TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Asuransi untuk UMKM Minim Literasi, Banyak Pelaku Usaha Tidak Terlindungi

Pemimpin Redaksi Solopos Media Group, Rini Yustiningsih (dua dari kiri) memberikan kenang-kenangan kepada Wakil Ketua AAUI Surakarta, Muh Yunus setelah menjadi narasumber dalam SMG Economic Insight, bersama Heri Santosa (tengah) dari OJK serta Maliyana Nur W (dua dari kanan) selaku pengurus Kadin Kota Surakarta

WARTAJOGLO, Solo - Kesadaran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap pentingnya perlindungan usaha melalui asuransi dinilai masih tergolong rendah. 

Padahal, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang setiap hari berhadapan dengan berbagai risiko usaha.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam SMG Economic Insight yang digelar Solopos Media Group (SMG) bekerja sama dengan Bank BRI dan BCA di Radya Litera Griya Solopos, Solo, Selasa 16 Desember 2025. 

Diskusi bertajuk “Cerita Perlindungan: Bagaimana Asuransi Menyelamatkan UMKM” menghadirkan perwakilan OJK, Kadin Solo, dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).

Pemimpin Redaksi Solopos Media Group, Rini Yustiningsih, menyebut minimnya literasi asuransi masih menjadi tantangan besar bagi UMKM. 

Di tengah jumlah UMKM yang mencapai 59–66 juta unit usaha, banyak pelaku usaha yang belum memandang asuransi sebagai instrumen mitigasi risiko.

“UMKM punya peran besar dalam menopang ekonomi nasional, termasuk saat krisis. Namun, kesadaran terhadap perlindungan usaha melalui asuransi masih rendah,” ujarnya.

Rini menambahkan, asuransi masih sering dipahami sebatas produk kesehatan atau jiwa, bukan sebagai perlindungan aset dan keberlangsungan usaha. Padahal, risiko seperti kebakaran, bencana alam, hingga gangguan operasional bisa datang sewaktu-waktu.

Senada, Pengurus Kadin Kota Surakarta Bidang Kewirausahaan UMKM dan Koperasi, Maliyana, Nur W mengungkapkan bahwa menyisihkan dana untuk asuransi belum menjadi kebiasaan pelaku UMKM. 

Secara nasional, baru sekitar 26 persen UMKM yang telah memiliki perlindungan asuransi.

“Banyak pelaku UMKM yang belum bisa menjawab berapa porsi anggaran untuk asuransi, bahkan ada yang sama sekali belum menggunakan,” jelasnya.

Karena itu, Maliyana menilai perlu peran aktif regulator, khususnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK), untuk memberikan panduan skema asuransi yang realistis dan terjangkau bagi UMKM.

Sementara itu, Wakil Ketua AAUI Surakarta, Muh. Sufyan, menegaskan bahwa asuransi merupakan bagian penting dari manajemen risiko usaha. 

Risiko, menurutnya, adalah keniscayaan dalam dunia bisnis, baik dari sisi SDM, kecelakaan, bencana, hingga kegagalan usaha akibat gangguan operasional.

“Kalau tidak punya perlindungan, risiko bisa menjadi beban finansial yang berat dan menghentikan usaha,” katanya.

Urgensi perlindungan semakin kuat mengingat UMKM menyumbang sekitar 61 persen PDB nasional, menyerap hampir 97 persen tenaga kerja, dan berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap total investasi di Indonesia. Tanpa proteksi, UMKM berpotensi rapuh ketika risiko besar terjadi.

“Asuransi bukan beban, tetapi strategi agar usaha bisa bertahan dan bangkit,” tegas Sufyan.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan mendorong kolaborasi antara UMKM, perbankan, dan industri asuransi untuk membangun ekosistem usaha yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa depan. //Sik

Type above and press Enter to search.