POPULER

Nekat Mudik, Warga Dikarantina di Punden

Nekat Mudik, Warga Dikarantina di Punden

WARTAJOGLO, Boyolali – Untuk kedua kalinya momentum Idul Fitri harus diiringi dnegan larangan mudik dari pemerintah. Ini karena pandemi Covid-19 belum berakhir. Sehingga larangan dikeluarkan demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Untuk itu berbagai imbauan telah dilakukan sampai di tingkat desa. Namun meski sudah dilarang masih saja banyak masyarakat yang berusaha melanggarnya.

Terkait hal ini Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah memiliki cara unik untuk memberikan imbauan kepada warganya yang merantau, agar tidak pulang kampung. Yaitu dengan mengkarantina warganya yang datang dari perantauan di sebuah ruangan yang terdapat di lokasi punden atau cikal bakal desa yang terletak di Dukuh Beji. Meski ruangan yang dipergunakan untuk karantina layak pakai, namun lokasi karantina merupakan salah satu tempat yang diyakini keramat dan sakral. 

Punden Beji Ampel
Punden Beji bakal jadi tem[at karantina warga yang nekat mudik
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid Desa Sidomulyo, Muh. Sawali menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan di desanya ini dilatar belakangi kejadian pada tahun lalu, di mana warga Kecamatan Ampel yang pertama kali terpapar Covid-19 adalah warga Desa Sidomulyo.

“Di situlah muncul pelajaran yang sangat berharga untuk kita. Sehingga kita lebih giat untuk mengantisipasi biar sesuatu yang berakibat fatal itu tidak kembali terulang,” ungkapnya saat ditemui di lokasi karantina pada Kamis (29/4) pagi.

Dikatakan Sawali, sejak awal bulan Ramadan, pihaknya sudah mengimbau warganya yang merantau agar tidak mudik. Jika ada warga yang tetap mudik dan tidak bisa menunjukkan surat keterangan sehat dari dokter atau surat bebas Covid-19, maka terpaksa harus menjalani karantina selama tujuh hari di lokasi yang sudah disiapkan.

Hingga saat ini, sudah ada dua orang perantau yang dikarantina di tempat yang disediakan. Sawali menambahkan, untuk kebutuhan logistik bagi orang yang menjalani karantina di lokasi tersebut, sudah disediakan Satgas Jogo Tonggo desa.


Dengan adanya upaya karantina seperti yang dilakukan oleh pemerintah desanya, Sawali berharap bahwa nantinya para perantau mengurungkan niatnya untuk pulang kampung hanya sebatas untuk bersilaturahmi.

“Toh silaturahmi sekarang kan bisa, melalui video call dan lain sebagainya,” tegas Sawali.

Salah satu perantau dari Tangerang, Fajar Adi Nugroho, yang kini sedang menjalani karantina di tempat tersebut, mengaku menyesal karena nekat pulang kampung ke desanya. Sebelumnya, Fajar sudah mengetahui tentang larangan pemerintah untuk mudik. Namun dia tetap nekat melakukannya dengan melewati jalan tikus dan berangkat pada malam hari, sehingga bisa lolos dari pantauan yang berwajib. 

Sementara saat ditanya mengenai surat keterangan sehat, pihaknya mengaku belum memilikinya dan hanya asal pulang. Kini dia harus menjalani karantina di lokasi angker yang membuatnya merasa takut.

“Tetep di sana aja dulu, jangan pulang dulu, daripada dikarantina kaya kita," pesan Fajar kepada perantau lain. //Mul

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel