TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Kisruh Rekrutmen Perangkat Desa Plosorejo Kian Panas, Sikap Kades Hendri Widayati jadi Sorotan

Kantor Kepala Desa Plosorejo

WARTAJOGLO, Karanganyar - Kisruh seleksi perangkat desa untuk jabatan Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan di Desa Plosorejo, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, kian memanas. 

Ini setelah para peserta seleksi yang tidak lolos, memilih bersuara lantang membongkar dugaan praktik ketidakjujuran dalam proses rekrutmen.

Seleksi yang seharusnya menjadi ajang menjaring aparatur desa terbaik justru menyisakan tanda tanya besar. 

Enam dari tujuh peserta—yakni Prasetyo Utomo, Maunab Galang Esanika, Anggita Widya Pramesti, Adji Dwi Darmawan, Leni Sintia Wati, dan Amar Fatonah—secara resmi mengajukan keberatan. 

Mereka menuntut transparansi, bahkan mendesak agar hasil seleksi dibatalkan dan dilakukan ujian ulang.

“Kami hanya minta keadilan dan transparansi dalam seleksi perangkat desa. Ini demi masa depan Desa Plosorejo yang lebih baik,” tegas Anggita usai menghadiri Forum Klarifikasi dan Mediasi di Balai Desa Plosorejo, Selasa 21 April 2026.

Dugaan kecurangan mencuat dari berbagai kejanggalan yang terjadi selama proses seleksi. Salah satu yang paling mencolok adalah perbedaan nilai peserta bernama Mirandi, yang akhirnya dinyatakan lolos dengan skor tertinggi.

Menurut Anggita yang menjadi koordinator dari gerakan gugatan itu, usai pelaksanaan ujian Computer Assisted Test (CAT) yang digelar bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mirandi sempat mengaku memperoleh nilai 79. 

Namun saat hasil resmi dicetak, nilainya berubah menjadi 82.

“Setelah tes, kita semua bisa tahu berapa skor yang didapat, bahkan saling berbagi informasi karena pesertanya hanya tujuh orang. Makanya saya tahu nilai masing-masing,” ungkap Anggita.

Selisih nilai tersebut menjadi krusial. Pasalnya, jika nilai Mirandi tetap 79, maka secara akumulasi ia kalah dari peserta lain, khususnya Maunab Galang Esanika.

Kecurigaan semakin menguat ketika Anggita mengungkap perilaku Mirandi selama ujian praktik. Ia menyebut, Mirandi terlihat kesulitan bahkan untuk hal-hal dasar dalam pengerjaan komputer.

“Saat mengerjakan tugas pembuatan undangan, dia terlihat kebingungan dan beberapa kali bertanya ke saya soal cara download aset. Bahkan sempat ditegur oleh petugas,” jelas Anggita.

Tak hanya soal kemampuan teknis, sikap Mirandi selama tes juga dinilai janggal. Ia tampak santai, kurang rapi, bahkan duduk dengan sikap yang dianggap kurang sopan. 

Meski hal itu tidak bisa dijadikan dasar tuduhan, namun bagi Anggita hal tersebut memberi kesan bahwa yang bersangkutan seolah sudah “aman”.

“Seakan-akan apapun yang dilakukan, hasilnya sudah pasti lolos,” imbuhnya.

Anggita juga menyoroti dugaan adanya pengkondisian dalam tahapan seleksi. Salah satunya terkait tidak diberikannya waktu masa sanggah selama dua hari, sebagaimana mestinya.

“Harusnya ada waktu dua hari untuk mengajukan keberatan. Tapi setelah ujian hari Rabu, besoknya hasil sudah diserahkan ke kecamatan,” ujarnya.

Selain itu, respons pihak desa dinilai lamban dan terkesan tidak serius menangani keberatan peserta. 

Permintaan audiensi baru direspons beberapa hari kemudian, itupun dengan jawaban yang dianggap normatif.

“Mereka bilang tidak punya kewenangan karena regulasi. Tapi regulasi yang mana?” tegas Anggita.

Forum Klarifikasi dan Mediasi yang digelar di balai desa pun belum mampu meredakan ketegangan. 

Ironisnya, Mirandi sebagai sosok yang menjadi pusat polemik, tidak dihadirkan dalam forum tersebut.

“Padahal dia kunci dari persoalan ini,” ujar Maunab Galang Esanika.

Forum tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Plosorejo Hendri Widayati, Sekretaris Desa sekaligus Ketua Panitia Seleksi Pransimas Andi Wijaya, serta panitia lainnya. 

Namun hasilnya belum memberikan titik terang yang memuaskan para peserta.

Sikap Janggal Kepala Desa

Sikap Kepala Desa Plosorejo, Hendri Widayati, sendiri turut menjadi sorotan karena dia melarang media mengikuti jalannya mediasi.

Dalam keterangannya, Hendri membantah adanya campur tangan pihak desa dalam proses seleksi. 

Ia menegaskan bahwa pelaksanaan ujian sudah menggandeng pihak ketiga, sehingga hasilnya dinilai valid.

“Pihak desa dan panitia tidak ikut campur, sehingga hasilnya bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya kepada media yang menemui di kantornya.

Namun di sisi lain, pernyataan Hendri yang menyebut Mirandi sebagai sosok cerdas justru memicu tanda tanya.

“Kalau saya lihat dia memang cerdas, keluarganya juga cerdas. Mungkin karena sudah sering ikut seleksi jadi paham trik-triknya,” katanya.

Ia juga mengakui tidak ingin persoalan ini menjadi konsumsi publik.

“Yang baik saja saya tidak ingin diblowup, apalagi yang seperti ini. Saya hanya ingin ketenangan warga,” tambahnya.

Menariknya, Anggita bukanlah peserta yang secara langsung dirugikan dari hasil seleksi tersebut. Ia berada di posisi keenam dalam peringkat nilai. 

Namun latar belakangnya sebagai mantan aktivis mahasiswa mendorongnya untuk tetap bersuara.

“Saya hanya ingin praktik ketidakjujuran ini dibongkar. Kasihan yang benar-benar berjuang tapi kalah oleh yang sudah dikondisikan,” tegasnya.

Anggita bersama rekan-rekannya berencana melanjutkan perjuangan dengan melaporkan kasus ini ke Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Karanganyar. 

Bahkan, mereka siap mendatangi pihak UMS untuk memastikan keabsahan nilai CAT. //Bang

Type above and press Enter to search.