TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Pameran REI Expo 5 2026, Momentum Segera Beli Rumah Sebelum Tren Hunian Berubah

Ketua REI Komisariat Solo Raya, Oma Nuryanto (kiri) mendampingi Sekretaris Dinas Perumahan, Pemukiman dan Pertanahan Kota Surakarta Bambang Yuniarto, meninjau lokasi pameran REI Expo 

WARTAJOGLO, Solo - Suara kentongan yang dipukul bersama-sama oleh para pengurus Real Estat Indonesia (REI) bersama perwakilan Pemerintah Kota Surakarta, menandai dibukanya pameran REI Expo 5 2026 di Atrium Solo Paragon Mall, Jumat 17 April 2026.

Pameran yang berlangsung hingga 26 April 2026 ini menjadi panggung bagi para pelaku properti untuk menyampaikan realitas baru, bahwa ketersediaan lahan untuk rumah tapak semakin terbatas, dan kondisi ini berpotensi mengubah wajah hunian di masa depan.

Ketua REI Komisariat Solo Raya, Oma Nuryanto, menegaskan bahwa penyelenggaraan REI Expo kali ini tidak lepas dari situasi yang penuh tantangan, baik dari tekanan global maupun kebijakan di dalam negeri.

“REI Expo kali ini menjadi jawaban kami di tengah kondisi yang sangat menantang. Tekanan dari dalam dan luar cukup besar, sehingga kami berharap pameran ini bisa mendorong transaksi melalui berbagai promo yang kami hadirkan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa meskipun kondisi penuh tantangan, saat ini justru menjadi momentum menarik bagi masyarakat untuk membeli rumah. 

Selain suku bunga yang relatif rendah di kisaran 4–5 persen, program insentif seperti pembebasan PPN masih berlaku hingga akhir tahun.

Namun di balik peluang tersebut, ada persoalan struktural yang mulai terasa dampaknya, yakni kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang dalam implementasinya dinilai masih tumpang tindih dan membatasi ruang pengembangan perumahan.

Hal ini secara langsung berpengaruh pada ketersediaan lahan, terutama untuk hunian tapak yang selama ini menjadi pilihan utama masyarakat.

Wakil Ketua Bidang Regulasi DPD REI Jawa Tengah, Bambang Sriyanto, secara gamblang mengingatkan bahwa perubahan tren hunian bukan lagi wacana, melainkan kenyataan yang sedang bergerak.

“Kalau kita lihat sekarang, kawasan yang ditawarkan masih keren-keren, masih sejuk, dan semuanya masih menyentuh tanah. Tapi ke depan, kondisinya bisa sangat berbeda,” ungkapnya.

Ia bahkan memprediksi bahwa dalam lima tahun ke depan, hunian tapak akan semakin sulit ditemukan akibat keterbatasan lahan dan berbagai regulasi yang membatasi pengembangan.

“Lima tahun ke depan, kemungkinan nggak ada rumah yang menyentuh tanah. Kemungkinan besar semuanya akan bergeser ke hunian high-rise,” tegasnya.

Menurutnya, tumpang tindih kebijakan seperti LSD menjadi salah satu faktor yang mempercepat pergeseran tersebut. 

Ketika lahan semakin terbatas dan perizinan semakin kompleks, pengembang akan terdorong beralih ke hunian vertikal sebagai solusi.

Dampaknya tidak hanya pada bentuk hunian, tetapi juga pada biaya. 

Seban hunian vertikal cenderung memiliki biaya pembangunan dan operasional yang lebih tinggi, serta keterbatasan dalam aspek sosial dibandingkan rumah tapak.

Karena itu, Bambang mengajak masyarakat untuk melihat kondisi saat ini sebagai peluang yang mungkin tidak akan terulang dalam waktu dekat.

Menurutnya rumah dengan konsep landed house yang saat ini masih tersedia luas dan relatif terjangkau, berpotensi menjadi semakin langka dan mahal.

Bambang juga menyoroti bahwa saat ini banyak proyek yang ditawarkan dalam pameran memiliki kualitas kawasan yang baik—sejuk, tertata, dan mendukung gaya hidup modern seperti work from anywhere.

“Kawasannya keren-keren, sejuk, sangat cocok untuk Work From Anywhere. Yang penting jangan Work From Nowhere,” ujarnya dengan nada ringan.

Dengan dukungan berbagai bank, pengembang, serta supplier bahan bangunan, REI Expo 5 2026 bisa menjadi peluang untuk berburu hunian maupun investasi properti. 

Terlebih lagi, beragam promo, kemudahan pembiayaan, hingga fasilitas menarik ditawarkan untuk mempermudah masyarakat mengambil keputusan. //Kls

Type above and press Enter to search.