TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

Menghidupkan Kembali Warisan Literasi Pesantren, ISI Solo Gelar Pameran Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong

Seni kaligrafi yang dibuat di atas kertas Gendhong

WARTAJOGLO, Ngawi - Upaya melestarikan kembali kejayaan literasi pesantren Jawa memasuki babak baru. 

Para dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menggelar Pameran Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong.

Ini adalah sebuah momentum penting yang menandai tahapan akhir program pengabdian kepada masyarakat bertema “Revitalisasi Kertas Tradisional Gendhong: Penerapan Inovasi Cetak Serat sebagai Media Seni Kaligrafi pada Komunitas Askya sebagai Penguatan Tradisi Literasi Pesantren.”

Pameran tersebut diselenggarakan di tiga lokasi yakni Pondok Gontor Putra Ponorogo, Pondok Gontor Putri Ngawi, dan Komunitas Askya di Ngawi pada Rabu–Sabtu (26–29/11). 

Acara ini menjadi penanda kembalinya sebuah tradisi besar yang sempat tenggelam, yakni tradisi pembuatan kertas Gendhong, media tulis khas yang pernah menghidupi praktik penyalinan manuskrip di pesantren Tegalsari pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20.

Program revitalisasi ini berangkat dari kekhawatiran akan memudarnya jejak produksi kertas Gendhong berbasis serat glugu. 

Di tengah derasnya arus modernisasi, komunitas kaligrafi pesantren kini lebih mengandalkan kertas industri, padahal leluhur pesantren memiliki tradisi material yang sangat kaya.

“Kertas Gendhong bukan hanya media tulis, tetapi warisan intelektual pesantren yang membentuk tradisi keilmuan Islam di Jawa. Revitalisasi ini menghubungkan kembali praktik artistik santri dengan sejarah literasi Nusantara,” ujar Gayuh Styono, S.Sn., M.Sn., Ketua Tim PISN ISI Solo.

Gayuh menegaskan bahwa penelitian tim sebelumnya telah membuktikan potensi teknik cetak serat glugu untuk menghasilkan kertas yang kokoh, stabil, dan layak menjadi media karya seni kelas pameran.

Program ini juga merupakan tindak lanjut dari dua karya cipta riset tim ISI Solo yaitu Rerenggan Pinandito Nggayuh Lintang Material Kertas Gedhog (EC002024211339) serta Seni dan Budaya Tradisi dalam Perspektif Ekonomi Kreatif (EC00202473413).

Pameran hanyalah puncak dari proses pendampingan yang berlangsung intensif. Program pengabdian ini melalui enam tahapan utama:

  • Sosialisasi dengan Komunitas Askya di Dusun Bulu, Ngawi.
  • Pelatihan produksi kertas Gendhong, mempraktikkan inovasi cetak serat glugu.
  • Pelatihan sosial dan praktik kaligrafi, termasuk etika dan nilai penggunaan media tradisi pesantren.
  • Lokakarya seni kaligrafi, di mana peserta menulis karya di atas kertas buatan mereka sendiri.
  • Pendampingan kelompok kreatif kaligrafi pesantren, termasuk penguatan jejaring.
  • Pameran karya, yang digelar di Ngawi, Gontor Putri Mantingan, dan Pondok Modern Darussalam Gontor.

Evaluasi tim menunjukkan hasil menggembirakan: terdapat peningkatan kapasitas produksi dan kualitas karya kaligrafi dari para peserta. 

Inovasi kertas Gendhong terbukti mampu menjadi media yang kuat, tahan lama, dan selaras dengan nilai kesakralan tulisan kaligrafi.

Pameran menampilkan 20 karya kaligrafi berbahan kertas Gendhong inovasi, disandingkan dengan karya pemenang lomba khot kaligrafi dalam rangka 100 Tahun Gontor. 

Seluruh karya merupakan hasil proses panjang pembelajaran yang menggabungkan nilai spiritual pesantren dan inovasi seni kontemporer.

Tulisan kuratorial disusun oleh Aghni Ghofarun Auliya, S.Sn., alumni Gontor dan ISI Solo. 

Ia menegaskan bahwa karya-karya ini adalah bentuk kolaborasi lintas unsur dari pesantren, akademisi, komunitas, dan masyarakat, untuk menghidupkan kembali material yang dahulu menjadi fondasi literasi Islam Jawa.

Pameran ini juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Syeikh Belaid Hamidi dari Maroko, menambah bobot akademis sekaligus spiritual bagi kegiatan tersebut.

Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara Kemendiktisaintek, ISI Surakarta, Pondok Pesantren Yukminuuna Bil Ghoibi, serta Markaz Khot Pondok Modern Darussalam Gontor Putra dan Putri.

Lebih dari sekadar pelestarian budaya, revitalisasi kertas Gendhong membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi kreatif berbasis tradisi pesantren. 

Kertas Gendhong yang dihasilkan melalui inovasi cetak serat kini terbukti memiliki kualitas setara media seni profesional.

Melalui kolaborasi yang erat antara akademisi, santri, komunitas, dan pesantren, program ini menjadi model pelestarian budaya yang adaptif, tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga mempersiapkannya untuk hidup kembali di masa depan. //Bang

Type above and press Enter to search.