TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Ciptakan Ruang Belajar Kreatif di Pemukiman Padat, PKM ISI Solo Bangun Kolaborasi untuk Pendidikan Anak

Tim Desain Interior ISI Surakarta Laksanakan PKM dalam Upaya Peningkatan Kualitas Ruang Belajar Kreatif Untuk Anak pada Pemukiman Padat di Kratonan, Serengan

WARTAJOGLO, Solo - Permukiman padat kerap diidentikkan dengan ruang hidup yang serba terbatas, termasuk minimnya fasilitas edukatif bagi anak-anak. 

Namun, melalui semangat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, hambatan itu perlahan dibongkar. 

Hal inilah yang diusung dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Ruang Belajar Kreatif (STEAM): Kolaborasi Desain Interior untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Anak pada Pemukiman Padat di Kratonan, Serengan, Surakarta”.

Kegiatan ini dilaksanakan pada 12 November 2025 di RW 01, khususnya RT 04 dan RT 05, Kratonan.

Program ini digagas oleh Prodi Desain Interior, melalui dua dosen sebagai pelaksana, yaitu Putri Sekar Hapsari, S.Sn., M.A dan Dr. Siti Badriyah, M.Hum, dengan dukungan warga setempat sebagai aplikator kegiatan. 

Kolaborasi ini menjadi wujud nyata sinergi antara keilmuan desain interior dan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mengatasi keterbatasan ruang belajar bagi anak usia dini di permukiman padat.

PKM ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik ruang belajar, tetapi juga pada pembentukan socio-constructive awareness yaitu kesadaran bersama masyarakat akan pentingnya berpartisipasi dalam peningkatan kualitas pendidikan anak. 

Dari sinilah konsep ruang belajar kreatif dirancang, dengan memperhatikan aspek fungsional, psikologis, hingga sensorik agar anak dapat belajar dan bermain dengan nyaman.

Putri Sekar Hapsari selaku ketua pelaksana menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan adalah memenuhi kebutuhan ruang belajar anak usia dini di lingkungan yang padat penduduk.

“Kami merancang dan merealisasikan ruang belajar kreatif yang fungsional dan edukatif, sekaligus mendampingi masyarakat agar mampu mengembangkan dan merawat ruang belajar tersebut secara mandiri,” ujarnya.

Program PKM ini berlangsung selama enam bulan, dimulai dari tahap perancangan, pendampingan, hingga revitalisasi ruang belajar. 

Proses panjang ini melibatkan warga secara langsung agar hasilnya tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga tumbuh menjadi budaya baru dalam keluarga untuk menghadirkan ruang belajar yang nyaman di rumah masing-masing.

Antusiasme warga terlihat jelas sepanjang kegiatan. Banyak peserta yang dengan kreatif mencoba menerapkan konsep yang diajarkan untuk menata ruang belajar di rumah mereka.

Ari Widya, warga RT 04, mengaku kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan.

“Kami berharap ada lagi kegiatan aplikatif seperti ini demi kemajuan warga,” ujarnya.

Sementara Prihatmi, peserta dari RT 05, merasakan langsung manfaatnya.

“Dengan lahan rumah sempit, penataan ruang belajar seperti ini sangat membantu. Kegiatan ini benar-benar bermanfaat,” tuturnya.

Salah satu capaian penting dari PKM ini adalah terciptanya model desain ruang belajar kreatif yang dapat ditiru dan diterapkan di kawasan permukiman padat lainnya. 

Dengan demikian, program ini tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, melainkan bagian dari strategi pembangunan sosial dan pendidikan berbasis desain yang inklusif, kontekstual, dan solutif. //Kls

Type above and press Enter to search.