TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Breaking News

Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan dan Kesetaraan Gender

WARTAJOGLO - Peringatan Hari Guru Nasional yang digelar tiap tanggal 25 November menjadi wujud penghargaan atas kiprah sosok guru yang berjasa dalam mencerdaskan bangsa.

Dalam sejarah, tercatat ada beberapa sosok yang tercatat memiliki peran besar dalam bidang pendidikan, salah satunya adalah Dewi Sartika. 

Ya. Semasa hidupnya Dewi Sartika memang dikenal sebagai sosok guru yang begitu peduli dengan kebutuhan pendidikan untuk masyarakat dari kelas bawah. Yang pada masa penjajahan, sangat sulit untuk bisa mendapatkan akses pendidikan.

Langkah Dewi Sartika ini pun dipandang sebagai bagian dari pengentasan derajat kaum wanita pribumi saat itu. 

Dewi Sartika, Pahlawan Pendidikan dan Kesetaraan Gender
Monumen Dewi Sartika

Sebab proses pendidikan yang dijalankan, memang lebih difokuskan untuk para wanita. Yang memang secara status sosial kerap dinomor duakan. 

Karena itulah sekolah yang didirikan diberi nama Sakola Istri.

Tak hanya menjadi seorang guru, Dewi Sartika juga banyak menulis esai tentang kesetaraan gender. Yang membuat pola pikirnya mendapat perhatian dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. 

Dan hal ini dilakukan karena budaya feodal masyarakat Sunda saat itu begitu kuat. Sehingga kerap memosisikan wanita di bawah pria.

Akibat dari budaya itu, akhirnya berpengaruh pada perlakuan yang didapat oleh seorang wanita. Di mana meski memiliki pekerjaan dan tanggung jawab sama dengan laki-laki, terkadang dalam sistem pengupahan selalu mendapat lebih rendah. 

Dan yang paling membuat Dewi Sartika bersikap keras, adalah munculnya praktik poligami. Yang dipandangnya sebagai bentuk penghancuran martabat kaum wanita.

Pahlawan Pendidikan

Dewi Sartika sendiri lahir di Bandung pada 4 Desember 1884. Ayahnya, Raden Rangga Somanagara, adalah Patih Bandung. 

Ibunya, Rajapermas, adalah putri Bupati Bandung saat itu, R.A.A. Wiranatakusumah IV. Dengan latar belakang orang tua seperti itu, tentu Dewi Sartika termasuk sosok bangsawan dengan status sosial tinggi saat itu.

Pola pikir sang ayah yang sudah sedemikian moderat, hal itu memudahkan bagi sosok Dewi untuk bisa mengenyam pendidikan. 

Beda dengan beberapa perempuan lain, yang terpaksa tidak bisa baca tulis, karena orang tuanya kolot, meskipun masuk dalam kalangan bangsawan. 

Dan hal ini pula yang kemudian semakin membentuk pola pikir dan kepribadian dari Dewi Sartika, untuk tidak mau terkungkung dengan budaya feodal, yang melemahkan kaum wanita.

Namun sayang, Dewi hanya mengenyam pendidikan sampai kelas dua di Eerste Klasse School. Sebuah sekolah yang sengaja dibentuk untuk penduduk non Eropa. 

Sebab pada Juli 1893,  Raden Somanagara ayahnya, diasingkan ke Ternate oleh pemerintah kolonial. Ia dituduh terlibat dalam sabotase acara pacuan kuda di Tegallega untuk mencelakai Bupati Bandung yang baru, R.A.A. Martanegara.

Pengasingan inipun berpengaruh pada kondisi keluarga Dewi, termasuk pendidikannya. Dan karena itupula, akhirnya Dewi terpaksa dititipkan ke salah seorang pamannya, dari garis ibu. 

Hanya saja meski sang paman Patih Cicalengka bernama Raden Demang Suria Kartahadiningrat, adalah orang yang baik. Namun dia adalah sosok yang begitu kuat memegang adat. 

Sehingga ada hal-hal yang kemudian memunculkan perlakuan berbeda terhadap Dewi. Salah satunya adalah bahwa Dewi adalah bagian dari aib keluarga. Karena orang tuanya ditangkap dan diasingkan  pemerintah.

Raden Demang Suria Kartahadiningrat sendiri adalah seorang tokoh masyarakat yang begitu kuat memegang adat. 

Karenanya banyak bangsawan yang menitipkan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan budi pekerti darinya.

Sebagai bagian dari sebuah aib, Dewi sendiri akhirnya mendapat perlakuan bak seorang pembantu di rumah sang paman. 

Dia ditugasi untuk mengurus segala pekerjaan rumah tangga, serta mengantar saudara-saudara sepupunya belajar ke seorang warga Belanda. Tapi dia sendiri tidak boleh ikut belajar. 

Dan yang paling ironis, dia harus rela untuk tidur menempati kamar belakang rumah sang paman. Yang merupakan kamar para pelayan.

Namun justru dari kondisi yang dialaminya inilah, kesadaran gendernya muncul. 

Dia begitu prihatin dengan nasib para perempuan yang seolah dinonor duakan. Di mana dia melihat, meskipun sama-sama dari kalangan masyarakat bangsawan, para perempuan ini tidak diperbolehkan belajar baca tulis. 

Hak mendapat pendidikan formal hanya diberikan kepada kaum pria. Yang nantinya akan menjadi penjamin hidup dari para wanita yang menjadi istri maupun anak-anaknya.

Karenanya setelah sekian lama hidup bersama di rumah sang paman, pada tahun 1902 bersamaan dengan kembalinya sang ibu dari tempat pengasingan, Dewi pun kembali ke Bandung. 

Dan gejolak jiwanya yang tudak sanggup melihat penderitaan para wanita karena diskriminasi gender, mendorongnya untuk menghadap Bupati Martanagara, dan meminta izin untuk mendirikan sekolah untuk para gadis remaja.

Sang bupati sendiri sempat ragu, karena hal itu jelas bertentangan dengan adat yang berlaku. 

Namun karena Dewi berhasil meyakinkannya, akhirnya permintaan itu dikabulkan. Dan sekolah pertama dibuka di Pendopo Kabupaten Bandung.  Yang seiring berjalannya waktu, bila semua baik-baik saja, maka bisa mulai dikembangkan di tempat lain.

Sekolah pertama yang diberi nama Sakola Istri pun akhirnya berdiri pada 16 Januari 1904. Di mana Dewi yang saat itu baru berusia 20 tahun, menjadi pengajar pertama di sekolah tersebut. 

Dan untuk tahap awal, sekolah ini membuka dua kelas, yang masing-masing berisi 20 siswa. Yang umumnya adalah anak dari para pegawai rendahan.

Selain mengajarkan pendidikan dasar, di sekolqh itu juga diajarkan ketrampilan rumah tangga, agama serta Bahasa Belanda. 

Untuk itu Dewi menggandeng para tenaga profesional, sehingga mutu pendidikan yang diberikan benar-benar berkualitas. 

Salah satunya untuk pelajaran keperawatan, Dewi menggandeng Zuster van Arkel dari Rumah Sakit Imanuel, Bandung.

Seiring berjalannya waktu, Sakola Istri  semakin berkembang. Hal ini tak lepas dari dukungan sang suami Raden Agah Suriawinata, yang juga seorang pendidik. 

Sehingga pada 1912 Sakola Istri yang telah berubah nama menjadi Sekolah Kaoetaman Isteri telah memiliki cabang di sembilan kabupaten di Priangan. 

Dan pertambahan cabang terus terjadi di setiap kabupaten, hingga tahun 1920. Hingga pada September 1929,  sekolah itu berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi.

Dari perkembangan yang begitu pesat inilah, akhirnya menempatkan sosok Dewi Sartika sebagai tokoh penting di mata pemerintah kolonial. Sehingga pendapat-pendapatnya kerap kali selalu dijadikan pertimbangan.

Karena itu pula Mindere Welvaart Commisie (Komisi untuk penyelidikan keadaan kurang sejahtera), menempatkannya sebagai salah seorang narasumber. 

Terutama terkait dengan permasalahan pendidikan. Yang dalam laporan yang diterbitkan komisi ini pada tahun 1914, Dewi Sartika kembali menekankan betapa pentingnya pendidikan untuk kaum perempuan. 

Bahkan dia memandang bahwa sudah saatnya diselenggarakan pendidikan kejuruan untuk perempuan sebagai bekal mereka di dunia kerja.

Dewi Sartika juga menekankan tentang kesetaraan upah bagi pekerja perempuan dan masalah poligami. 

Ini dilakukan karena adanya sistem pengupahan yang diskriminatif, untuk para pekerja perempuan. 

Dan dari apa yang dilakukannya itu pula, akhirnya tersohor sebuah kalimat yang menjadi pesan untuk masyarakat. 

Kalimat itu adalah 'Ieuh barudak, ari jadi awewe kudu sagala bisa, ambeh bisa hirup!' (Anak-anakku, sebagai perempuan, kalian harus memiliki banyak kecakapan agar mampu hidup).

Dari kiprahnya inilah, akhirnya pada 1939, bersamaan dengan perayaan 35 tahun sekolahnya, Pemerintah Hindia Belanda memberikan sebuah penghargaan bergengsi  Orde van Oranje-Nassau (bintang emas). 

Itu merupakan sebuah penghargaan ksatriaan yang diberikan untuk orang-orang yang dipandang memiliki peran dan jasa besar di masyarakat. 

Dan penghargaan atas jasa-jasanya disempurnakan dengan pemberian gelar sebagai Pahlawan Nasional pada 1 Desember 1966. //BBS

Type above and press Enter to search.

close