![]() |
| Ilustrasi terapi pada penderita stroke |
WARTAJOGLO, Solo - Stroke hingga kini masih menjadi momok serius di dunia kesehatan. Angkanya tidak hanya tinggi, tetapi juga membawa dampak panjang berupa kecacatan yang menggerus kualitas hidup penderitanya.
Fakta inilah yang kembali ditegaskan oleh Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam pengukuhan Prof. Dr. Umi Budi Rahayu, SSTFT., M.Kes., sebagai Guru Besar Bidang Kepakaran Fisioterapi Neuromuscular.
Dalam jumpa pers pengukuhan Guru Besar UMS yang digelar Senin 19 Januari 2026, Prof. Umi mengangkat tema “Neurorestorasi Pasca Stroke: Strategi Fisioterapi untuk Mengoptimalkan Fungsi Motorik”.
Tema ini bukan tanpa alasan, mengingat stroke masih menjadi masalah kesehatan global yang belum terselesaikan.
“Stroke merupakan penyebab kematian kedua setelah penyakit jantung iskemik dan menjadi penyebab utama kecacatan di seluruh dunia,” ungkap Prof. Umi.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 10–12 persen kematian di negara-negara timur disebabkan oleh stroke, dengan mayoritas penderitanya berusia di atas 65 tahun.
Ironisnya, lebih dari 80 persen kasus merupakan stroke iskemik, yang terjadi akibat terganggunya suplai darah ke otak.
Kondisi ini sangat berbahaya. Prof. Umi menjelaskan, ketika aliran darah ke otak turun hingga di bawah 10 ml per 100 gram jaringan otak per menit, kerusakan sel saraf dapat terjadi hanya dalam waktu 6–8 menit.
Kekurangan oksigen dan glukosa membuat metabolisme sel saraf terganggu, memicu kematian neuron, dan berujung pada gangguan fungsi motorik yang sering kali bersifat permanen.
Di tengah tingginya kasus dan dampak stroke tersebut, Prof. Umi memperkenalkan pendekatan neurorestorasi sebagai harapan baru dalam pemulihan pasien.
Neurorestorasi merupakan upaya pemulihan saraf melalui mekanisme regenerasi alami tubuh, seperti neurogenesis, angiogenesis, dan oligodendrogenesis, yang bertujuan memperbaiki jaringan saraf yang rusak.
Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah neurorestorasi berbasis pembelajaran motorik.
Menurut Prof. Umi, pembelajaran motorik bukan sekadar latihan biasa, melainkan proses terstruktur yang mampu menghasilkan perubahan permanen dalam kemampuan gerak pasien.
Proses ini melalui tahapan kognitif, asosiatif, hingga otomatis, sehingga pasien dapat kembali bergerak secara lebih terampil dan mandiri.
Pendekatan ini juga memicu neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi saraf baru.
“Neuroplastisitas memperkuat sinapsis dan sirkuit saraf, sehingga sangat berpengaruh terhadap pemulihan fungsi motorik pasca stroke,” jelasnya.
Menariknya, Prof. Umi menekankan bahwa proses neurorestorasi idealnya dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak 1–2 hari setelah serangan stroke, selama kondisi pasien memungkinkan.
Intervensi dini diyakini mampu memperkuat perubahan seluler dan molekuler yang mendukung pemulihan fungsi saraf.
Salah satu indikator penting dalam proses ini adalah Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), protein yang berperan besar dalam plastisitas kortikal.
BDNF memengaruhi pertumbuhan akson, plastisitas sinapsis, serta perbaikan fungsi saraf. Melalui jalur TrkB, BDNF juga berkontribusi dalam meningkatkan regenerasi saraf, fungsi kognitif, dan memori, sekaligus menekan inflamasi serta kematian sel saraf.
Sebagai Dekan FIK UMS, Prof. Umi tak hanya berhenti pada tataran teori. Ia mengembangkan panduan intervensi fisioterapi berbasis pembelajaran motorik dalam Pedoman TIDieR yang diterapkan pada fase early mobilization atau 1–2 × 24 jam pasca stroke. Program ini dirancang bertahap, terstruktur, dan sistematis.
Hasil risetnya menunjukkan pendekatan tersebut mampu meningkatkan ekspresi BDNF serta efektif memperbaiki keseimbangan dan kemampuan fungsional pasien stroke.
Temuan ini telah dibukukan dalam karya berjudul Fisioterapi Pasca Stroke: Pendekatan Pembelajaran Motorik (ISBN: 978-634-01-0446-2) yang diterbitkan oleh Deepublish.
Untuk semakin meningkatkan efektivitas rehabilitasi, Prof. Umi bersama tim juga mengembangkan inovasi alat Personal Balance Feedback (PBF).
Alat ini dirancang sejak 2022 dan berfungsi sebagai alat deteksi sekaligus terapi gangguan keseimbangan pasca stroke.
Dengan sistem sensor dan umpan balik real time, PBF membantu pasien memahami dan memperbaiki tumpuan serta stabilitas tubuh saat berdiri.
PBF telah mengantongi sertifikat paten sederhana dan terbukti memiliki validitas serta reliabilitas sangat tinggi, dengan nilai Intraclass Correlation Coefficient (ICC) di atas 0,9.
Uji klinis di berbagai rumah sakit menunjukkan alat ini efektif memperbaiki keseimbangan pasien pasca stroke.
Kasus Stroke Masih Tinggi, Pakar Fisioterapi UMS Tekankan Pentingnya Neurorestorasi Dini https://t.co/APcainGeHT
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) January 19, 2026
Melalui riset dan inovasi tersebut, Prof. Umi berharap kontribusinya dapat menjawab tantangan tingginya kasus stroke yang masih terjadi hingga kini.
“Kami ingin hasil riset ini tidak hanya berhenti di jurnal, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat luas,” pungkasnya. //Her
