![]() |
| Salah satu koleksi benda bersejarah yang dipamerkan |
WARTAJOGLO, Solo – Hotel tak selalu hanya menjadi tempat untuk beristirahat. Di Solo Paragon Hotel & Residences, ruang perhotelan juga bisa menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat dengan sejarah dan budaya.
Berkolaborasi dengan Museum Keris dan Museum Radya Pustaka Surakarta, hotel ini menghadirkan koleksi benda-benda bersejarah di area hotel dalam rangka memperingati Hari Museum Indonesia, 12 Oktober 2026.
Kolaborasi ini menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Kota Solo kepada masyarakat yang lebih luas.
Benda-benda bersejarah yang biasanya dijumpai di ruang pamer museum kini dihadirkan di lingkungan hotel, sehingga dapat diakses oleh tamu maupun pengunjung yang beraktivitas di sana.
Langkah tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya keberadaan museum sebagai ruang pelestarian sejarah, pengetahuan, dan identitas budaya bangsa.
Melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, Solo Paragon Hotel & Residences berupaya menghadirkan pengalaman berbeda bagi para tamunya.
Pengalaman menginap tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan dan fasilitas, tetapi juga kesempatan untuk mengenal lebih jauh warisan budaya yang dimiliki Kota Solo.
Assistant Marketing Communication Manager Solo Paragon Hotel & Residences, Anang Tri Budianto, mengatakan kolaborasi dengan Museum Keris dan Museum Radya Pustaka diharapkan mampu membuka ruang interaksi yang lebih luas antara masyarakat dan kekayaan budaya lokal.
“Harapan kami, kolaborasi ini dapat mendekatkan masyarakat dengan sejarah dan budaya, khususnya warisan yang dimiliki Kota Solo. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya berfokus pada kenyamanan, tetapi juga memberikan nilai edukasi dan memperluas wawasan para tamu,” ujarnya.
Menurut Anang, pelestarian budaya tidak harus dilakukan melalui kegiatan yang berlangsung di dalam museum saja.
Warisan sejarah juga dapat diperkenalkan melalui ruang-ruang publik yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Kami percaya bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk menghadirkannya di ruang-ruang publik yang dekat dengan aktivitas masyarakat,” imbuhnya.
Kolaborasi ini sekaligus memperlihatkan peluang sinergi antara sektor perhotelan dan lembaga kebudayaan dalam memperluas jangkauan edukasi sejarah.
Dengan menghadirkan koleksi bersejarah di lingkungan hotel, masyarakat memiliki alternatif untuk mengenal warisan budaya tanpa harus selalu memulai kunjungan dari ruang museum. //Sik
