![]() |
| Kepala BNN Kota Surakarta Kombes Pol Ventie Bernard Musak |
WARTAJOGLO, Solo - Menutup tahun 2025, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surakarta merilis catatan serius mengenai dinamika peredaran dan penyalahgunaan narkoba di wilayah Solo Raya.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Kota Solo masih berada dalam kondisi darurat narkoba, dengan tingkat kerawanan tertinggi dibanding daerah sekitarnya.
Hal ini terungkap dalam konferensi pers akhir tahun yang disampaikan oleh Kepala BNN Kota Surakarta Kombes Pol Ventie Bernard Musak, pada Rabu 31 Desember 2025, di Kantor BNNK Surakarta.
Kombes Pol Ventie mengungkapkan bahwa tantangan pemberantasan narkoba kini semakin kompleks. Bukan hanya soal jumlah kasus, tetapi juga pola, pelaku, dan modus operandi yang terus berevolusi seiring perkembangan zaman.
Berdasarkan data pengungkapan kasus oleh jajaran Polres se-Solo Raya, Kota Surakarta tercatat sebagai wilayah dengan kasus narkotika tertinggi, mencapai 126 kasus sepanjang 2025.
Angka ini jauh melampaui daerah lain seperti Klaten (68 kasus), Sragen (58 kasus), dan Wonogiri (36 kasus).
Wilayah Kelurahan Mojosongo tercatat sebagai daerah dengan Tempat Kejadian Perkara (TKP) tertinggi di Kota Solo.
Bahkan, dari keseluruhan kasus di Solo Raya, terdapat lima anak di bawah umur yang terlibat sebagai penyalahguna narkoba.
Kombes Pol Ventie menjelaskan bahwa faktor ekonomi masih menjadi pemicu dominan. Banyak pelaku yang awalnya hanya pengguna, kemudian tergoda menjadi pengedar demi keuntungan cepat.
“Biasanya dimulai dari coba-coba. Ada yang awalnya ganja, kemudian beralih ke psikotropika, sampai akhirnya ke sabu,” ujarnya.
Fenomena ini diperparah oleh tingginya angka kekambuhan. Banyak penyalahguna yang kembali terjerumus setelah menjalani rehabilitasi, terutama jika tidak memiliki pekerjaan atau dukungan sosial yang memadai.
Letak geografis Solo yang strategis justru menjadi celah besar dalam peredaran narkoba. Keberadaan jalur tol, kereta api, hingga bandara membuat kota ini menjadi titik transit ideal.
“Dengan terbukanya akses darat dan udara, peredaran narkoba dari luar daerah, termasuk dari Sumatra, sangat mudah masuk ke Solo,” jelas Ventie.
Tak hanya itu, modus peredaran kini semakin canggih. Media sosial seperti Instagram hingga platform game online dimanfaatkan sebagai sarana transaksi terselubung.
“Game online pun sekarang bisa menjadi tempat transaksi karena sulit diawasi,” tegasnya.
Sepanjang 2025, BNN Kota Surakarta bersama Polres se-Solo Raya, Bea Cukai, dan BNNP Jawa Tengah berhasil mengungkap lima kasus besar, dengan barang bukti berupa 95 gram ganja, 34.000 butir pil Yarindo, serta 83 butir Tramadol.
Tak hanya itu, sebanyak 19 operasi yustisi digelar di lokasi rawan seperti tempat hiburan malam, indekos, terminal, hingga area parkir, yang berhasil menjaring 9 penyalahguna.
Pendekatan BNN tidak semata represif. Melalui program Asesmen Terpadu, sebanyak 135 orang menjalani proses penilaian medis dan hukum, jauh melampaui target awal 40 orang.
Program ini bertujuan menentukan apakah seseorang layak direhabilitasi atau diproses hukum lebih lanjut.
Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Solo Tinggi, Begini Penjelasan Kepala BNN Kota Surakarta https://t.co/80gIhbmk0J
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) January 1, 2026
BNN Kota Surakarta menegaskan bahwa rehabilitasi menjadi kunci memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba.
Tak hanya pemulihan medis, para penyintas juga dibekali pelatihan keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi.
“Kita tidak ingin mereka kembali terjerumus karena tidak punya pekerjaan. Maka pascarehabilitasi, kita dampingi dengan pelatihan,” pungkas Kombes Pol Ventie. //Sik
