![]() |
| Rektor ISI Surakarta menyalami wisudawan usai pengalungan samir sebagai tanda kelulusan |
WARTAJOGLO, Solo – Sebanyak 532 lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta resmi menjalani wisuda yang digelar di Pendhapa Ageng KGPH Joyokusumo, Kampus Kentingan, Kamis 15 Oktober 2026.
Di balik prosesi wisuda tersebut, tersimpan harapan besar agar para lulusan tidak sekadar membawa pulang gelar akademik, tetapi juga mampu menjadikan seni sebagai kekuatan untuk menggerakkan perubahan sosial, merawat kebudayaan, dan menjawab tantangan zaman.
Pesan itu ditegaskan Rektor ISI Surakarta, Dr. Bondet Wrahatnala, S.Sos., M.Sn., dalam sambutannya di hadapan para wisudawan, orang tua, serta sivitas akademika yang hadir.
Menurut Bondet, kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar di tengah masyarakat.
“Saudara-saudara bukan sekadar lulusan seni. Saudara semua adalah agent of change di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari krisis identitas budaya, disrupsi teknologi, polarisasi sosial, hingga degradasi nilai,” tegasnya.
Ia menilai, para lulusan ISI Surakarta memiliki bekal pengetahuan, keterampilan, dan kepekaan untuk mengambil peran dalam menjawab berbagai persoalan tersebut.
Sebab, seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, teknik, maupun ekspresi artistik. Lebih dari itu, seni memiliki kemampuan untuk menyentuh sisi kemanusiaan, mempertemukan perbedaan, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Seni mampu menyentuh hati ketika logika tidak lagi cukup, menyatukan perbedaan ketika konflik menguat, dan menghidupkan kembali nilai ketika tradisi mulai dilupakan,” ujarnya.
203 Wisudawan Raih Predikat Cumlaude
Dalam laporan kelulusan yang disampaikan oleh Dr. Drs. H. M. Arif Jati Purnomo, M.Sn. selaku Wakil rektor I, tercatat sebanyak 203 wisudawan berhasil meraih predikat cumlaude.
Dari total 532 lulusan, sebanyak 418 merupakan lulusan program sarjana, 33 lulusan sarjana terapan, 34 lulusan magister, dan 19 lulusan doktor.
Para lulusan tersebut berasal dari berbagai program studi yang mencerminkan keragaman bidang seni dan desain di ISI Surakarta.
Pada program sarjana, jumlah lulusan terbanyak berasal dari Program Studi Desain Komunikasi Visual dengan 74 orang, disusul Seni Karawitan sebanyak 60 orang dan Tari sebanyak 57 orang.
Berikutnya, Program Studi Film dan Televisi meluluskan 53 orang, Seni Murni 50 orang, Desain Interior 44 orang, Fotografi 31 orang, Kriya 20 orang, Etnomusikologi 21 orang, Seni Pedalangan 19 orang, serta Teater 17 orang.
Sementara itu, program sarjana terapan meluluskan 33 orang, terdiri atas 30 lulusan Desain Mode Batik dan tiga lulusan Senjata Tradisional Keris.
Adapun program magister meluluskan 34 orang dan program doktor sebanyak 19 orang.
Dari keseluruhan lulusan tersebut, enam orang merupakan mahasiswa Program Studi di Luar Domisili (PDD) ISI Surakarta yang menjadi embrio Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Sulawesi Selatan. Mereka terdiri atas tiga lulusan Film dan Televisi, satu Desain Interior, dan dua Teater.
Capaian akademik para wisudawan juga tercermin dari rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) yang diraih masing-masing jenjang pendidikan.
Lulusan program sarjana mencatatkan IPK rata-rata 3,69, sarjana terapan 3,81, magister 3,84, dan doktor 3,89.
Adapun IPK tertinggi pada masing-masing jenjang mencapai 3,97 untuk program sarjana, 3,95 untuk sarjana terapan, 3,97 untuk magister, dan 3,93 untuk doktor.
Secara keseluruhan, ISI Surakarta juga mencatat masa studi tercepat pada program sarjana selama tiga tahun enam bulan, sarjana terapan tiga tahun sembilan bulan, magister satu tahun tujuh bulan, serta doktor dua tahun 11 bulan.
Prestasi tersebut menjadi gambaran keberhasilan para lulusan dalam menuntaskan pendidikan sekaligus menjaga kualitas capaian akademik di tengah proses pembelajaran dan penciptaan karya seni.
Dengan tambahan 532 lulusan pada periode ini, jumlah alumni yang telah dihasilkan ISI Surakarta sejak masih berstatus Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, hingga menjadi ISI Surakarta mencapai 10.025 orang.
Lulusan Seni Harus Adaptif Tanpa Kehilangan Akar Budaya
Di hadapan para wisudawan, Bondet mengingatkan bahwa tantangan setelah lulus akan semakin kompleks.
Perkembangan teknologi digital, persaingan dunia kerja, serta perubahan sosial dan budaya menuntut para lulusan untuk terus belajar dan beradaptasi.
Namun, kemampuan mengikuti perkembangan zaman tidak boleh membuat mereka kehilangan identitas budaya.
Menurutnya, teknologi justru dapat menjadi medium baru untuk memperluas jangkauan karya seni, memperkenalkan budaya lokal ke panggung global, serta membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan.
Ia mendorong para lulusan agar tidak takut bereksperimen dan membuka ruang kolaborasi lintas disiplin.
Seni, menurutnya, harus hadir di tengah kehidupan masyarakat, bukan hanya terbatas pada ruang pamer, panggung pertunjukan, atau lingkungan akademik.
Para lulusan dapat memulai kontribusi dari lingkungan terdekat, komunitas, sekolah, desa, ruang publik, hingga kelompok masyarakat yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Gunakan karya dan kemampuan seni saudara untuk mengedukasi, menginspirasi, dan menggugah kesadaran kolektif,” pesannya.
Bondet juga menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang lulusan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya jabatan atau besarnya penghasilan.
Lebih dari itu, keberhasilan perlu dilihat dari seberapa besar dampak positif yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Apakah karya yang dihasilkan mampu menggerakkan perubahan? Apakah kehadirannya membawa manfaat? Dan apakah ia mampu menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut Bondet, menjadi tolok ukur penting bagi para lulusan ISI Surakarta dalam mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Ia berharap para alumni mampu tampil sebagai inspirator di tengah masyarakat, penggerak kebudayaan, sekaligus penjaga nilai-nilai kemanusiaan melalui seni.
Wisuda ISI Surakarta, Rektor Tekankan Pentingnya Karya Seni yang Berdampak https://t.co/wNVN1vRvpb
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) October 15, 2026
Menutup sambutannya, Bondet menitipkan tiga pesan kepada seluruh wisudawan dan wisudawati, yakni tetap berkarya, terus belajar, dan selalu peduli terhadap sesama.
“Pertama, tetaplah berkarya, jangan berhenti mencipta, karena di situlah jati diri saudara. Kedua, tetaplah belajar, karena dunia terus berubah dan saudara harus terus tumbuh. Ketiga, tetaplah peduli, karena seni tanpa empati hanyalah sebuah ruang estetika kosong,” tandasnya. //Bang
