![]() |
| Ketua panitia Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama sedang menjelaskan konsep acara di hadapan awak media |
WARTAJOGLO, Solo – Tradisi tahunan Grebeg Sudiro kembali hadir tahun ini dengan skala yang semakin besar dan konsep yang semakin matang.
Mengusung tema “Menjaga dan Menghargai Warisan Budaya Sambil Hidup Berdampingan Secara Harmonis di Tengah Perkembangan Zaman”, Grebeg Sudiro 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga wahana edukasi, pariwisata, hingga penggerak ekonomi masyarakat.
Grebeg Sudiro merupakan agenda budaya yang telah digelar secara konsisten sejak 2008 oleh warga Kelurahan Sudiroprajan, bekerja sama dengan Klenteng Tien Kok Sie dan kawasan Pasar Gede.
Selama 17 tahun penyelenggaraan, Grebeg Sudiro telah menjadi simbol kuat pembauran budaya Jawa dan Tionghoa yang khas di Kota Solo.
Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama, menegaskan bahwa Grebeg Sudiro bukan sekadar festival, melainkan ruang perjumpaan lintas budaya yang tumbuh dari masyarakat.
“Grebeg Sudiro adalah cermin bagaimana keberagaman bisa hidup berdampingan secara harmonis. Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat. Inilah kekuatan utama Grebeg Sudiro yang terus kami jaga,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kleurahan Sudiroprajan pada Selasa 3 Februari 2026.
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Grebeg Sudiro. Event ini tercatat telah tiga kali berturut-turut masuk Karisma Event Nusantara (KEN) dan bahkan berhasil menembus Top 10 Event Provinsi Jawa Tengah pada 2024 dan 2025.
Menariknya, Grebeg Sudiro menjadi satu-satunya event tingkat kelurahan yang mampu meraih capaian tersebut melalui pengelolaan swakelola masyarakat.
Menurut Arsya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kekuatan budaya lokal mampu bersaing di tingkat nasional.
“Masuknya Grebeg Sudiro ke KEN bukan hanya prestasi panitia, tapi prestasi warga Sudiroprajan. Ini membuktikan bahwa budaya lokal jika dikelola dengan serius bisa mendapat pengakuan nasional,” katanya.
Grebeg Sudiro 2026 akan diisi berbagai agenda utama, antara lain Umbul Mantram, Karnaval Budaya, Wisata Perahu Hias Kali Pepe, Festival Kuliner Pembauran, Bazar UMKM, Showdratari Kreasi Baru, hingga Semarak Heritage in Harmony.
Karnaval Budaya yang dijadwalkan pada 15 Februari 2026 menjadi salah satu magnet utama.
Tahun ini, Grebeg Sudiro menghadirkan hal baru dengan melibatkan mahasiswa mancanegara dari berbagai negara seperti Pakistan, Suriah, Malawi, Nigeria, Tanzania, Sudan, India, Jepang, Timor Leste, dan Thailand.
Selain itu, akan ditampilkan Sendratari Kolosal bertajuk “Sudiroprajan Ngumandang”, yang menggambarkan perjalanan sejarah dan pembauran budaya Jawa–Tionghoa, dikoreografikan oleh Nur Diatmoko dan melibatkan masyarakat serta lembaga pendidikan di Surakarta.
“Keterlibatan peserta mancanegara menjadi simbol bahwa nilai harmoni yang tumbuh di Sudiroprajan bersifat universal dan bisa diterima oleh siapa pun,” tutur Arsa.
Berdasarkan data panitia, Grebeg Sudiro 2025 berhasil menarik 434.500 pengunjung. Pada 2026, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 650.000 pengunjung, dengan dominasi wisatawan domestik dan partisipasi pengunjung mancanegara.
Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, Grebeg Sudiro juga memberi kontribusi signifikan terhadap perekonomian.
Perputaran ekonomi dari sektor UMKM, kuliner, parkir, hingga produksi event diproyeksikan mencapai miliaran rupiah, terutama melalui keterlibatan ratusan pelaku usaha lokal.
Digelar dengan Skala Lebih Besar, Grebeg Sudiro 2026 Hadirkan Peserta dari 10 Negara di Dunia https://t.co/ZPQOM7xTzG
— 🇼🇦🇷🇹🇦🇯🇴🇬🇱🇴 (@wartajoglo) February 4, 2026
“Kami ingin Grebeg Sudiro memberi manfaat nyata, tidak hanya secara budaya, tetapi juga ekonomi. UMKM, seniman, hingga warga sekitar harus ikut merasakan dampaknya,” pungkas Arsa. //Bang
