TfG6TUW8BUO7GSd6TpMoTSd7GA==
,, |

Headline News

AVATRA Tembus Pameran Internasional, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Angkat Batik ke Dunia Metaverse

Gilbert Gohnarso bersama hasil karyanya

WARTAJOGLO, Solo - Kabar membanggakan datang dari Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia Surakarta. 

Salah satu mahasiswanya, Gilbert Gohnarso (angkatan 2023), berhasil lolos kurasi dalam ajang International Art & Design Exhibition METAVERSE.

Acara ini digelar di Galeri Seni Puncak A & B, Fakulti Seni Lukis & Seni Reka, Universiti Teknologi MARA (UiTM) Puncak Alam, Malaysia, pada 12 Februari hingga 12 Maret 2026.

Pameran internasional ini merupakan hasil kerja sama Fakulti Seni Lukis & Seni Reka UiTM Puncak Alam dengan Universitas Pendidikan Indonesia, dan menampilkan sekitar 120 karya dari berbagai negara peserta. 

Keberhasilan Gilbert menembus kurasi menjadi bukti peningkatan kompetensi mahasiswa DKV ISI Surakarta melalui partisipasi aktif di forum seni global.

Karya Gilbert berjudul AVATRA, sebuah ilustrasi digital yang dikerjakan menggunakan teknik digital illustration dan generative visual. 

Ia mengusung pendekatan eksploratif dengan menggabungkan unsur budaya tradisional dan estetika futuristik.

Dalam rilisnya, Gilbert menjelaskan bahwa proses kreatifnya diawali dari riset mendalam terhadap motif batik Nusantara.

“Proses dimulai dari pengembangan konsep dan riset visual terhadap motif batik Nusantara, yang kemudian diolah ulang secara digital menjadi pola, tekstur, dan elemen cahaya,” tulis Gilbert.

Figur utama dalam karya tersebut berupa avatar digital yang dirender dengan detail anatomi wajah yang kuat, menyerupai entitas virtual di ruang metaverse. 

Motif batik tidak sekadar ditempel sebagai ornamen, tetapi diolah melalui teknik layering, compositing, serta glowing effect sehingga menghadirkan kesan data visual dan energi cahaya digital.

Di bawah bimbingan dosen DKV ISI Surakarta, Basnendar Herry Prilosadoso, Gilbert juga memanfaatkan elemen warna neon, partikel, serta latar berbasis grid dan cahaya untuk memperkuat nuansa ruang virtual. 

Pendekatan ini memadukan ilustrasi digital, manipulasi visual, dan eksplorasi estetika futuristik dalam satu kesatuan visual yang utuh.

Judul AVATRA berasal dari kata avatar digital, yang dimaknai sebagai perwujudan identitas manusia di ruang metaverse. 

Dalam karyanya, Gilbert mentransformasikan batik menjadi pola cahaya dan struktur digital yang menyatu dengan figur manusia virtual.

“Dalam karya ini, batik tidak hanya diposisikan sebagai ornamen tradisional, tetapi ditransformasikan menjadi pola cahaya, data visual, dan struktur digital yang menyatu dengan figur manusia virtual,” jelasnya.

Menurutnya, proses tersebut mencerminkan pergeseran budaya dari yang bersifat fisik dan historis menuju bentuk baru yang imaterial, interaktif, dan futuristik.

Melalui visual AVATRA, Gilbert ingin menegaskan bahwa budaya tidak bersifat statis. Batik sebagai warisan leluhur dapat terus hidup dan berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

“Karya ini menjadi jembatan antara masa lalu, identitas masa kini, dan imajinasi masa depan kreatif dalam ekosistem metaverse,” ungkapnya.

Selain menjadi capaian personal, partisipasi Gilbert juga terkait dengan program mobilitas internasional yang sedang ia jalani. 

Mahasiswa asal Medan itu tengah mengikuti program Asian International Mobility for Students (AIMS) melalui Inbound Exchange Program Semester Oktober 2025 di UiTM Malaysia.

Baginya, pengalaman berpameran di forum internasional bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga ruang dialog lintas budaya.

“Harapannya, melalui karya ini saya dapat menjadi bagian dari dialog yang lebih luas di ranah seni internasional, mempertemukan beragam perspektif, serta mendorong pertukaran gagasan lintas budaya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi pijakan penting untuk pengembangan praktik berkarya yang lebih matang dan berkelanjutan di masa depan. //Bnag

Type above and press Enter to search.