menurut Eddy, jumlah jamaah dari satu kabupaten saja sudah mencapai angka yang cukup besar. 

Jika digabungkan dengan jamaah dari daerah lain, potensi kepadatan tentu semakin tinggi, terlebih jika kedatangan mereka berlangsung dalam waktu berdekatan.

“Pasuruan ini satu kabupaten saja 10 ribu. Kalau kemudian kabupaten yang lain, misalnya sampai 20 ribuan, dalam waktu yang begitu pendek, kalau tidak dimanajemen bersama dengan baik, itu jadi masalah,” katanya.

Karena itu, koordinasi antara Karaton, Pemkot Surakarta, TNI-Polri dan berbagai unsur terkait menjadi hal penting. 

Pengelolaan tidak hanya menyangkut kelancaran lalu lintas, tetapi juga ketersediaan tempat istirahat, sanitasi, air bersih serta kebutuhan dasar para jamaah.

Eddy mengingatkan, pengalaman penyelenggaraan kegiatan sebelumnya menunjukkan bahwa jamaah dalam jumlah besar membutuhkan fasilitas yang memadai, terutama tempat beristirahat dan sanitasi, agar aktivitas mereka tidak menimbulkan persoalan di ruang publik.

Untuk mendukung pelayanan, sejumlah fasilitas disiapkan di kawasan pendukung, di antaranya CCTV, kursi, area antrean, toilet, pasokan air hingga fasilitas mandi. Pemkot Surakarta juga menyediakan toilet portabel di sejumlah lokasi.

“Termasuk penyediaan air, termasuk toilet. Tadi dalam pembicaraan Mas Wali dengan Bu Ayu, ada toilet portable dari pemerintah kota. Mudah-mudahan kita bisa semaksimal yang kita bisa,” jelasnya.

Sementara itu, Respati Ardi menyampaikan bahwa Pemkot Surakarta juga menambah tenda pendukung di kawasan Alun-Alun Utara. 

Saat ini, sekitar lima tenda telah tersedia dan akan ditambah dengan dukungan sejumlah pihak, termasuk Korem, Kodim serta lembaga vertikal lainnya.

“Tenda-tenda ini untuk melayani kedatangan tamu dan jamaah yang akan mengikuti Haul Solo,” kata Respati.

Pemkot juga membuka sejumlah fasilitas layanan di wilayah Kecamatan Pasar Kliwon yang dapat dimanfaatkan para tamu secara gratis.

Dari sisi keamanan, koordinasi dengan TNI dan Polri terus dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib. 

Pemkot turut menyiapkan kendaraan derek di sejumlah titik serta membentuk Satgas Parkir guna mengawasi pengelolaan parkir dan mengantisipasi pungutan tarif yang tidak wajar.

“Kita siapkan derek di setiap titik dan kita siapkan Satgas Parkir untuk memastikan wilayah-wilayah mana saja yang tarifnya abnormal, memberikan tarif berlebih. Kita sudah kerjasamakan dengan polisi,” tegasnya.

Di balik tantangan pelayanan dan pengamanan, besarnya jumlah jamaah yang datang ke Solo juga dipandang sebagai peluang untuk menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

KPH Eddy menilai, dengan pengelolaan yang baik, kedatangan jamaah dapat memberikan dampak positif bagi aktivitas perdagangan, kuliner, transportasi dan berbagai usaha masyarakat selama rangkaian haul berlangsung.

“Terutama adalah UMKM. Kalau tidak dimanajemeni yang baik dan bersama-sama antara Karaton dengan pemerintah kota dan unsur terkait, kedatangan mereka bisa menjadi masalah. Tapi kalau komunikasi dan manajemennya baik, itu bisa diberdayakan,” ungkapnya.

Selain potensi ekonomi, momentum haul juga dinilai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kebudayaan Solo dan Karaton Surakarta kepada para jamaah dari berbagai daerah.

Eddy berharap interaksi antara jamaah dan masyarakat setempat dapat menjadi ruang untuk saling mengenal serta membangun pemahaman mengenai keberagaman budaya.

“Kita juga harus mengedukasi masyarakat kita supaya mereka mau belajar tentang kebudayaan kita, bagaimana hubungan antara budaya, bagaimana kita melakukan dialog dengan yang lain. Itu mesti berinteraksi secara baik,” tuturnya.

Ia juga mendorong generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan kawasan dan penyelenggaraan kegiatan. Evaluasi dari setiap pelaksanaan haul sebelumnya diharapkan menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada tahun-tahun mendatang.

“Dari tahun ke tahun kita belajar. Apa yang sukses, apa yang perlu diperbaiki. Akhirnya hari ini semakin baik,” ujarnya.

Di tengah rangkaian Haul Habib Ali Solo ke-115, keluarga besar PB XII juga akan menggelar sejumlah tradisi keluarga yang berlangsung beriringan dengan momentum tersebut.

BRAj. Lung Ayu, cucu PB XII, mengatakan bahwa setiap tahun keluarga besar Karaton memiliki agenda tersendiri, salah satunya tahlilan untuk memperingati haul PB XII.

Tahun ini, tahlilan akan dilaksanakan pada Minggu (4/10/2026), sehari setelah puncak Haul Habib Ali Solo, bertempat di Siti Hinggil Utara Karaton Surakarta Hadiningrat.

“Setiap tahun hal yang ada di situ selalu berbarengan. Jadi kita juga punya acara yang utama. Biasanya pas haul berlangsung, biasanya selalu kita tahlilan,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan pada Senin (5/10/2026) dengan agenda sadranan di makam almarhum PB XII di Pajimatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Lung Ayu menyebutkan, kegiatan keluarga besar tersebut biasanya dihadiri ratusan anggota keluarga. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jumlah keluarga yang hadir dapat mencapai sekitar 400 orang.

“Kalau keluarga besar biasanya datang semua. Yang sudah terbiasa sekitar 400,” katanya. //Kls

Type above and press Enter to search.